Greenhouse supercanggih 3.000 m2 di Wanasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Greenhouse supercanggih 3.000 m2 di Wanasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Rumah tanam canggih, sistem komputerisasi untuk mengatur suhu, kelembapan, dan cahaya.

Edi Sugiyanto cukup menekan tombol di komputer untuk memasukkan nutrisi ke rangkaian hidroponik. Begitu juga ketika hendak mengatur suhu, kelembapan, dan cahaya di dalam greenhouse. Bangunan greenhouse di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (m dpl) itu memang canggih. Edi yang selama ini menjadi konsultan hidroponik di beberapa negara Asia Barat itu mengadopsi teknologi asal Jerman, Belanda, Turki, dan beberapa negara di Asia yang supercanggih.

Itulah sebabnya ia tidak mesti setiap hari mengontrol rumah tanam di Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu. Edi dan rekan yang terdiri dari Nursyamsu Mahyuddin dan Rahmat Marpaung hanya sekali sepekan mengecek kondisi tanaman. Ketika Majalah Trubus mengunjungi greenhouse itu pada awal Maret 2018, tampak tanaman tomat ceri di dalamnya tumbuh subur dan sehat. Tinggi Lycoperscon esculentum berumur 50 hari itu mencapai 1,5 meter. Tomat tumbuh seragam dan mulai berbuah.

Tahan 15 tahun

Menurut Edi greenhouse mewah itu berdiri pada Oktober 2017. Sayang ia menolak menyebut biaya investasi untuk membangun rumah tanam seluas 3.000 m². Menurut ahli hidroponik, Ir. Yos Sutiyoso, biaya pembuatan greenhouse berkerangka kayu mencapai Rp200.000 per m2. Adapun rumah tanam supercanggih itu membutuhkan biaya Rp1 juta per m². Jika luas greenhouse 3.000 m², maka pekebun perlu menanam modal hingga Rp3 miliar.

Pendingin evaporatif menormalkan suhu dan kelembapan dalam greenhouse jika blower kurang berfungsi.

Pendingin evaporatif menormalkan suhu dan kelembapan dalam greenhouse jika blower kurang berfungsi.

Rumah tanam baru itu amat kokoh. Kerangka rumah tanam itu berupa besi galvanis berukuran 2—3 mm. Makin luas greenhouse, suhu ruang kian stabil sehingga membuat para pekerja nyaman. Begitu juga dengan tinggi atap. “Tinggi dinding harus di atas 4 meter, atap 6 meter,” ujar salah satu penggagas greenhouse mewah, Nursyamsu.

Baca juga:  Siasat Logan Merebut Pasar

Keistimewaan greenhouse berkerangka besi dan berdinding plastik ultraviolet (uv) itu lebih tahan lama. Menurut perkiraan Nursyamsu umur greenhouse itu bisa 13—15 tahun. Bandingkan dengan greenhouse bambu atau kayu yang hanya bertahan maksimal 3—4 tahun. Dinding dan atap greenhouse menggunakan plastik ultraviolet berketebalannya 200 mikron.

Selain untuk melindungi dari sinar ultraviolet dan inframerah, plastik itu juga antibakteri, berbahan elastisitas, terdapat light diffusion, dan dapat memencarkan cahaya. Edi mendatangkan plastik itu langsung dari Turki. Pada siang itu angka di panel kontrol menunjukkan suhu di rumah tanam melebihi 28°C. Secara otomatis lima blower raksasa di dinding kanan dan kiri greenhouse berputar.

Begitu pula delapan kipas tambahan di tiang dalam ruang ikut berputar. Putaran dua perangkat itu secara simultan perlahan menurunkan suhu di dalam rumah tanam. Blower berhenti berputar ketika suhu kembali stabil seperti yang diinginkan. Kelembapan ruangan 75%. Sementara kipas tambahan secara berkala— setiap 10 menit—menyala untuk menciptakan sirkulasi udara di dalam greenhouse.

Pendingin

Indra Bachtiar, Nursyamsu Mahyuddin, dan Yuslifar (dari kiri ke kanan) membangun greenhouse otomatis.

Indra Bachtiar, Nursyamsu Mahyuddin, dan Yuslifar (dari kiri ke kanan) membangun greenhouse otomatis.

Ketika suhu di dalam rumah tanam itu lebih panas, maka jumlah blower yang berputar lebih banyak lagi. Total jenderal terdapat 20 blower besar ukuran 50 inci, 10 kipas pembuang udara atau exhaust fan, 20 blower untuk sirkulasi, dan 1 unit pendingin evaporatif sepanjang 80 m. “Cara kerja evaporative cooler itu nanti dibasahi oleh air. Setelah itu blower besar menyedot uap air sehingga suhu dan kelembapan dalam greenhouse pun berubah,” ujar General Manager Agrifarm, Yuslifar.

Berkat putaran blower udara dingin dari tirai air pun terdistribusikan ke seluruh ruangan greenhouse berdaya tampung hingga 18.000 tanaman. Dengan begitu suhu ruangan lebih cepat turun. Edi memberikan air dan nutrisi melalui irigasi tetes. Satu lubang terdiri atas satu irigasi.

Blower besar 50 inci berputar otomatis jika suhu greenhouse terlalu panas.

Blower besar 50 inci berputar otomatis jika suhu greenhouse terlalu panas.

Tujuannya agar nutrisi tanaman memadai. Nutrisi berupa AB mix tetap mengalir melalui pipa PE. Frekuensi pemberian nutrisi 5 kali sehari pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 13.00, dan 16.00 dengan elektrokonduktivitas (EC) 2,2—2,8 tergantung cuaca.

Baca juga:  Pertolongan Pertama Kucing Muntah

Perusahaan berorientasi bisnis harus mengatur jadwal tanam untuk memenuhi kebutuhan pasar. Itu bisa dilakukan bila budidaya di dalam greenhouse. Kelebihan penanaman di dalam greenhouse petani mampu menekan kehadiran hama karena lingkungan tetap higienis. Sarana mutakhir itu menjadi andalan Edi dan rekan menghasilkan produk berkualitas tinggi. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d