Minimal Rp10-juta per  bulan laba dari budidaya  kroto

Minimal Rp10-juta per bulan laba dari budidaya kroto

Para peternak mengadaptasi semut dari alam, membesarkan, dan panen kroto. Berapa pun pasokan, kini terserap pasar.

Dalam tiga bulan terakhir, Adhy Suharmaji menjual 50—60 paket induk semut Oecophylla smaradigna. Harga setiap paket terdiri atas 12 sarang itu mencapai Rp1.200.000. Omzet Adhy Rp60-juta—Rp72-juta. Permintaan itu datang dari berbagai kota seperti Bandung, Provinsi Jawa Barat, Makassar (Sulawesi Selatan), Tangerang (Banten), dan Tegal (Jawa Tengah). Permintaan induk penghasil kroto yang terus meningkat mendorong Adhy membangun peternakan semut di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Ia membangun 4 kandang masing-masing berukuran 10 m x 6 m di atas lahan 500 m2. Di dalam setiap kandang itu terdapat 8—10 rak ukuran 2 m x 2 m x 60 cm dengan kapasitas masing-masing 1.200 potongan pipa polivinil klorida (PVC) sepanjang 20 cm. Adhy kini mengelola total jenderal 30.000 pipa. Lubang pipa-pipa itu tertutup serat putih menyerupai lapisan lilin. Beberapa ekor semut terlihat menggotong ulat hongkong yang besarnya 1—2 kali lebih besar daripada tubuhnya melewati sebuah lubang kecil berdiameter 0,7 cm.

 Sekali bertelur, semut hasilkan 200 butir calon anak

Sekali bertelur, semut hasilkan 200 butir calon anak

Bermitra
Semut-semut itu jinak dan tidak kocar-kacir ketika kandangnya disentuh. Mereka pun berkembang-biak sangat pesat. Saking pesatnya sehingga banyak semut yang tidak mendapat tempat bersarang. Akhirnya mereka membangun sarang di sela-sela pipa PVC. “Sulit mencari pipa ukuran 1,5 inci di Lumajang, sehingga semut terpaksa bersarang di luar,” kata Adhy. Dengan sarang sebanyak itu, bila tidak ada aral, pada akhir 2014 ia panen minimal 1 kg kroto per hari per rak. Adhy berharap bisa konsisten memproduksi kroto karena memiliki 30 rak.

Di Desa Muaraberes, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Yono juga sukses menangkarkan semut. Ratusan stoples plastik berisi semut berjajar rapi di rak bertingkat empat. Kesuksesan itu tergambar dari stoples plastik volume 1 kg itu yang sebagian terisi semut dan sarang. Jutaan semut pun berkeliaran di dasar rak. Kini Yono lebih banyak memproduksi bibit semut karena tingginya permintaan. Induk-induk semut yang berbiak—tentu melalui kroto alias telur semut—ia besarkan untuk melayani permintaan.

Teknik budidaya semut kian dimengerti oleh para peternak sehingga panen kroto hasil penangkaran semut lebih mudah terwujud

Teknik budidaya semut kian dimengerti oleh para peternak sehingga panen kroto hasil penangkaran semut lebih mudah terwujud

Pada awal usaha, ia berencana menghasilkan kroto lantaran permintaannya sangat tinggi. Namun, setelah mengembangbiakkan semut itu ternyata permintaan bibit lebih banyak. Itulah sebabnya ia menunda menjual kroto, menetaskan kroto, lalu membesarkannya menjadi indukan. Ia “terpaksa” berbelok haluan karena tingginya permintaan induk. Selain itu keuntungan menjual indukan lebih tinggi daripada kroto karena volume produksi rendah.

Yono melepas sebuah sarang (stoples) yang tingkat huniannya masih setengah Rp50.000, stoples penuh, Rp100.000. Volume penjualan rata-rata 1.000—2.500 stoples per bulan. Artinya omzet ayah satu anak itu Rp50-juta—Rp125-juta per bulan. Bandingkan jika ia menjual kroto yang saat ini harganya Rp 150.000—Rp200.000 per kg. Menurut Yono untuk memperoleh 1 kg kroto ia mesti mengumpulkan dari puluhan stoples. Di tempat pembesaran itu terdapat sekitar 300 stoples sehingga hanya menghasilkan kurang dari 1 kg kroto per bulan setara Rp150.000.

Dengan perhitungan itu, wajar jika Ia kini memilih menyediakan indukan bagi calon peternak. Pada saatnya nanti ia akan memproduksi kroto. Untuk memenuhi permintaan konsumen, 5 mitra dan sekitar 20-an pencari semut di alam membantu Yono. Semut hasil tangkapan alam kemudian “diajar” beradaptasi oleh kelima mitranya sehingga mereka terbiasa hidup dalam stoples. Biasanya dalam 3—4 pekan, semut liar berubah jinak dan berkembang biak. Dengan kemitraan itu berapa pun tingginya permintaan selama ini, Yono mampu memasoknya. Ia pernah memasok 1.000 stoples kepada calon peternak di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.

 Berbiak massal di stoples 1 kg

Berbiak massal di stoples 1 kg

Umpan dan pakan
Menurut Yono sebenarnya menjual kroto tetap punya kelebihan. “Berapa pun yang diproduksi peternak, pasti habis terjual dalam satu hari karena memang barang kurang,” kata peternak semut sejak 2008 itu. Sebab, kroto hasil peternakan lebih berkualitas karena lebih segar dan bersih daripada produk dari alam. Kini ia tetap menjual kroto meski volumenya kecil. ”Begitu dalam satu stoples diperkirakan isinya seperempat ons, langsung dipanen dan digabungkan dengan isi stoples lain. Namun, dalam 1 bulan hanya dipanen 2 ons,” ungkapnya. Ia menjual kroto itu ke toko burung.

Baca juga:  Tak Putus Asa Demi Magana

Besarnya permintaan kroto dipicu semakin merebaknya hobi memelihara burung berkicau dan mancing. Bagi pehobi burung berkicau, kroto pakan kaya protein yang merangsang burung gacor alias rajin berkicau. Sementara bagi pemancing, kroto juga sumber umpan terbaik. Kroto beraroma amis karena mengandung protein tinggi itu mendatangkan ikan berkumpul di dekat lapak sehingga mudah dipancing. Pehobi mancing di Cibubur, Jakarta Timur, Angga minimal sekali setiap bulan memancing.

Kebutuhan kroto peternak dan pemancing masih berasal dari sarang alami

Kebutuhan kroto peternak dan pemancing masih berasal dari sarang alami

Untuk melampiaskan hobinya ia membuat pakan berbahan antara lain 100 g kroto. “Kroto paling mahal harganya, Rp30.000 per 100 g,” ujar ayah 3 putra itu. Untuk membuat 500 g umpan, Angga memakai 100 g kroto untuk bahan umpan. Menurut Angga di Cibubur dan sekitarnya terdapat minimal 30 kolam pemancingan. Sentra pemancingan lain terdapat di Pondokgede, Kota Bekasi, Depok, Bogor, semua di Provinsi Jawa Barat, Jagakarsa (Jakarta), dan Tangerang (Banten) yang mencapai 200 kolam. Dalam 2 hari, Sabtu dan Ahad, 1.200 pemancing memadati kolam pemancingan itu.

Bila satu orang membutuhkan 100 g kroto, maka perlu 120 kg kroto setiap pekan. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan pemancing saja, persediaan kroto sangat kurang. Padahal, pemancing menghadapi “pesaing” untuk mendapat kroto dari para pehobi burung berkicau. Mereka membutuhkan kroto bukan hanya pada akhir pekan, tetapi setiap hari untuk pakan hewan klangenannya. Pehobi burung berkicau di Pondoklabu, Jakarta Selatan, Abdul Aziz, memberikan 100 g untuk setiap 3 pasang muraibatu. Ia memelihara lebih dari 45 ekor sehingga membutuhkan 1,5 kg per hari.

Pemancing butuh kroto untuk mengundang ikan berkumpul

Pemancing butuh kroto untuk mengundang ikan berkumpul

Pehobi seperti Abdul Aziz cukup banyak di Pulau Jawa. Selain burung muraibatu, burung bersuara merdu lainnya seperti cucakrawa, anis merah, dan anis kembang juga mengonsumsi kroto. Belum lagi ribuan pehobi yang acap ikut kontes burung di Indonesia. Pakan kroto seolah syarat mutlak agar burung gacor dalam kontes. Celakanya saat kemarau panjang seperti sekarang, kroto amat langka. “Pepohonan banyak yang daunnya kering sehingga sarang sulit ditemui,” ujar Suwarno, pedagang kroto di Ciracas, Jakarta Timur.

Baca juga:  Meruah Karena Torbangun

Suwarno biasanya mendapatkan pasokan 7—11 kg per hari, saat kemarau turun hanya 3—4 kg per hari. Bukan hanya Suwarno yang berharap pada kroto. Puluhan pedagang penyedia sarana produksi ternak pun berdatangan ke terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, sebelum subuh untuk memperoleh pasokan kroto dari daerah. Pemasok kroto datang dari berbagai daerah seperti Lampung, Sukabumi, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Dalam 1—2 jam saja, seluruh kroto habis. Saat ini bila dijumlahkan kroto yang dibawa seluruh pedagang itu, hanya 30—50 kg. Padahal, kebutuhan kroto warga Jakarta dan sekitarnya mencapai 150—200 kg per hari.

Adhy Suharmaji, “Dengan ternak semut, bisa panen duit sekaligus jaga kelestarian semut di alam”

Adhy Suharmaji, “Dengan ternak semut, bisa panen duit sekaligus jaga kelestarian semut di alam”

Marak beternak
Permintaan kroto terus meningkat sedangkan pasokannya terus menurun. Kondisi itu menarik minat beberapa orang untuk beternak semut dan menghasilkan kroto. Adhy Suharmaji misalnya, tertarik menernakkan semut lantaran bisnis itu relatif baru. Sayang, menghasilkan kroto bukan hal mudah. Adhy yang semula membeli 100 stoples semut seharga Rp15-juta itu memilih Lumajang untuk mengembangbiakkan Oecophylla smaragdina itu agar berdekatan dengan kebun buah miliknya.

Alih-alih sukses memelihara, bahkan semut-semut itu saling berkelahi hingga mati semua. “Penjual itu kemungkinan mengambil dari alam lalu menggabungkan dalam stoples. Karena berbeda komunitas, sehingga semut-semut itu saling membunuh,” kata Adhy menduga. Namun, ia tidak jera dan kembali membeli bibit. Untuk mempercepat perkembangbiakannya, ia terpengaruh membeli ratu semut sebanyak 10 ekor senilai total Rp5-juta. Setelah kiriman datang, ternyata isinya nihil. Berkali-kali gagal, Adhy pantang menyerah.

Tren memelihara burung kicauan meningkatkan permintaan kroto

Tren memelihara burung kicauan meningkatkan permintaan kroto

Berbekal pengalaman pahit itu, Adhy pun kian giat belajar. Ia mendatangi peternak-peternak di berbagai daerah yang sukses menangkarkan semut hingga bertelur. Selain itu ia rajin memperhatikan perilaku semut dari waktu ke waktu, mulai kebiasaannya, kondisi habitat di alam, serta suhu dan kelembapan di sarang. Semua kebiasaan itu kemudian diterapkan di kandang miliknya. Karena semut hewan nokturnal alias aktif pada malam hari, maka ia menutup semua lubang dalam kandang. Ia hanya membuka 2 jendela berlawanan tempat yang ditutup jaring hitam untuk mencegah pemangsa masuk.

Untuk mendapat suhu dan kelembapan 27—28°C, ia lalu membuat kolam permanen di dalam kandang lalu diisi air setinggi 25—30 cm. Harapannya terkabul, suhu dalam kandang sesuai keinginan semut. Selanjutnya ia mencoba berbagai wadah sarang: potongan bambu, stoples, botol bekas minuman isotonik, dan potongan pipa PVC berbagai ukuran. Ternyata, semut memilih pipa PVC ukuran 1,5 inci sepanjang 20 cm. Dengan mengikuti semua keinginan serangga itu, semut nyaman sehingga menjadi jinak, bertelur, dan berkembang biak.

Semut dari alam mampu beradaptasi dan berkembangbiak

Semut dari alam mampu beradaptasi dan berkembangbiak

Untuk memenuhi kebutuhan gizi, pekebun buah organik itu memberikan makanan berupa ulat hongkong, air gula, dan multivitamin. Dengan semua keinginan terpenuhi, dari setiap selongsong, dipanen 30—50 g kroto per 2—4 pekan. Bila dibiarkan menetas, dalam satu bulan, populasi semut berkembang menjadi 2 kali lebih banyak.

Menurut Adhy koloni semut akan mencetak ratu sendiri, khususnya pada Oktober—Februari. Pada bulan-bulan itu, dari satu koloni, bisa lahir 15—50 ratu. Di luar bulan-bulan itu, paling lahir 1—2 ekor. “Jadi meski tidak tidak dikawini, rangrang bisa bertelur dan beranak sendiri secara alami,” ungkap kakek 1 cucu itu. Inilah saatnya panen kroto dari hasil penangkaran. Bisa panen rupiah sekaligus menyelamatkan lingkungan. Biarkan semut-semut di alam menjadi penolong petani membasmi hama di kebun. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d