575_ 48-8Sumber pendapatan Rakhmad Hardiyanto, S.T. bukan hanya dari jambu kristal. Di lahan yang sama ia juga membudiayakan sayuran organik seperti kale. Ia lazim memanen 100—120 kg kale per pekan dari lahan 1 hektare. Petani muda itu menjualnya Rp100.000—Rp150.000 per kilogram. Dengan kata lain Hardi mencetak omzet minimal Rp1 juta—Rp1,5juta setiap pekan dari penjualann kale.

Ia juga menjual olahan kale seperti 60 kg smoothies seharga Rp80.000 per kg ke Surabaya dan Malang sehingga omzetnya mencapai Rp4,8 juta per pekan. Bibit salah satu kendala bertani kale karena mesti impor. Jadi Hardi berinovasi dengan menanam 200 bibit kale hasil setek dengan tingkat keberhasilan 60—70%. Harapannya agar petani dalam negeri tidak tergantung benih impor.

“Meski harga benih kale saat ini masih terjangkau sekitar US$3 atau Rp40.800 (1$=Rp13.600) per 500 benih, tapi tidak ada jaminan ketersediaannya pada masa yang akan datang,” ujar suami Reisha Zuriana, S.E. itu. Hardi menggunakan mikro organisme lokal (MOL) berbahan utama bawang putih, daun mimba, akar bambu, buah pinang, temuhitam, dan umbi gadung untuk pemupukan serta pengendali hama dan penyakit kale. (Bondan Setyawan)

Tags: kale, petani muda, trubus

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d