Rumah Tanam Mini Merebut Hati 1

Kini hadir greenhouse mini khusus untuk bertanam sayuran dan bunga di halaman atau atap rumah.

Eva Lasti Apriyani Madarona menyalurkan hobi  di dalam greenhouse mini.

Eva Lasti Apriyani Madarona menyalurkan hobi di dalam greenhouse mini.

Eva Lasti Apriyani Madarona tampak sibuk memetik beragam bunga yang tumbuh di atap rumahnya. Deretan pot itu tertata rapi di dalam rumah tanam yang terletak di kawasan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat. Di dalam greenhouse berukuran 4 m x 8 m itu sekitar 25 rangkaian hidroponik tampak tertata rapi.

Sore itu pada pukul 15.00 angka di panel kontrol menunjukkan suhu melebihi 28ºC di ruang pembungaan dan ruang inisiasi. Kondisi itu menunjukkan tanaman siap berbunga. Secara otomatis tiga lampu hijau dan dua lampu kuning di panel menyala berbarengan. Sejurus dengan itu lima buah kipas di tiang pun ikut berputar. Putaran kipas itu secara simultan perlahan menurunkan suhu dan menciptakan sirkulasi udara di dalam rumah tanam. Kipas akan berhenti berputar ketika suhu kembali stabil seperti yang diinginkan.

Sekilas untuk membangun sebuah greenhouse mini, Eva mesti merogoh kocek dalam-dalam. Sayang, ia enggan menuturkan nilai investasi. Untuk sebuah kesenangan, Eva memang tak segan untuk mengeluarkan biaya cukup besar. Toh ibu 2 putra itu benar-benar mereguk kebahagiaan dari aktivitasnya. “Orang stres masuk situ (greenhouse-red) mungkin sembuh,” tutur Eva.

Mini

Komoditas yang dipilih Eva lain dari umumnya. Ia menanam bunga siap konsumsi alias edible flower. Para juru masak biasanya menggunakan edible flower sebagai garnis atau penghias makanan. Perempuan kelahiran Depok, Jawa Barat, itu membudidayakan lebih dari 10 jenis tanaman hias seperti cosmos, nasturtium, dianthus ‘rainbow loveliness’, pansy viola, dahlia, verbena grandiflora, viola heartease, dan lainnya.

Atap greenhouse dibuat berdasarkan letak ketinggian lingkungan.

Atap greenhouse dibuat berdasarkan letak ketinggian lingkungan.

Saat mekar serempak hamparan aneka jenis tanaman hias itu menyajikan pemandangan yang memanjakan mata siapa pun yang berkunjung. Variasi warna bunga seperti merah, biru, dan perpaduan ungu serta kuning sungguh menyegarkan.

Baca juga:  Minus Greenhouse

Eva memesan greenhouse berukuran mini itu ke Edi Sugiyanto, pemilik Agrifarm. Edi yang selama ini menjadi konsultan hidroponik di beberapa negara Asia Barat itu mengadopsi teknologi asal Jerman, Belanda, Turki, dan beberapa negara di Asia yang supercanggih. Rumah tanam mini itu amat kokoh. Kerangka greenhouse itu berupa besi galvanis berukuran 2—3 mm. Dinding dan atap greenhouse menggunakan plastik ultraviolet berketebalannya 200 mikron.

Menurut General Manager Agrifarm, Yuslifar, keistimewaan greenhouse berkerangka besi dan berdinding plastik ultraviolet (uv) itu lebih tahan lama. Umur bangunan itu bisa 5—7 tahun. Bandingkan dengan greenhouse bambu atau kayu yang hanya bertahan maksimal 2—3 tahun.

Praktis

Yuslifar, General Manager Agrifarm.

Yuslifar, General Manager Agrifarm.

Selain untuk melindungi dari sinar ultraviolet dan inframerah, plastik itu juga antibakteri, berbahan elastisitas, terdapat light diffusion, dan dapat memencarkan cahaya. Edi mendatangkan plastik itu langsung dari Turki.

Percontohan greenhouse mini juga terdapat di kantor Agrifarm di Menteng, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jawa Barat. Bangunan itu berdiri sejak 2016. Menurut Yuslifar, rumah tanam mini itu diciptakan hanya sebagai percontohan sebelum memasang greenhouse berukuran 8 m x 12 m atau lebih besar lagi. ”Greenhouse itu juga bisa dibongkar pasang jadi praktis,” ujarnya. Menurut perhitungan pria kelahiran Tegal, 5 Desember 1986 itu, biaya pembuatan greenhouse berkerangka besi itu bisa mencapai Rp32 juta dengan ukuran 4 m x 8 m atau Rp1 juta per m².

Tak hanya Eva, Jenny juga memasang greenhouse mini di lantai dua rumahnya. Di sana ia menanam pakcoy, selada, letus, kale, bayam hijau dan merah, caisim, kailan, serta kangkung. Teknologi aeroponik dan hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) diadopsi. Setiap pagi ia tampak berjalan-jalan menghirup udara segar dalam greenhouse itu. “Enak bisa melihat sayuran segar hasil tanam sendiri,” ujar wanita berdomisili di Ciherang, Sumedang, Jawa Barat itu.

Baca juga:  Gaya Baru Minum Jamu

Rumah tanam mini beratap segitiga itu dilengkapi lapisan penutup di bagian teratas. Pada bagian atap greenhouse terdapat jaring peneduh—shading net berkerapatan 50%. Atap itu dapat dibuka-tutup menggunakan katrol ganda. Pekebun cukup menekan tombol, jaring peneduh pun membentang dan langsung menutupi atap.

Agrifarm mulai mendesain greenhouse mini sejak 2016.

Agrifarm mulai mendesain greenhouse mini sejak 2016.

Jaring dibentangkan ketika sinar matahari terlalu terik. Tujuannya untuk mengurangi intensitas sinar matahari. Di malam hari ketika suhu di luar lebih dingin daripada greenhouse, net itu bergerak menutup. Dengan begitu suhu dan kelembapan udara di dalam greenhouse tidak terpengaruh udara dan cuaca di luar. Dampaknya, pertumbuhan sayuran menjadi optimal.

Menurut dosen Departemen Agronomi Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Agus Suryatnto, M.S., kelebihan penanaman di dalam greenhouse petani mampu menekan kehadiran hama karena lingkungan dipertahankan higienis. Gangguan hama tidak dapat diprediksi, sehingga penggunaan greenhouse mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi. Selain itu, greenhouse mini dapat menjadi pilihan tepat untuk lahan sempit. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments