Rekening Gemuk Karena Puring 1

Setiap bulan Ilham Akbar meraih omzet Rp20 juta—Rp25 juta dari penjualan puring. Kini usahanya merambah ke tanaman taman dan rental tanaman.

Ilham Akbar mengusahakan puring sejak 10 tahun lalu di Kediri, Jawa Timur.

Ilham Akbar mengusahakan puring sejak 10 tahun lalu di Kediri, Jawa Timur.

Ilham Akbar melayani permintaan tanaman puring dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Pontianak (Kalimantan Barat), Palu (Sulawesi Tengah), dan Ambon (Maluku). Mereka memesan Codiaeum variegatum berukuran 20—50 cm yang beragam jenis sebanyak 1.000 tanaman. Varietas yang mereka minta umumnya berdaun lebar seperti vinola, kipas dewa, dan oscar. Pemuda 24 tahun itu memiliki kebun puring seluas 60 ru atau sekitar 860 m², berisi 200 varietas dengan ratusan tanaman.

Namun, ketersediaan tanaman di kebunnya belum mencukupi. Itulah sebabnya Ilham Akbar menjalin kemitraan dengan empat petani di Kediri, Provinsi Jawa Timur, untuk memenuhi permintaan konsumen. Keempat mitranya itu mampu memproduksi puring hingga 10.000 tanaman per bulan.

Sejak belia

Ilham Akbar mulai menggelut usaha puring pada 2007 atau saat berumur 14 tahun. Pelajar kelas 1 sekolah madrasah itu memilih mengusahakan puring mengikuti tetangganya. Sulung dari dua bersaudara itu mulai usahanya dengan membeli 10 pot varietas worten beauty, puring cantik berdaun lebar. Ia kemudian memperbanyak dengan menyambungnya ke puring lokal yang banyak di sana. Cara perbanyakan dipelajari dari pekebun dekat rumah. Dalam setahun, ia mempunyai 1.000 tanaman.

Pria kelahiran 14 September 1994 itu mengoleksi sekitar 200 varietas. Akbar menanam puring pada setahun silam berjarak rapat di bedengan. Penamanan padat untuk menghemat tempat sekaligus menekan pertumbuhan gulma. Ia menanam puring di tengah bedengan selebar 100 cm dan di bagian pinggir sebagai sisipan. Selain itu penanaman di bedengan agar memudahkan pengairan. Ia menyedot air tanah menggunakan mesin diesel kemudian mengalirkan air ke tanaman lewat selokan di antara bedengan. Untuk merawat semua tanaman, ia dibantu oleh 4 tenaga kerja dan belasan pekerja lepas.

Soka mini salah satu komoditas andalan Ilham Akbar.

Soka mini salah satu komoditas andalan Ilham Akbar.

”Usaha pembibitan ini enak karena tidak perlu lahan luas,” kata Akbar. Ia cukup memanfaatkan halaman rumah seluas 20 m x 4 m. Ia pun menggunakan polibag kecil agar semua bibit dapat ditampung di area sempit itu. Akbar hanya memperbanyak 1 varietas agar mudah dijual semuanya. Konsumennya pedagang biasanya memborong semua, tetapi dengan harga lebih rendah 30—50% dari harga jual eceran.

Baca juga:  Cinta Puring Sepenuh Hati

Usaha lain

Akbar menggeluti tanaman secara tidak sengaja. Setelah ayahnya wafat, tak berselang lama ibunya kecelakaan sehingga kaki patah. Ketika itulah, Akbar mengambil alih tanggung jawab mencari nafkah untuk ibu dan adik. Pada 2014, ia mulai menggeluti tanaman penghijauan dengan menanam trembesi atau kihujan sebanyak 10.000 batang. Ia menjualnya ke teman yang khusus menjual trembesi. Selain itu, ia juga menanam tabebuya pohon afrika, kaki gajah, randu australia, dan moringa jumbo.

Tanaman-tanaman itu tumbuh di sela-sela puring sebagai sumber keuntungan. Akbar menyukai tanaman penghijauan karena tidak banyak saingan. Penyebabnya, umur pohon lama sehingga tidak menarik orang untuk menanam. Bagi Akbar lamanya panen tidak menjadi masalah karena ia tidak menunggunya.

582 121

Sebab, makin besar pohon, harganya pun kian tinggi. Apalagi pohon itu ditanam sebagai selingan di tengah-tengah tanaman puring. Saat merawat puring, pohon itu ikut mendapat perhatian. Pemuda jangkung itu pun menganggap pohon afrika itu sebagai tabungannya. Akbar pernah meraup untung besar dari 1 pohon afrika. Waktu itu ia membeli bibit Rp300.000. Setelah tiga tahun, ia bisa menjualnya sepuluh juta rupiah. Uang keuntungannya, ia belikan bibit lagi sebanyak 100 pohon untuk ditanam lagi.

Kini ia mempunyai 400 pohon pohon afrika. Ia membeli bibitnya setinggi 30 cm. Pada umur 1,5 tahun, tingginya 2 m. Meski baru 1,5 tahun, tanaman itu bisa dijual Rp 750.000—Rp 1 juta per pohon. Usaha tanaman lain yang digeluti Akbar ialah soka bunga merah muda. Ia membuat 10.000 setek sepanjang 5 cm. Setelah dipelihara satu bulan setek pun berakar. Ia lalu menawarkan bibit itu ke tetangga terutama pemuda yang menganggur dengan harga Rp700 per tanaman.

Kelor jumbo sebagai tabungan.

Kelor jumbo sebagai tabungan.

Mereka meliharanya 3—4 bulan, hingga soka berbunga. Akbar kemudian membelinya kembali dengan harga Rp2.200 per tanaman. Akbar kemudian menjual Rp3.000—Rp3.500 per tanaman ke pedagang. Dari perniagaan soka, Akbar meraup omzet Rp8.000.000 per 3 bulan. Pemilik kebun Akbar Garden itu juga menyediakan tanaman hias untuk menghias taman serta menyewakan tanaman. Setiap bulan ia menyewakan 50—100 pot tanaman ke beberapa instansi yang tersebar di Kediri dan sekitarnya dengan harga sewa Rp4.000—Rp8.000 per hari yang diganti setiap 10 hari.

Baca juga:  Juara Kontes Perdana

Dari keseluruhan usaha, Ilham Akbar mendapat pemasukan Rp20 juta—Rp25 juta per bulan dengan pengeluaran Rp10 juta—Rp15 juta per bulan. Ia berencana mengembangkan taman buah untuk agrowisata. Lahannya seluas 2 ha telah siap di kawasan simpang lima. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *