Istana Bogor di Kebun Raya Bogor, jadi tujuan wisata di Bogor

Istana Bogor di Kebun Raya Bogor, jadi tujuan wisata di Bogor

Kendaraan hias menyemarak-kan jantung Kota Bogor pada 12 Oktober 2014.

Semarak bunga itu bagian gelaran Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) yang berlangsung pada 10—12 Oktober 2014. Demi menghelat acara bertema “Rantai Pasokan” itu, Institut Pertanian Bogor menggandeng Pemerintah Kota Bogor. FBBN II mendatang bertepatan dengan hari ulang tahun ke-51 Institut Pertanian Bogor merupakan penyelenggaraan yang ke-6. Acara itu akan menjadi even rutin tahunan untuk menarik minat wisatawan.

Acara utama Festival Bunga dan Buah Nusantara berpusat di Kampus Baranangsiang. Selain mengajak Pemerintah Kota Bogor perguruan tinggi itu juga menggandeng beberapa Badan Usaha Milik Negara seperti PT Perkebunan Nusantara VIII, PT Telekomunikasi Indonesia, dan bank-bank pelat merah seperti BNI 46 dan BRI. Selain itu FBBN II pun melibatkan Kebun Raya Bogor (KRB), yang bersinggungan langsung dengan episentrum acara.

Dr. Bima Arya, “Green City dan urban farming dua program pemerintah menunjang Bogor sebagai kota wisata

Dr. Bima Arya, “Green City dan urban farming dua program pemerintah menunjang Bogor sebagai kota wisata

Wajar, KRB ikon Kota Bogor yang sohor hingga mancanegara. Taman seluas 97 ha itu dipenuhi 15.000 pohon aneka jenis dari penjuru dunia. Pohon berumur ratusan tahun kokoh membentuk hutan tropis di tengah kota Bogor. Hutan mini itu sekaligus menyerap air hujan yang mencapai 3.500—4.400 mm per tahun. Turis mancanegara belum afdol datang ke Indonesia, bila belum menginjakkan kaki di Kebun Raya Bogor.

Potensi Bogor

Citra legendaris KRB itu pula yang digarap Pemerintah Kota Bogor. Walikota Bogor, Dr Bima Arya Sugiarto, mencanangkan Bogor sebagai kota hijau, salah satunya lantaran keberadaan KRB. Pemerintah Kota Bogor giat menghadirkan dan menata taman di sejumlah ruas jalan sehingga warga Bogor atau masyarakat yang datang ke Bogor dapat menikmati keindahan Kota Bogor. “Jadi warga luar Bogor yang datang berkunjung tidak hanya menikmati Kebun Raya Bogor sebagai ikon kota Bogor, tetapi pengunjung pun bisa menikmati keindahan kota Bogor secara keseluruhan,” ujar Bima Arya.

Baca juga:  Kebun di Pucuk Gedung

Oleh karena itu pemerintah kota berupaya memperluas dan menata ruang terbuka hijau melalui pengadaan pot tanaman di tepi jalan atau perawatan pohon-pohon peneduh. Harap mafhum jika mengandalkan Kebun Raya Bogor yang seluas 97 ha itu sebagai ruang terbuka hijau, kurang memadai. Pembangunan taman-taman kota di seantero Bogor bakal memperluas area ruang terbuka hijau.

 Kota Bogor yang dihijaukan berbagai tanaman

Kota Bogor yang dihijaukan berbagai tanaman

Luas Kota Bogor yang hanya 11.850 km2, tidak memungkinkan untuk menjadikan tanaman bunga dan tanaman buah dikembangkan menjadi usaha berskala luas. Apalagi luas lahan untuk sektor pertanian hanya 10 persen dari luasan total. Namun, dengan area terbatas itu, tanaman buah dan bunga tetap penting. Tanaman hias menjadi elemen utama membuat taman kota. Pun beberapa pedagang kecil di pinggir jalan menyediakannya untuk warga sekaligus menambah hijau Kota Buitenzorg—sebutan Bogor pada era penjajahan Belanda.

Lahan yang sempit memang tidak perlu menyurutkan minat warga Bogor untuk bercocok tanam. “Kami telah membuat program urban farming untuk mewadahi minat masyarakat untuk bercocok tanam,” ujar Bima Arya. Dinas Pertanian Kota pun membuat program pertanian perkotaan untuk mewadahi minat masyarakat. Beberapa instansi telah dihubungi terkait dengan program itu. Beberapa komoditas buah-buahan pun menjadi unggulan untuk dikembangkan masyarakat, misal jambu biji kristal, jambu air citra, dan srikaya new varietas.

Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc, ”Festival Bunga dan Buah Nusantara” diharapkan menjadi salah satu lokomotif untuk mengurangi impor buah dan bunga

Prof Dr Ir Herry Suhardiyanto MSc, ”Festival Bunga dan Buah Nusantara” diharapkan menjadi salah satu lokomotif untuk mengurangi impor buah dan bunga

Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bakal merayakan ulang tahun ke-51 tahun mendampingi penataan ruang hijau di Kota Bogor. Maklum, karya nyata dari perguruan tinggi yang berdiri pada 1963 itu bukan hanya pada kualitas tinggi alumninya, tetapi juga pada bidang inovasi peneliti dan mahasiswanya. “Sejak 7 tahun silam, IPB selalu menghasilkan karya inovatif terbanyak setiap tahun, mencapai 38%,” ungkap rektor Institut Pertanian Bogor, Prof Dr. Ir Herry Suhardiyanto.

Baca juga:  Salak Lesung

Beberapa-karya inovatif itu dapat di saksikan pada acara Festival Bunga dan Buah Nusantara yang akan diselenggarakan pada 10—12 Oktober 2014 di Kampus Baranangsiang, Bogor. Di ajang itu, masyarakat dapat melihat kemajuan di bidang produksi bunga dan buah yang diusung oleh puluhan gerai dari berbagai kementerian dan instansi terkait di Indonesia. Melalui tema Rantai Pasokan, panitia menggelar temu bisnis antara produsen buah-buahan BUMN, swasta nasional, petani, dan kelompok tani dengan eksportir dan pedagang sehingga dapat mengurangi nilai impor buah dan bunga yang sangat tinggi.

Pepaya Calina alias California temuan Profesor Sriani Sujiprihati alm, peneliti PKHT IPB yang menasional

Pepaya Calina alias California temuan Profesor Sriani Sujiprihati alm, peneliti PKHT IPB yang menasional

“Beberapa PT PN telah mengebunkan pisang dan pepaya dalam skala puluhan-ratusan ha dan telah berproduksi,” ungkap Herry Suhardiyanto. Pada akhir pameran  (12 Oktober) berlangsung karnaval kendaraan hias dari bunga dan buah yang diikuti oleh berbagai instansi, kementerian, dan Badan Usaha Milik Negara. Pawai yang mengelilingi Kebun Raya Bogor itu diiringi dengan jalan pagi bersama staf pemerintah dan warga Bogor. Di ajang itu, pemerintah dan instansi mencanangkan Gerakan Makan Buah Lokal untuk memupuk kebiasaan dan kecintaan masyarakat mengomsumsi buah produksi petani Indonesia. (Syah Angkasa)

 

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d