Rumput Laut sebagai Bahan Baku Kertas

Rumput Laut sebagai Bahan Baku Kertas 1

Saat ini kebutuhan kertas dunia terus meningkat. Produksi kertas dan bubur kertas global diperkirakan meningkat hingga 77% pada tahun 2020 karena peningkatan populasi dunia dan sejalan dengan peningkatan kegiatan literasi dan kualitas hidup masyarakat. (Daud et al., 2001). Tingginya permintaan kertas akan memberi tekanan tambahan pada pemanfaatan sumber daya hutan yang semakin berkurang di dunia. Sebagai salah satu strategi untuk mempertahankan industri kertas, pengembangan bahan baku untuk serat non-kayu atau serat alternatif dapat menjadi pilihan selain upaya reboisasi dan daur ulang yang sedang berlangsung.

Salah satu serat alami alternatif yang bisa dicoba menjadi pengganti serat kayu adalah rumput laut. Menurut Nugroho (2007), rumput laut dapat digunakan sebagai bahan kertas karena ditemukannya serat yang memiliki fleksibilitas tinggi dan mengandung zat perekat cair, sehingga proses ini aman bagi lingkungan dan tidak memiliki dampak negatif terhadap kesehatan. Selain itu, You (2009) menambahkan bahwa rumput laut dapat digunakan sebagai bahan baku kertas yang memiliki kelebihan karena sedikitnya komponen beracun yang ada di kertas. Hal ini disebabkan proses produksi, pengolahan kertas dari rumput laut dapat menggunakan pemutih non-klorin dan pemilihan bahan kimia yang relatif aman.

Industri Pengolahan Rumput Laut

Upaya pengembangan industri pengolahan rumput laut menjadi kertas didukung dengan fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia terutama untuk jenis Eucheuma Cottonii dengan share sebesar 4.539.413 ton (98,2%) dan Gracillaria dengan share sebesar 630.788 ton (90,5%) terhadap produksi rumput laut dunia (Fishstat FAO, 2013). Menurut data Direktorat Jendral Budidaya Perikanan, produksi rumput laut di Indonesia pada tahun 2013 adalah sebesar 8.181.654 ton, atau meningkat lebih dari dua kali lipat. Dimana sebelumnya, produksi rumput laut pada tahun 2010 hanya berkisar di angka 3.915.017 ton.

Baca juga:  Rumput Laut Atasi Hipertensi

Seiring dengan meningkatnya volume rumput laut maka pertumbuhan industrinya di Indonesia akan terpicu. Terdapat 11 industri agar dan 14 industri karaginan (3 refined dan 11 semi refined) di Indonesia dimana produknya sudah menjadi substitusi impor dan untuk diekspor. Limbah dari industri tersebut masih memiliki endofiber yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas yang kemudian diputihkan terlebih dahulu menjadi pulp (Kustantiny, 2011). Pemanfaatan limbah industri pengolahan rumput laut selain mengurangi biaya untuk bahan baku dan energi juga dapat mendukung zero waste concept sebagai upaya perlindungan terhadap lingkungan. Integrasi antara kedua industri ini diharapkan mampu menguatkan keduanya sehingga dapat survive ditengah persaingan global yang semakin menguat.

Walaupun dapat dijadikan kertas, serat dari limbah pengolahan rumput laut memiliki kelemahan jika ditinjau dari segi kekuatan ikatan kertas yang dihasilkan. Faktor ini akan mempengaruhi sifat fisik kertas, yaitu ketahanan tarik dan ketahanan sobek. Komposisi serat panjang dan serat pendek yang sesuai di dalam lembaran kertas akan memberikan formasi serat yang lebih baik. Maka untuk membuat kertas yang memenuhi standar, perlu ada kombinasi serat yang cocok. Bahan serat kayu dari proses mentah atau yang didapat dari daur ulang kertas bisa ditambahkan untuk mendapat kombinasi yang diinginkan.

Disamping kekuatan ikatan serat yang rendah, kertas dari rumput laut memiliki keunggulan pada kecerahan, kehalusan dan opasitasnya yang tinggi. Hal ini dikarenakan serat yang pendek dan sangat rapat sehingga area permukaan spesifik menjadi tinggi. Sifat kertas seperti ini sangat baik untuk dijadikan kertas cetak bernilai tinggi.

 

Sumber : f a r m i n g . i d

 

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x