Faldi Adisajana berbisnis mandiri sejak muda.

Faldi Adisajana berbisnis mandiri sejak muda.

Faldi Adisajana meraih omzet besar dari penjualan 500 boneka kokedama kreasinya per bulan.

Pebisnis kokedama di Bandung, Jawa Barat, Faldi Adisajana, menyulap boneka kokedama lebih hidup. Pemuda 24 tahun itu menambahkan tiruan mata, tangan, dan kaki sehingga menyerupai boneka. Setelah menyulap penampilan kokedama, konsumen terutama anak-anak tertarik membeli dan memeliharanya. Harga satu kokedama kecil Rp110.000, sedangkan ukuran besar mencapai Rp315.000—RpRp430.000 per tanaman.

Setahun terakhir masyarakat di berbagai kota di Indonesia kian mengenal kokedama. Mereka makin menggemari tanaman yang tumbuh dalam wadah berbentuk bola lumut. Istilah itu berasal dari kata koke berarti lumut dan dama bermakna bola. Kokedama adalah tanaman yang ditanam dengan bola lumut. Bola lumut sebagai wadah tumbuh tanaman. Saat ini, teknik kokedama berkembang ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Boneka kokedama jadi maskot usaha Faldi Adisajana

Boneka kokedama jadi maskot usaha Faldi Adisajana

Permintaan tinggi
Inovasi lain Faldi menerbitkan sertifikat adopsi untuk konsumen yang membeli boneka kokedama di kiosnya. Sertifikat adopsi berisi informasi jenis tanaman, umur, dan nama boneka kokedama. Anak-anak pun terpicu untuk memelihara tanamannya agar tetap tumbuh. Pelajar di Kota Bandung, Jawa Barat, Suci Rohmayni, “mengadopsi” kokedama bernama Coro pada Mei 2017. Saat itu, Coro duduk santai sambil selonjoran di “kebun” sukulen.

Matanya yang bulat membuat gemas pengunjung yang melihatnya. Apalagi ia tersenyum ramah. Rambutnya yang mirip kulit tokek membuat penampilannya makin unik. Coro nama boneka kokedama dari jenis haworthia. Konsumen dapat memberi nama baru untuk boneka tanamannya itu. Seperti halnya Suci yang memberi nama Coro untuk kokedama yang baru dibelinya.

Itu menyebabkan anak-anak memperlakukan bonekanya seperti hewan peliharaan karena adanya keterikatan. Boneka tanaman kreasi Faldi merupakan pengembangan inovasi kokedama yang merupakan tradisi masyarakat Jepang. Berkat inovasi itu permintaan kokedama pun kian banyak. Faldi menjual rata-rata 500 boneka kokedama per bulan. Harga sebuah boneka kokedama mencapai Rp110.000—Rp430.000.

Coro, nama boneka kokedama produksi Faldi Adisajana.

Coro, nama boneka kokedama produksi Faldi Adisajana.

Menurut anak pertama dari 3 bersaudara itu, konsumen boneka kokedama semula ditujukan untuk anak-anak. Namun, ternyata remaja hingga orang tua pun menggemarinya. Faldi membidik hari ulang tahun anak sebagai momentum untuk memasarkan kokedama. Namun, karena remaja dan orang dewasa juga menyukainya. Calon pengantin meminta kokedama untuk suvenir pernikahan.

Baca juga:  Rumah Tanam Pintar

Pemesanan suvenir mencapai 400—500 buah per bulan. “Bila souvenir hanya berupa tanaman hias, cukup disiapkan satu pekan. Namun, bila mereka meminta boneka, maka perlu waktu sebulan untuk menyiapkan. Yang paling banyak menyumbangkan omzet dari penjualan boneka, anggrek, dekorasi, dan suvenir nikah”. Namun ia menolak membeberkan omzet keseluruhan.

Boneka melayang

Faldi Adisajana mengisi berbagai gerai di beberapa mal.

Faldi Adisajana mengisi berbagai gerai di beberapa mal.

Untuk memudahkan pemasaran, pemuda yang jago silat itu mengisi sebuah gerai waralaba terkenal di Bandung. Di gerainya, setiap pekan ia mengisi minimal 100 unit kokedama. Selain kokedama, gerai itu diisi dengan boneka dan tanaman hias. Perusahaan waralaba itu kemudian meminta agar Faldi memasok kokedama, boneka, dan tanaman hias untuk semua cabangnya. Padahal, perusahaan itu mempunyai puluhan cabang di berbagai kota di Indonesia.

Permintaannya terbagi atas 3 jenis kokedama anggrek, tanaman hias, dan boneka. Namun, Faldi belum mampu memenuhi permintaan yang mencapai ribuan unit itu. Harap mafhum, rekan-rekan setimnya yang tergabung dalam Planter Craft sedang sibuk merampungkan kuliah sehingga tidak bisa fokus memenuhi permintaan perusahaan waralaba itu. Selain itu Faldi juga mendapat pesanan dari Korea, Jepang, dan Thailand rata-rata dua kali setahun.

Mulai dari anak-anak hingga dewasa menyukai boneka kokedama.

Mulai dari anak-anak hingga dewasa menyukai boneka kokedama.

Pengiriman 75—100 kokedama ke Korea per sekali kirim. Itu buah kerja keras Faldi mempromosikan karyanya di media sosial. Menurut Faldi kokedama tidak hanya cocok dipajang di meja atau sudut ruangan. Peraih Global Student Interpreneurship 2017 itu mengatakan, pehobi juga dapat memanfaatkan kokedama sebagai tanaman gantung atau hanging plant. Untuk itu, ia menggunakan senar berwarna bening untuk menggantung kokedama.

Permintaan kokedama anggrek dan tanaman hias mencapai 400—500 per bulan.

Permintaan kokedama anggrek dan tanaman hias mencapai 400—500 per bulan.

Dengan pemakaian senar yang tidak berwarna sehingga kokedama tampak seperti melayang di udara. Finalis Nasional Student Entrepreneur Global 2017 itu pernah menerapkan ide itu saat mendekorasi halaman rumah Giselle, istri pembawa acara Gading Marten. Untuk acara pertemuan yang dihadiri beberapa artis itu, Faldi menggantung belasan kokedama anggrek dan bromeliad di pohon di halaman rumah.

Boneka imut modifikasi dari boneka lumut Jepang.

Boneka imut modifikasi dari boneka lumut Jepang.

Kemitraan
Pada perayaan Natal 2016, Planter Craft, nama brand usaha Faldi mendapat kesempatan mendekorasi panggung sebuah mal terkenal di Bandung. Ia menggantung beberapa kokedama di atap panggung sehingga puluhan tanaman melayang. Pemanfaatan tanaman hias memang kian meluas. Itulah sebabnya Faldi membutuhkan banyak bahan baku. Setiap bulan ia memerlukan 2 karung lumut dari seorang pemasok.

Boneka kokedama mulai mendunia.

Boneka kokedama mulai mendunia.

Lumut harus berwarna hijau segar berketebalan 2—3 cm. Setiap bulan Faldi membutuhkan minimal 500 tanaman hias seperti echeveria, haworthia, dan cryptanthus untuk boneka. Selain itu mantan aktivis kampus itu juga membutuhkan anggrek, poinsettia (kastuba), philodendron, peperomia, dusty miller, palem, anthurium bunga, dan begonia. Pemuda kelahiran 1993 itu bermitra dengan beberapa petani di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Karyawan Planter Craft, usaha membuat kokedama dan binsis tanaman hias.

Karyawan Planter Craft, usaha membuat kokedama dan binsis tanaman hias.

Para petani memasok beragam tanaman hias itu. Setiap hari Faldi dan anggota utama 5 orang beserta 15 anak panti asuhan membuat minimal 10 dan maksimal 50 boneka kokedama. Mereka menambahkan tanah, kerikil halus, serbuk sabut kelapa, sebagai media tanam dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran itu mengisi hari-harinya dengan memperkenalkan kokedama di berbagai tempat.

Bahan baku untuk membuat boneka kokedama.

Bahan baku untuk membuat boneka kokedama.

Setiap pekan, ia mengikuti pameran di Bandung dan Jakarta. Di Jakarta, ia mengisi gerai di Senayan City dan Mal Taman Anggrek, keduanya pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Bahkan ia pun sempat mengisi bazar Festival Hortikultura Internasional, di Goyang, Seoul, Korea Selatan, pada Mei 2016. Saat itu ia membawa 2 boks besar berisi sekitar 100 unit boneka kokedama. Semua habis di pameran.

Faldi Adisajana mengisi berbagai acara di media massa.

Faldi Adisajana mengisi berbagai acara di media massa.

“Konsumen menjadi tertarik karena kokedama dianggapnya lucu,” kata Faldi. Kesibukan lain Faldi ialah mengisi beberapa acara di berbagai media elektronik, dan menjadi pembicara dan lokakarya di sekolah-sekolah. Faldi akan meningkatkan usaha Planter Craft dengan menekuni dekorasi dan perawatan tanaman. “Jadi bukan hanya tanaman hias kreatif yang digeluti, tetapi juga perawatan tanaman di kantor-kantor dan hotel. Kami sudah beberapa kali diminta untuk mendekor acara seminar,” kata Faldi. (Syah Angkasa)

Baca juga:  Pembawa Damai Nan Elegan

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d