Nuri talaud burung endemik Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, yang terancam punah.

Nuri talaud burung endemik Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, yang terancam punah.

 

Pada rembang petang pohon gehe, binsar, dan war’ro di hutan Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud, keduanya di Provinsi Sulawesi Utara, itu memerah. Bukan karena cahaya lembayung senja yang mengubah pepohonan itu. Merahnya pepohonan itu karena ribuan nuri talaud menempati pohon sebagai tempat tidur. Burung itu berbulu dominan merah. Bulu berwarna biru menutupi dada dan mata mengelilingi hampir sebagian kepala hingga leher.

Warna indah dan bisa dilatih berbicara salah satu daya tarik nuri talaud sehingga diperdagangkan sebagai hewan peliharaan.

FOTO : Diah Irawati Dwi Arini                Warna indah dan bisa dilatih berbicara salah satu daya tarik nuri talaud sehingga diperdagangkan sebagai hewan peliharaan.

Ritual pohon memerah itu bermula ketika mentari lingsir. Mula-mula beberapa nuri talaud hinggap di pohon lain di sekitar pohon tidur. Kelompok pertama itu lalu bersuara khas dan kemungkinan mereka mengarahkan koloni untuk datang ke pohon tidur. Ketika langit gelap satu per satu sumpihi—sebutan nuri talaud di Kepulauan Sangihe—bertengger di pohon tidur sambil berkicau sehingga terdengar suara riuh.

Posisi tidur nuri talaud berpasangan menempati setiap ranting dan dahan hingga kicauannya berhenti sendiri seiring gelap malam. Jika dilihat penampakan nuri talaud seperti burung yang mengenakan topeng. Nuri talaud termasuk burung berkoloni besar yang memiliki perilaku unik yaitu menggunakan satu pohon bersamaan yang disebut pohon tidur. Pohon tidur titik awal dan akhir semua aktivitas nuri talaud. Mereka tinggal di pohon tidur ketika senja hingga menjelang fajar. Penggunaan pohon tidur yang sama oleh Eos histrio berlangsung lama hingga puluhan tahun.

Desa Rae di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, salah satu lokasi pohon tidur nuri talaud.

Desa Rae di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, salah satu lokasi pohon tidur nuri talaud.

Koloni nuri talaud bakal mencari pohon tidur baru jika tempat sebelumnya ditebang atau roboh. Syarat pohon tidur pilihan sampiri—sebutan nuri talaud di Kepulauan Talaud—antara lain pohon tertinggi, bercabang banyak, dan berlokasi di peralihan antara kebun dan hutan. Gehe Pometia coriacea, binsar Ficus variegata, war’ro Duabanga moluccana, dan lawean Sterculia sp. beberapa pohon tidur pilihan nuri talaud.

Nuri talaud menghendaki pohon tertinggi sebagai pohon tidur agar mudah memantau predator.

Nuri talaud menghendaki pohon tertinggi sebagai pohon tidur agar mudah memantau predator.

Sayangnya pemandangan mengesankan pepohonan “merah” itu kini tidak ada lagi. Itu karena menurunnya jumlah pohon tidur dan anjloknya populasi nuri talaud di alam. Hasil pengamatan tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Manado, Sulawesi Utara, mengungkapkan terdapat 6 pohon tidur aktif pada 2014.

Jumlah itu lebih sedikit diibandingkan dengan hasil pengamatan Burung Indonesia yang menemukan 9 pohon tidur pada 2004 dan 8 pohon tidur pada 2006. Hasil pengamatan tim peneliti dari BP2LHK Manado juga menyatakan nuri talaud lebih menyukai gehe sebagai pohon tidur. Gehe pohon berbatang lurus setinggi sekitar 40 m itu mudah dijumpai di Pulau Karakelang.

Penggunaan pohon tidur oleh koloni burung sepertu nuri talaud termasuk cara pertahanan koloni. Pemilihan pohon tidur yang paling tinggi memudahkan burung anggota famili Psittacidae itu memantau predator. Kehadiran nuri talaud di setiap ranting merupakan interaksi sosial dan kerja sama intraspesifik untuk melawan gangguan yang membahayakan koloni. Penurunan jumlah pohon tidur sebanding dengan jumlah populasi nuri talaud yang makin berkurang di alam.

Masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud masih memelihara nuri talaud hingga kini.

Masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud masih memelihara nuri talaud hingga kini.

Penilaian International Union for Conservation of Nature (IUCN) Species Survival Commission terhadap status nuri talaud di Kepulauan Sangihe dan Talaud pada 1996 menunjukkan adanya penurunan populasi yang sangat signifikan. Lembaga konservasi internasional itu juga memperkirakan hanya ada satu anak jenis nuri talaud tersisa yakni E. h. talautensis dari tiga anak jenis yang diperkirakan ada. Kini populasi terbesar berada di Pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, yang dihuni sekitar 2.300 nuri talaud. Ancaman terbesar burung endemik itu adalah penangkapan untuk dijual.

Baca juga:  Inovasi Kebun Raya

Perniagaan nuri talaud besar-besaran terjadi pada 1980. Sebagian besar hasil tangkapan dijual ke Filipina dan sisanya ke daerah lain melalui Kota Manado. Sebelumnya pada 1963 penyelundupan nuri talaud marak terjadi dengan tujuan Mindanao, Filipina dan Tawau (Malaysia). Selain kopra dan cengkih, red and blue lory—sebutan nuri talaud di Inggris—salah satu komoditas favorit yang bernilai jual tinggi.

Perdagangan nuri talaud tidak hanya terjadi pada masa kini, tapi sudah mulai sejak 1885 berdasarkan tulisan Fahrul Amama dalam blognya berjudul Burung-burung yang Berlayar. Saat itu naturalis asal Inggris, Sidney J. Hickson, bepergian ke Kepulauan Sangihe dan Talaud, menyaksikan masyarakat lokal menjadikan nuri talaud sebagai hadiah. Sidney juga mendapati masyarakat lokal yang menjual beberapa burung langka itu. Catatan lainnya dari seorang dokter bernama Murray yang tengah menumpang kapal Challenger.

Awak kapal dari Pulau Miangas membawa tikar dan beberapa nuri talaud hidup yang terborgol cincin berbahan tempurung kelapa. Selanjutnya burung kerabat betet itu ditukar tembakau, peralatan rumah tangga, atau minuman beralkohol. Letak geografis Kepulauan Nusa Utara termasuk Sangihe, Talaud, dan pulau kecil di sekitarnya membuka peluang yang sangat besar bagi maraknya perdagangan nuri talaud secara ilegal.

Praktik penangkapan nuri talaud masih terjadi di bumi porodisa—sebutan Kepualuan Talaud—terutama di Pulau Karakelang. Masyarakat setempat memelihara 1—3 nuri talaud. Bahkan mereka juga memelihara burung lain seperti betet kelapa Tanygnathus megalorynchos, nuri bayan Eclectus roratus, dan kring-kring dada kuning Prioniturus flavicans. Alasan masyarakat memelihara nuri talaud dan burung lainnya beragam seperti sebagai hewan peliharaan, hadiah untuk saudara, dan untuk dijual.

Sejatinya harga nuri talaud di dalam pulau sangat rendah, tapi keluar pulau harganya mencapai Rp 700.000 per ekor. Harga itu hampir sama dengan harga jual kasturi ternate. Pedagang tidak mengetahui jenis burung yang dijual. Mereka hanya mengetahui burung itu langka dan berharga mahal. Selain perdagangan, menyusutnya populasi nuri talaud lantaran hilangnya habitat. Kepulauan Sangihe yang dahulu menjadi habitat nuri talaud kini hanya menyisakan petak-petak hutan di ketinggian.

Pembukaan hutan untuk ladang mengancam habitat nuri talaud.

Pembukaan hutan untuk ladang mengancam habitat nuri talaud.

Nasib nuri talaud di Pulau Karakelang lebih beruntung karena di sana terdapat kawasan konservasi yaitu Suaka Margasatwa Karakelang yang dikelola Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Utara dan beberapa kawasan hutan yang ditetapkan menjadi hutan lindung. Kawasan itu menjadi wilayah sangat penting untuk perlindungan nuri talaud yang diangkat sebagai maskot Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Untuk mencegah kepunahan burung langka itu pemerintah menetapkan daftar jenis flora dan fauna sebagai jenis dilindungi termasuk nuri talaud melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Sementara IUCN menetapkan nuri talaud ke dalam kategori genting (endangered) lantaran populasinya yang sangat sedikit dan nyaris punah. Bahkan jika dilakukan evaluasi atau peninjauan ulang bisa jadi status konservasi nuri talaud menjadi kritis (critically endangered).

Sebetulnya perdagangan nuri talaud pun melanggar ketentuan internasional. Burung itu terdaftar dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Artinya burung yang tidak dapat dibedakan jantan dan betina secara morfologi (monomorfis) itu tidak dapat diperdagangkan dalam kondisi hidup atau mati. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menetapkan peraturan No. 57 Tahun 2008 mengenai Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional.

Baca juga:  Atasi Karat Kopi

Peraturan itu memasukkan nuri talaud ke dalam daftar satwa dengan kategori prioritas sangat tinggi untuk diselamatkan karena jumlahnya yang makin sedikit di alam. Upaya konservasi orvokkiluri—sebutan nuri talaud di Finlandia—lainnya yakni kegiatan Action Sampiri berupa pemantauan rutin populasi burung itu di habitatnya. Aktivitas yang dimulai sejak 1999 itu juga mengedukasi masyarakat agar menjaga dan melestarikan nuri talaud. Kini aktivitas konservasi nuri talaud makin intens sejak terbentuknya Komunitas Pencinta Alam Pulau Karakelang (KOMPAK).

Komunitas berisi masyarakat muda Pulau Karakelang itu bekerja menjaga keberadaan nuri talaud. Beberapa penyelundupan berhasil digagalkan berkat kerja sama berbagai pihak terkait. Selain melindungi populasi dan habitat nuri talaud di alam, penangkaran di luar habitat alami cara lain melestarikan burung itu. Beberapa lembaga penelitian termasuk BP2LHK Manado pada 2012—2014 berupaya menangkarkan burung kerabat nuri sayap hitam Eos cyanogenia itu.

Nektar bunga durian salah satu makanan favorit nuri talaud.

Nektar bunga durian salah satu makanan favorit nuri talaud.

Sayangnya kegiatan itu belum membuahkan hasil maksimal. Meski demikian beberapa informasi mengenai ekologi nuri talaud yang selama ini belum ada dapat terjawab melalui kegiatan penelitian itu. Nuri talaud termasuk anggota burung paruh bengkok (Psittacidae). Ciri khasnya yaitu memiliki bentuk paruh melengkung ke bawah seperti catut dan sangat kuat. Ciri lainnya dua jari kaki menghadap ke depan dan dua jari ke belakang (zygodactil).

Lidah nuri juga tebal yang berfungsi untuk memegang (prehensile). Ukuran tubuh lori arlequin—sebutan nuri talaud di Perancis—berkisar antara 30—31 cm dan berbobot 150—190 gram. Nama talaud disematkan sebagai penanda spesies burung itu asli dari Gugusan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Beberapa taksonom membedakan Eos histrio menjadi tiga subspesies berdasarkan habitat serta morfologinya yaitu E.h. histrio, E.h talautensis, dan E.h challengeri.

Perbedaan ketiganya tidak terlalu jelas. Beberapa informasi menyebutkan ukuran tubuh E.h. histrio lebih besar daraipada E.h. talautensis dan juga memiliki bulu hitam di bagian sayap serta garis biru yang lebih kecil dibandingkan dengan kedua anak jenis lainnya. Sementara E.h. challengeri masih misterius hingga kini karena secara morfologi hampir sama dengan subspesies lain yang berasal dari tangkapan lokal di Pulau Karakelang.

Berdasarkan habitatnya E.h.histrio berasal dari Kepulauan Sangihe, E.h. talautensis asli Kepulauan Talaud, serta E.h. callengeri berhabitat di Kepulauan Nenusa dan Miangas. Nuri talaud menjadi magnet bagi peneliti yang ingin mempelajari zoogeografi. Burung yang dapat berumur hingga 15 tahun itu memiliki persebaran paling barat Indonesia dibandingkan dengan kerabat Eos lain yang tersebar di bagian timur Indonesia seperti nuri tanimbar Eos reticulata di Pulau Kai, Maluku Utara, serta nuri kalung ungu Eos squamata asal Maluku Utara dan bagian barat Papua.

Persebaran nuri talaud yang hanya di kepulauan Sulawesi Utara bagian utara merupakan sebuah keunikan karena Sulawesi sebagai pulau utama tidak pernah menjadi habitat nuri talaud dan kerabatnya. Burung kerabat nuri maluku Eos bornea itu lazim terbang dalam kelompok kecil berisi 8—10 burung dan bersuara khas. Habitat utama harlekinlori—sebutan nuri talaud di Jerman—hutan sekunder dan kebun.

Penangkaran di luar habitat salah satu upaya melestarikan nuri talaud.

Penangkaran di luar habitat salah satu upaya melestarikan nuri talaud.

Makanan favorit burung itu nektar bunga mayang kelapa, durian, jambu-jambuan (Myrtaceae), dan dadap (Erythrina sp.). Nuri talaud juga menyukai buah-buahan, biji-bijian, bahkan serangga seperti larva Sexava sp. yang menjadi hama kelapa. Untuk memperoleh nektar, nuri talaud mengandalkan ujung lidah yang berbentuk seperti sikat (papila). Burung kerabat nuri telinga ungu Eos semilarvata itu berkembang biak pada September—Oktober setiap tahun dan menghasilkan 1—3 telur.

Sarangnya berupa lubang pada pohon kering yang tinggi. Pengeraman 25—27 hari dan hampir dua bulan induk merawat anak hingga dapat keluar dari sarang. Perlindungan populasi dan habitat nuri talaud di alam menjamin keberlangsungan hidup anak burung itu sehingga fenomena pepohonan “merah” dapat disaksikan generasi masa depan. (Diah Irawati Dwi Arini, S.Hut, M. Sc., peneliti nuri talaud di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manado, Sulawesi Utara)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments