Mangga miyazaki yang terkenal di Jepang berbuah di Indonesia.

Henda M Suhenda girang karena memanen mangga miyazaki di kebun miliknya di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Miyazaki menjadi perbincangan hangat penggemar mangga dunia.

“Cita rasa manis dan aroma khas mangga yang kuat sama dengan miyazaki yang dibudidayakan di Jepang. Sementara warna kulit buah kurang pekat ketimbang miyazaki yang tumbuh di Jepang,” kata Ketua Ikatan Alumni Magang Jepang (IKAMAJA), itu.

Henda M Suhenda membudidayakan mangga miyazaki dari mata tunas asal Jepang pada 2012
Henda M Suhenda membudidayakan mangga miyazaki dari mata tunas asal Jepang pada 2012

Penangkar buah di Indramayu, Urip Ibrahim, yang mencicipi miyazaki asal Majalengka itu mengatakan tekstur daging buah lembut, tanpa serat, dan beraroma. Namun cita rasanya belum semanis arumanis. Menurut Urip miyazaki merupakan mangga paling fenomenal 3—5 tahun terakhir lantaran berharga fantastis ketika lelang.

Budidaya mangga miyazaki

Henda mendatangkan mangga itu dalam bentuk 6 mata tunas pada pengujung 2012. Henda lalu menempelkan mata tunas miyazaki ke batang bawah mangga arumanis. Hasil perbanyakan vegetatif itu dua bibit tumbuh dan dibawa ke Kementerian Pertanian, 3 bibit tumbuh subur dan berbuah di Majalengka, dan satu bibit mati.

Henda memindahkan bibit mangga itu ke lahan ketika berumur 8 bulan pascatempel atau bibit setinggi 60 cm. Pria kelahiran Majalengka itu membuat lubang tanam berbentuk kotak berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.

Kemudian Henda memasukkan pupuk kandang kambing hingga memenuhi 30% lubang tanam dan mendiamkannya sepekan. Pemberian ½ kg NPK dan ¼ kg TSP per pohon ketika tanaman berumur setahun ketika awal musim hujan. Selain itu ia juga membenamkan 3 kg pupuk kotoran kambing per pohon.

Menurut Henda teknik budidaya itu sederhana. Sangat berbeda dengan budidaya intensif di Jepang yang mengandalkan pupuk mahal dan pembungkusan buah agar bermutu prima.

Baca juga:  Pekebun Mangga Arumanis Termahal

Musababnya ia ingin mengetahui penampilan mangga fenomenal itu ketika ditanam di tanah air, terutama di Majalengka. Henda menyeleksi buah ketika seukuran bola pimpong. Ia hanya memilih pentil buah sehat dan normal dan mempertahankan 2—3 buah per dahan.

Agar pertumbuhan buah maksimal ia juga memangkas daun dan ranting tidak produktif. Dua tahun pascatanam miyazaki berbuah perdana.

“Panenan pertama hanya sekitar 5 buah per pohon, panenan tahun kedua 14 buah per pohon, dan pada tahun ketiga saya memanen sekitar 30 buah per pohon,” kata pria berumur 53 tahun itu.

Bobot rata-rata mangga miyazaki produksi Henda 700 g per buah. Dari tiga pohon yang ia pelihara, hanya satu yang berbuah maksimal. Satu pohon hanya berbuah sekali dan sisanya belum berbuah hingga kini. Pohon yang belum berbuah berlokasi di lahan sawah.

rip Ibrahim bekerja sama dengan Henda M Suhenda memperbanyak bibit mangga miyazaki
rip Ibrahim bekerja sama dengan Henda M Suhenda memperbanyak bibit mangga miyazaki

Kini Henda bekerja sama dengan Urip untuk membudidayakan miyazaki di dataran rendah. Harap mafhum, kebun miyazaki milik Henda berlokasi di tempat berlevasi 600 meter di atas permukaan laut (m dpl). Selain itu, ia juga memperbanyak tanaman yang sudah berbuah tiga kali itu dengan okulasi. “Sudah ada sekitar 600 bibit okulasi setinggi 20 cm,” kata pria kelahiran 10 Oktober 1964 itu. (Bondan Setyawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments