Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A. 

Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A.

Gubernur Riau Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A.

Provinsi Riau salah satu daerah di Indonesia dengan potensi besar dan berkembang pesat. Selama kurun 2010-2014 misalnya pendapatan per kapita di sana cenderung meningkat. Bahkan lebih tinggi daripada pendapatan per kapita nasional. Riau salah satu sentra utama kelapa sawit tanah air. Produk minyak kelapa sawit menjadi komoditas ekspor utama di provinsi itu. Riau juga memiliki potensi sumber daya pertanian yang melimpah dan strategis untuk dikembangkan demi ketahanan pangan masyarakat. Bagaimana peran pertanian dalam kemajuan Riau dan bagaimana arah pembangunan pertanian Riau ke depan? Pemimpin redaksi Majalah Trubus, Evy Syariefa berkesempatan mewawancarai Gubernur Riau, Ir. H. Arsyadjuliandi Rachman, M.B.A., di sela-sela kegiatan Temu Tugas Penyuluh dan Mimbar Sarasehan KTNA di Pekanbaru pada 11 Oktober 2017.

Pemerintah Indonesia mencanangkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045. Provinsi Riau memiliki kelapa sawit, hortikultura, perikanan, dan peternakan yang berkembang. Bagaimana Bapak melihat posisi Riau dalam strategi negara untuk mencapai sasaran lumbung pangan dunia?

Riau memiliki 9,6 juta hektare lahan. Saat ini perkebunan dengan seluruh komoditasnya mencapai luas 3,6 juta hektare. Di luar itu penggunaan lahan untuk yang lain termasuk hutan lindung, pertanian, tambang, dan sebagainya. Riau masih memiliki potensi sekitar 5,2 juta hektare lahan yaitu berupa gambut, khususnya di wilayah pesisir.

Lahan gambut itu belum tersentuh karena sebelumnya penggunaannya dibatasi. Saat ini sudah diidentifikasi oleh Badan Restorasi Gambut potensi gambut yang akan direstorasi sekitar 1 juta hektare. Kalau lahan gambut ini digunakan untuk komoditas yang akrab dengan gambut, salah satunya sagu, itu merupakan potensi besar.

Jadi harapan pemerintah, pada 100 tahun Indonesia Merdeka pada 2045, Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dengan ini dapat terwujud. Riau pasti akan memberikan kontribusi besar. Tinggal sekarang ini sambil merestorasi gambut, kita mencari komoditas yang cocok. Misalnya, ada keinginan presiden untuk mengepung Asia Tenggara dengan jagung. Itu cukup di Riau saja. Sekitar 100.000 hektare sudah kami siapkan. Entah itu untuk lahan jagung, sawah, atau pun komoditas lain yang cocok di lahan gambut. Dengan komoditas itu saja kita sudah dapat mengepung Asia Tenggara.

Baca juga:  Agar Mata Sehat

Berarti dalam hal ini, harapan mencapai lumbung pangan tidak hanya pada komoditas padi?

Jadi apa saja yang ditugaskan, Riau sudah siap untuk mendukung tercapainya misi pemerintah untuk lumbung pangan pada 2045 mendatang.

Pepaya salah satu komoditas hortikultura unggulan Riau.

Pepaya salah satu komoditas hortikultura unggulan Riau.

Sagu sudah teruji di Riau karena sudah ada turun-temurun. Terdapat 86.000 hektare di Riau dan ini potensi yang luar biasa. Namun, pasarnya memang selama ini tidak di Riau, tapi di Jawa (Cirebon). Saat ini kita sedang mencoba untuk melakukan transaksi sagu langsung di Riau, bahkan sudah ada yang ekspor.

Di samping cocok dengan daerah gambut, pengembangan sagu juga melestarikan kearifan lokal. Jadi hanya tinggal political will. Tentu dengan pertimbangan pemasaran dan transportasi. Jika jagung ya jagung kita keroyok di sini. Selain itu padi, hortikultura, dan palawija juga cocok. Jika diserahkan ke pemerintah daerah, maka secara perencanaan bisa kita siapkan. Namun, dukungan anggaran perlu dari pusat. Masalah komunikasi dengan pihak luar juga perlu dukungan pusat.

Riau memiliki posisi geografis sangat strategis dan akses pasar besar. Apa insentif pemerintah kepada pelaku pertanian untuk memanfaatkan hal itu?

Riau sedang melakukan pembenahan reformasi birokrasi dan mental di provinsi dan kabupaten kota. Dalam hal ini yang paling penting adalah peningkatan dan mempermudah pelayanan kepada stakeholders. Agar hal itu tercapai maka digunakanlah teknologi informasi untuk mengurus perizinan dan untuk memberikan informasi. Misal untuk pelayanan satu pintu kita sudah menggunakan teknologi informasi. Kita juga masuk di wilayah zona bebas korupsi. Walaupun bentuknya pelayanan, itu merupakan bentuk subsidi. Masyarakat tidak perlu khawatir lagi adanya pungli, itu merupakan salah satu insentif dari pemerintah.

Baca juga:  Atasi Keong Emas

Infrastruktur dan pembangunan pelabuhan yang mempermudah jalur barang dan jasa juga merupakan insentif dari pemerintah. Pada bidang pertanian yang mau diarahkan kepada organik, pemerintah memberi bantuan sapi (kotorannya sebagai sumber pupuk). Ini tentu sesuai kemampuan petani di sini dan dalam hal ini peran Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sebagai mitra pemerintah menjadi sangat strategis.

Salah satu sasaran di Riau adalah mendorong setiap daerah memiliki komoditas unggulan. Apakah bentuknya One Village One Product (OVOP) seperti di Jepang atau One Thambun One Product (OTOP) di Thailand?

Kabupaten kota memang harus mempunyai komitmen yang sama. Karena secara demografi dan topografi, khususnya topografi (di pesisir berupa gambut, di darat tanah podsolik merah kuning), sudah bisa dilihat potensi daerah masing-masing. Menurut saya OVOP atau OTOP agak susah, karena jika satu kabupaten sukses maka daerah lain juga akan mengikutinya. Oleh karena itu, perlu melakukan pemetaan wilayah. Syukur-syukur kalau bisa OVOP atau OTOP. Malah mungkin dalam bentuk kawasan, bukan hanya desa-desa agar mendapatkan hasil yang sesuai.

Industri sawit salah satu komoditas utama di Riau sudah stabil dan kokoh. Sementara Riau juga memiliki potensi hortikultura palawija, perkebunan, dan lainnya. Mana yang menjadi prioritas selanjutnya?

Di Riau sebetulnya membutuhkan seluruh komoditas di atas karena pasar sangat luas. Karena dengan adanya kemajuan daerah, kebutuhan itu akan terus bertambah. Oleh karena itu, perlu pemetaan mana yang akan kita prioritaskan. Walaupun semuanya hampir sama karena permintaan pasarnya ada dan dibutuhkan oleh masyarakat. Tentu lihat dari hasil pemetaan, mana yang paling prioritas dalam menyelamatkan ketahanan pangan masyarakat.

Sebagai gambaran Riau memiliki produk sayuran dan buah unggulan yang mampu menggantikan buah-buah impor yang kini sudah hadir sampai tingkat kecamatan. Selama 1—2 tahun terakhir Riau sudah mampu swasembada cabai sehingga harga cabai terkendali dan Riau satu-satunya daerah di mana cabai tidak menyebabkan inflasi. Saat ini yang diperlukan semangat para stakeholders pertanian untuk mendukung kemajuan pertanian. Semua di Riau bisa!***

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d