Rawat Daun Mutasi

Sebagian koleksi anthurium milik Dwi Bintarto.

Sebagian koleksi anthurium milik Dwi Bintarto.

Sebagian besar koleksi anthurium milik Ir. Dwi Bintarto adalah variegata. Meski tanaman yang dikoleksi mengalami kelainan alias mutasi, tapi seluruh koleksinya tampak subur. Untuk membudidayakan anthurium mutasi, Bintarto menanamnya dalam pot berisi media tanam berupa campuran pakis, pasir malang, dan daun kaliandra dengan perbandingan 8:1:2.

Bintarto menggunakan pakis bekas. “Sekarang media tanam pakis mahal dan dilarang penjualannya,” ujarnya. Sebelum menggunakan, ia merendam media pakis bekas dalam larutan efektif mikroorganisme (EM) selama 10–14 hari. Setelah itu, ayak pakis hingga terpisah antara pakis kasar dan halus. Ia memanfaatkan pakis kasar sebagai media tanam. Selanjutnya keringanginkan pakis kasar, lalu taburkan fungisida untuk mencegah kontaminasi cendawan.

Media anthurium berupa pakis daur ulang.

Media anthurium berupa pakis daur ulang.

Menurut Bintarto media tanam pakis dapat digunakan hingga 2—3 kali tanam. Bintarto menyiram tanaman 2 hari sekali. Untuk mencegah cendawan pada media tanam, ia menyemprot media dengan fungisida pada tanggal 5, 15, dan 25 setiap bulan. Untuk pemberian pupuk setiap tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulan. Bintarto meletakkan seluruh tanaman di bawah naungan jaring peneduh 60 %.

Artinya sinar matahari yang diterima tanaman hanya 40–50%. Menurut Bintarto intensitas sinar matahari mempengaruhi pertumbuhan anthurium variegata. Jika sinar matahari terlalu teduh, maka tangkai daun si ratu daun akan tumbuh memanjang sehingga sosok tanaman menjadi tidak kompak. (Marietta Ramadhani)

Tags: daun anthurium, majalah trubus, mutasi

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x