Varietas unggul roselindo-1 besutan Balittas

Varietas unggul roselindo-1 besutan Balittas

Empat rosela baru sumber antioksidan bagi tubuh. Produksi tinggi dan kaya vitamin C.

Pamor rosela melejit sebagai minuman kesehatan kaya antioksidan pencegah beragam penyakit seperti kanker, diabetes mellitus, gangguan jantung, dan ginjal. Periset Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, Ir Didah Nurfarida MSi menuturkan bunga rosela mengandung senyawa antioksidan seperti antosianin, glukosida, dan hibiscin yang berguna menangkal serangan radikal bebas.

Kuntum rosela juga berkhasiat melawan bakteri dan cendawan. Penelitian Tina Rostinawati MSi Apt dari Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, membuktikan ekstrak air dan zat warna bunga rosela mampu membunuh bakteri penyebab tuberkulosis (TB) Mycobacterium tuberculosis. Sementara Asviana Tanjong dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanudin, membuktikan rosela menghambat perkembangan cendawan Candida albicans yang kerap ditemukan pada pasien yang memasang gigi tiruan.

Hamparan tanaman roselindo-4

Hamparan tanaman roselindo-4

Plasma nutfah
Cara menjemput khasiat rosela pun cukup mudah yaitu dengan menyeduh kelopak bunga kering. Jika bosan dengan seduhan, konsumen dapat memilih sediaan rosela yang banyak beredar di pasaran dalam bentuk jeli, selai, es krim, saus, dan kue. Warnanya yang merah seronok juga berguna sebagai bahan pewarna makanan alami.

Ir Untung Setyo Budi MP, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) di Malang, Jawa Timur, menuturkan sejak 8 tahun silam masyarakat marak mengembangkan dan menanam tanaman kerabat kembang sepatu itu. “Animo masyarakat membudidayakan rosela sangat tinggi sebab berkhasiat obat dan bernilai ekonomis,” ujarnya. Ia menuturkan pada 2005—2009 harga rosela kering Rp80.000—Rp100.000 per kg di tingkat pekebun.

Sejumlah pekebun mendatangkan benihnya dari kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Amerika latin. “Benih-benih itu belum diketahui potensi hasilnya sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen pekebun,” ujar Untung Setyo Budi. Sejatinya, terdapat 172 genotip plasma nutfah di tanahair, terdiri atas 56 genotip rosela minuman Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa sedangkan sisanya sebanyak 116 genotipe tergolong rosela serat Hibiscus sabdariffa var. altissima.

Antusiasme masyarakat mengebunkan rosela sangat tinggi karena bernilai ekonomi dan berkhasiat

Antusiasme masyarakat mengebunkan rosela sangat tinggi karena bernilai ekonomi dan berkhasiat

Varietas unggul rosela baru dirilis pada 2013 yakni roselindo-1, roselindo-2, roselindo-3, dan roselindo-4. Penemuan varietas itu melalui perjalanan panjang sejak 2004. “Kami melakukan pengamatan potensi hasil terhadap plasma nutfah rosela minuman dan menelusuri jejak rosela-rosela unggul yang tersebar di lahan pekebun,” ujar Untung Setyo Budi. Ia menuturkan sasaran yang dituju adalah wilayah sentra penanaman rosela seperti Blitar, Kediri, Nganjuk, Malang—semua di Jawa Timur serta Semarang, Kendal, Grobogan, dan Banyumas—Provinsi Jawa Tengah.

Baca juga:  Penghulu di Kebun Kurma

Penelusuran itu membuahkan 10 galur harapan dengan produktivitas kelopak kering tinggi. Kesepuluh galur itu menjalani uji multilokasi di Jawa Tengah (Pati, Kendal, dan Grobogan) dan Jawa Timur (Malang, Situbondo, Kediri, dan Blitar). Dari uji multilokasi itu hanya 4 galur yang berproduksi tinggi. Galur-galur itulah cikal-bakal roselindo-1, roselindo-2, roselindo-3, dan roselindo-4.

Ungggul
Nama roselindo merupakan singkatan dari rosella Indonesia. Keempat varietas itu memiliki kadar vitamin C lebih tinggi dibanding buah dan sayuran. Jambu biji, misalnya, mengandung 1.080 mg per kg, jeruk (540 mg), kiwi (1.000 mg), lengkeng (840 mg), stroberi (567 mg), dan paprika merah (1.900 mg). Sementara itu, kandungan vitamin C pada rosela varietas unggul paling rendah 1.880 mg per kg.

Keistimewa roselindo-1 toleran terhadap cendawan Fusarium sp dan memiliki potensi hasil panen kering 332—757 kg kering per ha. Tinggi tanaman 109—223 cm dengan percabangan sangat banyak. Tanaman mulai berbunga 59 hari setelah tanam (hst) dan siap panen 39 hari kemudian. Kelopak bunga roselindo-1 berwarna merah. Dalam satu kilogram kelopak kering mengandung antosianin dan vitamin C masing-masing 1,4 mg dan 3.454 mg.

Ir Untung Setyo Budi MP (berkacamata) melakukan pengamatan potensi hasil pada salah satu koleksi plasma nutfah rosela

Ir Untung Setyo Budi MP (berkacamata) melakukan pengamatan potensi hasil pada salah satu koleksi plasma nutfah rosela

Roselindo-2 merupakan varietas dengan kandungan antosianin dan vitamin C paling tinggi yakni 14,697 mg dan 20.335,24 mg per kg. Sejak kuncup hingga siap panen, kelopak bunganya berwarna ungu. Tinggi tanaman 90—206,4 cm dan bercabang banyak. Calon bunga mulai bermunculan ketika tanaman berusia 60 hst dan siap panen 37 hari kemudian. Potensi hasil kelopak 265—691 kg kering per ha.

Lazimnya kelopak bunga tanaman anggota famili Malvaceae itu berwarna merah terang atau pekat. Namun, roselindo-3 memiliki kelopak hijau tua. “Itu sebabnya kandungan antosianinnya sangat rendah yakni 0,003 mg dengan kadar vitamin C hanya 1.880 mg per kg,” kata Untung. Namun, potensi hasilnya cukup tinggi yaitu 229—880 kg kering per ha. Roselindo-3 merupakan plasma nutfah yang berasal dari Nigeria yang diperoleh berkat kerja sama dengan International Jute Organisation (IJO).

Baca juga:  Galian Pasir Kini Cagar Alam

Adapun roselindo-4 diperoleh dari Nepal merupakan koleksi plasma nutfah hasil kerja sama dengan IJO. Tinggi tanaman sekitar 100—209 cm. Bunga roselindo-4 siap petik saat berumur 98 hst. Kelopak bunganya berwarna ungu dan memiliki potensi hasil 252—690 kg kering per hektar. Dalam satu kilogram kelopak kering mengandung 9,81 mg antosianin dan 9.886,82 mg vitamin C. (Andari Titisari)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d