Rempah Sebagai Kunci Sejarah 1
Pohon pala Myristica fragrans, salah satu jenis rempah yang sohor.

Pohon pala Myristica fragrans, salah satu jenis rempah yang sohor.

Namanya puitis sekali, Jalur Sutra (Silk Road). Mungkin karena namanya yang puitis itulah kemudian Jalur Sutra menjadi nama yang sohor untuk jalur dagang yang menghubungkan antara negeri Barat dan Timur pada masa lalu. Namun, ada juga yang bilang di balik nama puitis itu tersimpan maksud politis Tiongkok. Mereka ingin menggunakan sejarah untuk membangkitkan dan melegitimasi nafsunya menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Entahlah, mana yang benar, yang jelas di dalam sejarah Jalur Sutra itu sutra hanya salah satu komoditas yang diperdagangkan. Justru komoditas yang paling utama dan banyak diperdagangkan adalah rempah. Sebab itu para sejarawan lebih sering menyebutnya Jalur Rempah (Spice Route).

Lagi pula Jalur Sutra baru terbentuk pada abad ke-2 SM. Padahal, seabad sebelumnya rempah sudah sohor di Tiongkok. Saat itu Kaisar Han memerintahkan bangsawannya mengunyah cengkih bila menghadap agar napasnya segar. Jalur Rempah sudah ada sejak 1721 SM sebagaimana dibuktikan dengan penggalian arkeologi yang menemukan beberapa cengkih di dalam satu guci keramik di dapur rumah di Terqa, Mesopotamia yang kini Suriah.

Bahkan, ada yang bilang lebih tua lagi dengan mengaitkannya pada pelayaran orang Mesir kuno mencari rempah berupa kapur barus untuk membalsem raja mereka. Adrian B. Lapian, sejarawan utama maritim Asia tenggara, termasuk yang pertama mengoreksi salah paham sejarah itu. Ia menyayangkan sebutan Jalur Rempah yang kurang diapresiasi. Tidak kelihatan upaya serius masyarakat Indonesia mengoreksi atau mencari penjelasan peristiwanya yang lebih tepat dan berimbang atas sejarah itu.

Menurut Jack Turner dalam Sejarah Rempah, Indonesia selalu dikaitkan dengan banyak bahan tumbuhan yang diklasifikasikan sebagai rempah. Ia mengutip katalog dagang dari abad ke-14 saudagar Francesco Balducci Pegolotti yang mencantumkan tak kurang 188 jenis rempah, seperti cendana, kayu manis, dan kapur barus. Namun, kata J. de Barros dan F.L. de Castanheda kronikus awal Portugal masa penjelajahan samudera, di peringkat tertinggi dan lebih mahal serta lebih banyak menimbulkan penderitaan daripada emas adalah cengkih dan pala.

Bunga cengkih dahulu sebagai pengharum mulut sebelum menghadap raja.

Bunga cengkih dahulu sebagai pengharum mulut sebelum menghadap raja.

Sebutan Jalur Rempah menjelaskan bahwa Indonesia telah terkoneksi dengan jejaring perdagangan global puluhan ribu kilometer sejak 4.000 tahun lalu. Selain itu Jalur Rempah lebih jauh dapat membuka akar-akar yang membangkitkan negara, kerajaan, kekuasaan yang kuat serta ikonik dalam sejarah nasional, seperti Majapahit, Airlangga, dan negara bandar Barus, Aceh, Banten.

Baca juga:  Rancangan Undang-Undang Perkelapasawitan

Sumatera sebagai pintu masuk maritim dari Asia timur tak ayal menjadi tempat bangkitnya kerajaan besar Sriwijaya pada abad ke-3, disusul Barus abad ke-6. Sejarawan O.W. Wolters yang tekun meriset Sriwijaya dan C. Guillot yang mencermati Barus memperlihatkan betapa keduanya mampu bangkit karena bisa mengelola kekayaan rempah, terutama kemenyan dan kapur barus.

Kekayaan modal dari hasil perniagaan rempah itu kemudian dikonversi jadi modal intelektual, sehingga mampu memainkan peran dalam arus sejarah dan berumur panjang. Kejatuhannya pun diperdebatkan antara karena bajak laut atau bencana alam. Akumulasi kekuatan intelektual Sriwijaya tercermin di laporan I Tsing yang memerikannya sebagai ruang peradaban pendidikan Buda terbaik.

Sementara di Barus muncul asketisme intelektual yang warnanya lain, yaitu Islam. Perniagaan kapur barus memungkinkan jarak masuknya Islam di Barus begitu pendek dengan di Mekah yang hanya selang kurang seabad dari kehidupan Nabi Muhammad. Kemakmuran dari perniagaan global itu pun membentuk Barus sebagai kota kosmopolit dengan interkulturalismenya, sehingga aneka agama dapat hidup berdampingan.

Itulah sebabnya di Barus dapat muncul intelektual, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Al-Singkili. Semangat zaman memahkotai peradaban dengan aktivitas pengetahuan dari hasil akumulasi modal perdagangan rempah terjadi juga di Jawa. Pada abad ke-8 dan ke-9, Wangsa Syailendra tidak cukup puas hanya dengan mengirim para pelajar Jawa ke Nalanda dan menjadikan negerinya poros baru pengetahuan Buda.

Ia juga menggunakan kekuatan intelektual masyarakatnya untuk mendirikan bangunan monumental Borobudur. Di antara relief kisah kolosal Buda ada 11 relief perahu itu menjadi petunjuk bahwa buah imajinasi intelektual tinggi seperti Borobudur dapat direalisasi Syailendra karena keuntungan besar pengembangan jejaring perniagaan maritim global.

Kitab Negarakertagama bukan saja menjelaskan Majapahit menyebut kepulauan Maluku secara tepat, tapi juga mengetahui posisinya. Majapahit bukan melakukan ekspansi militer, tetapi dengan kekuatan intelektual yang diperlihatkan dalam bentuk yang disebut Clifford Geertz theatre state, berhasil menanamkan pengaruh wibawanya di jejaring rempah Nusantara agar diageninya.

Baca juga:  Dokter ke Pabrik Herbal

Sebelum akhirnya peran itu diambil alih dengan mulai munculnya negara-negara bandar Islam di pesisir pada abad ke-15 dan ke-16. Itulah masa yang disebut Anthony Reid masa kejayaan perdagangan ‘negeri bawah angin’ yang akhirnya menghubungkan Nusantara dengan seisi dunia. Itu pula saat munculnya “Syair Perahu” karya Fansuri dari Barus dan Perdana Menteri Makassar, Karaeng Pattingaloang seorang poliglot yang nalarnya membidik ke antero dunia untuk memuaskan dahaga ambisi astronomi serta geografi.

Biji pala antara lain berkhasiat menenangkan.

Biji pala antara lain berkhasiat menenangkan.

Itu tak sekadar persambungan pengutamaan arus kekuatan maritim sebagaimana yang tergambar di relief perahu karya para empu tak bernama di Borobudur itu. Namun, hal itu juga suatu puncak perkembangan jejaringan hubungan maritim yang sangat baik, didukung kemajuan teknologi kapal, keahlian navigasi, dan suatu enterprising spirit yang besar. Nusantara di tengah masa pencerahan dan siap berdialog ihwal pencerahan yang juga tengah terjadi di Eropa.

Pencerahan Eropa yang sampai di Nusantara bukanlah suatu keseimbangan sebagaimana kartografer masa renaisans Joan Blaeu gambarkan penuh kehormatan dan kesetaraan di dalam Atlas Maior yang dibuatnya dengan menempatkan Pattingaloang di hemisfer Timur bersama Mercator sang nabi kartografi modern awal di Barat. Atau gambaran penyair dramawan Joost van den Vondel yang juga didedikasikan untuk Pattingaloang, yaitu suatu semangat Timur-Barat bersama menemukan pengetahuan baru yang berkaitan dengan kemampuan menghasilkan ciptaaan akal budi yang memukau.

Jalan sejarah memang sukar ditebak. Dialog dan petukaran ilmu, budaya, bahasa, keahlian, agama yang sebelumnya dapat berjalan damai tidak lagi terjadi. Demikian sesungguhnya rempah adalah kunci yang di dalam terminologi sejarah dunia disebut Age of Discovery. Dari rempah itu pula kita menemukan Indonesia yang kini tertatih menemukan kembali persambungan masa lalunya, bukan sekadar menjadi buih yang kian kemari dimainkan arus sejarah. (JJ Rizal, Sejarawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments