Saat Taman Tegak Meraja 1
Taman dinding di teras belakang rumah menciptakan suasana asri dan sejuk

Taman dinding di teras belakang rumah menciptakan suasana asri dan sejuk

Asri, hijau, dan segar.

Teras belakang rumah tempat favorit bagi Faik Fahmi. Ketika libur dari kesibukannya sebagai direktur di sebuah maskapai penerbangan nasional, ia bersantai sembari menikmati secangkir teh di sana. Tempatnya memang amat nyaman. Panorama alam terasa sangat kental dengan tambahan aksesori meja dan kursi kayu sehingga cocok untuk melepas lelah. Kicauan burung gereja yang singgah membuat suasana semakin asyik. Sesekali, ia menebar pakan agar kawanan burung yang singgah bertambah banyak.

“Berada di teras belakang rumah bagai di alam terbuka,” kata Fahmi. Itu karena kehadiran taman dinding berukuran 44 m2 sehingga suasana sejuk layaknya di pegunungan. Beragam tanaman seperti puring Codiaeum sp, paku-pakuan Nephrolepis sp,  walisongo Schefflera sp, Philodendron sp,  dan Dracaena sp. muncul dari permukaan dinding. Di bawah taman berjejer beberapa pot anthurium, zamia, dan bonsai.

Taman dinding itu berhadapan langsung dengan teras dan ruang makan. Keduanya hanya dipisahkan oleh jendela dan pintu kaca berbingkai kayu sehingga penghuni rumah bebas menatap taman dinding saat jamuan makan. Panorama itu kian molek dengan hamparan rumput gajah mini, kolam renang mungil, dan saung tepat di sisi kiri taman dinding.

Faik Fahmi senang bersantai di teras belakang rumah sembari menikmati panorama taman dinding

Faik Fahmi senang bersantai di teras belakang rumah sembari menikmati panorama taman dinding

Suhu Turun

Fahmi menuturkan taman dinding itu sejatinya benteng rumah. “Sebelum berselimut taman, mulanya hanya tembok putih sehingga terkesan panas dan kaku,” katanya. Padahal, ia dan keluarga menyukai udara sejuk. Pria kelahiran Purbalingga, Jawa tengah, itu tertarik menghias tembok dengan taman tegak tatkala teringat kenangan saat menetap di Tokyo, Jepang. “Di sana sejumlah rumah, apartemen, dan perkantoran ramai menggunakan taman tegak,” katanya.

Fahmi membangun taman dinding pada Oktober 2013. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu mengusung konsep alam liar sehingga tanaman yang dipilih dominan hijau. “Sejak adanya taman dinding, suhu ruangan di sekitar taman menjadi 2ºC lebih dingin,” tuturnya. Dampaknya, penggunaan pendingin ruangan pun berkurang sehingga menghemat pemakaian listrik. Produksi oksigen pun lebih banyak sehingga udara lebih segar. Pantas, bila Fahmi betah berlama-lama berada di sana.

Pemilik taman dinding biasanya menempatkan taman itu di ranah pribadi seperti kolam renang untuk dinikmati keindahannya sebagai sebuah karya seni

Pemilik taman dinding biasanya menempatkan taman itu di ranah pribadi seperti kolam renang untuk dinikmati keindahannya sebagai sebuah karya seni

Menurut Dr Ir Nizar Nasrullah MAgr, dosen di Departemen Arsitektur Lansekap, Institut Pertanian Bogor, salah satu fungsi tanaman adalah melembutkan iklim dengan memberikan naungan dari sinar matahari, memodifikasi suhu, menambah kelembapan udara, serta menahan angin. “Dengan cara itu ruangan menjadi nyaman dan memberikan rasa segar bagi semua orang,” tutur Nizar.

Grace Natalia—nama samaran—di Permata Hijau, Jakarta Selatan, juga senang menghabiskan waktu di halaman belakang rumah. Di sana ia biasa berenang sembari memandang taman dinding berukuran 18 m x 3,8 m. “Rasanya seperti berenang di alam,” katanya. Lili paris, begonia, philodendron, calathea, dan kadaka bagai tumbuh alami di permukaan dinding. Yang membuat Grace senang, ia dapat menyelipkan soka tanaman kesukaannya di taman itu. Dengan begitu, saat berenang ia dapat memandang bunga soka berwarna merah yang menyembul di antara rerimbunan daun.

Baca juga:  Vanili dari Sabut

Bagi wanita karier seperti Grace, taman dinding adalah solusi untuk memiliki taman luas tanpa meluangkan waktu khusus untuk merawat. “Taman dinding itu bekerja otomatis,” katanya. Penyiraman dilakukan setiap 4 jam menggunakan sistem tetes. Sementara pemupukan setiap pekan. Air dan pupuk mengalir melalui pipa yang terpasang di bagian atas rangka taman. Pipa itu terhubung dengan pompa air yang memiliki pengukur waktu otomatis. Pompa mengalirkan air selama 20 detik. Dengan sistem itu Grace tidak khawatir, taman dinding bakal kekurangan air dan nutrisi.

Salah satu sudut taman dinding di Mal Summarecon Serpong

Salah satu sudut taman dinding di Mal Summarecon Serpong

Tren      

Menurut Sonny Gunawan, pemilik taman vertikal V-ga (vega, red), kini taman dinding menjadi tren di masyarakat perkotaan seperti Jakarta, Denpasar, dan Semarang. “Taman dinding dapat dijumpai di kediaman, restoran, gedung, dan pusat perbelanjaan,” tuturnya. Bahkan di Singapura, taman dinding menjadi euforia. Singapura memang bercita-cita menciptakan ruang hijau lebih banyak dibanding bangunan. “Taman dinding menjadi pilihan warga di negeri singa sebab lahan terbuka yang dimiliki sangat minim,” kata Sonny.

Di tanahair, taman dinding baru menjangkau lapisan masyarakat menengah ke atas sebab membutuhkan biaya cukup tinggi. Maklum, proses pembuatan taman vertikal itu tergolong rumit. Perancang harus memperhatikan betul mulai dari konstruksi bangunan, desain dan rangka taman, pemilihan tanaman, hingga sistem penyiraman. Tingginya biaya yang dikeluarkan oleh konsumen terbayar dengan lahirnya sebuah taman dinding nan elok. Buktinya, meski mahal permintaan taman vertikal yang masuk ke V-ga meningkat 20% setiap tahun.

Dua buah taman dinding mengapit layar raksasa di Mal Summarecon Bekasi

Dua buah taman dinding mengapit layar raksasa di Mal Summarecon Bekasi

Perancang taman dinding dari Technogardening, Wawan Abi SP menuturkan sejak 2010, taman dinding memang naik daun. “Pada 2013 saja kami menangani 8 taman dinding di sejumlah rumah, padahal baru awal berdiri,” katanya. Konsep taman dinding sesungguhnya sebuah karya seni. Konsumen yang menginginkannya biasanya menempatkan pada ranah privasi seperti halaman belakang, kolam renang, atau ruang santai.

“Oleh karena itu komunikasi antara perancang dan konsumen mengenai desain taman harus lancar,” ujarnya. Harapannya, pola taman yang terbentuk sesuai selera. Menurut Wawan pemilihan jenis tanaman juga penting. Ia memilih tanaman tahunan, bukan semusim agar tahan lama. “Yang paling ideal adalah golongan paku-pakuan, sukulen, dan tanaman rambat,” katanya. Penggantian jenis tanaman bisa dilakukan jika ada tanaman yang mati atau pemilik sudah bosan.

Taman dinding mewah Mal Trans Studio

Taman dinding mewah Mal Trans Studio

Iwan Wirawan, konsultan taman di Kota Bandung, Jawa Barat, menuturkan taman dinding memiliki beragam model di antaranya panel plastik, pot gantung, dan kantong. Pada panel plastik, tanaman dibungkus kain geotekstil berisi media tanam ringan lalu diletakkan pada lubang panel yang melekat pada rak besi. Adapun model pot gantung, seluruh tanaman ditanam pada pot berisi media tanam yang digantung pada rangka besi. Teknik itu memudahkan rotasi tanaman. Namun, rangka besi mudah berkarat sehingga mengganggu keindahan taman. Selain itu, bobot media yang tidak pas dapat membuat rangka roboh.

Sementara untuk model kantong, perancang memakai dua lapis kain geotekstil yang direkatkan pada rangka baja ringan. Tanaman dan media tanam berupa serbuk sabut kelapa atau rockwool disematkan ke dalam kantong yang dibuat pada kain setebal 6 mm itu. Dengan teknik kantong tanaman seperti menyatu dengan bangunan. Geotekstil juga tidak banyak menyimpan air sehingga tidak merusak dinding. “Model yang digunakan sebaiknya dilengkapi dengan sistem irigasi otomatis untuk menjamin pertumbuhan tanaman,” katanya.

Pilar-pilar di lobi utama Plaza Grand Galaxy atraktif dengan hadirnya taman dinding

Pilar-pilar di lobi utama Plaza Grand Galaxy atraktif dengan hadirnya taman dinding

Menurut Rizki Syahrazi, manajer pemasaran PT Godong Ijo Asri—salah satu perusahaan pelopor taman dinding—kini taman dinding sudah semakin akrab di telinga masyarakat. Permintaan taman dinding di Godong Ijo pun meningkat hingga 70% setiap tahun. Beberapa konsumen juga berpartisipasi mendesain atau memilih jenis tanaman. “Padahal, ketika pertama kali menangani taman dinding, kami harus menjelaskan definisi dan fungsi taman tegak itu. Selain itu, konsumen hanya mau dindingnya asal hijau saja,” kata Rizki. Oleh karena itu, Godong Ijo menyediakan 60 jenis tananaman yang bisa dipilih oleh konsumen.

Baca juga:  Berburu Durian Bintang

Tempat Umum

Sarana publik seperti tempat perbelanjaan juga menyediakan taman dinding. Ketika memasuki lobi utama Mal Summarecon Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pengunjung dimanjakan dedaunan hijau yang menempel di permukaan dinding sejumlah restoran bergaya Eropa. Di taman dinding seluas 1.272 m2 itu terdapat beragam tanaman seperti pakis kelabang Nephrolepis exaltata, ivy Hedera helix, cocor becek Kalanchoe pinnata, dan sirih gading Scindapsus aureus.

Taman tegak di kawasan Tugu Tani, Kemang, Jakarta Pusat, meneduhkan jalur pejalan kaki

Taman tegak di kawasan Tugu Tani, Kemang, Jakarta Pusat, meneduhkan jalur pejalan kaki

Ratusan meja dan kursi  yang ditata apik di antara ruang terbuka menciptakan sensasi berada di alam tropis. Suasana serupa juga bisa ditemukan di Mal Summarecon Bekasi, Bekasi, Jawa Barat. Begitu memasuki lobi utama, dua buah taman tegak terlihat mengapit sebuah layar televisi raksasa. Dinding-dinding restoran semakin atraktif berhiaskan dedaunan hijau. “Ini pengalaman menyenangkan berbelanja sambil menikmati pemandangan hijau,” kata Pauline Daryana, seorang pengunjung. Taman dinding memang menjadi daya tarik tinggi bagi pengunjung pusat-pusat perbelanjaan.

Di Kota Bandung, Jawa Barat, sebuah taman vertikal nan mewah dapat dinikmati oleh pengunjung Mal Trans Studio dan Hotel Trans Luxury. Penampilan taman cukup apik dengan perpaduan warna hijau, merah, dan jingga. Aneka warna itu hadir dari aneka jenis tanaman seperti bromeliad, syngonium, dan philodendron. Perancang juga menyelipkan beberapa ipomoea di beberapa bagian untuk mempercantik warna taman.

Taman dinding juga tampak menghiasi pilar-pilar raksasa di halaman depan Grand Galaxy Plaza di Kota Bekasi. Meski hanya beratap langit, halaman plaza tetap asri. Sebab pengelola meletakkan sejumlah tanaman taman seperti palem-paleman, heliconia, dan kamboja. Bandara Udara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, pun mempercantik diri dengan menutup tiang-tiang besi di pintu masuk keberangkatan.

Kawasan publik lain yang menghadirkan taman tegak adalah kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Taman tegak melindungi pejalan kaki dari terik matahari dan menciptakan suasana asri. Menurut Baginda Simatupang, pengurus Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI), pemicu taman dinding naik pamor yakni ruang terbuka hijau yang semakin sempit, terutama di perkotaan. “Tren saat ini adalah taman mini berukuran 2 m x 3 m dan taman dinding,” katanya. Kehadiran taman tegak itu membuat lingkungan sekitar asri, hijau, dan sejuk. (Andari Titisari/Peliput: Rizky Fadhillah)

Taman dinding tetap molek, meski di dalam ruangan

Taman dinding tetap molek, meski di dalam ruangan

Sonny Gunawan, pemilik taman vertikal V-ga menuturkan taman dinding pun dapat dibuat di ruangan, seperti ruang tamu atau ruang keluarga. Taman dinding di dalam ruangan membutuhkan lampu berdaya 150—400 watt tergantung luas taman. Lama penyinaran diatur menggunakan timer. “Apabila lampu matahari mengganggu tata cahaya interior, maka bisa dinyalakan saat tidak ada aktivitas di ruang itu, misalnya tengah malam,” kata Sonny.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *