Rawat Anthurium Jagoan 1
Pajajaran koleksi Bintang L Yusfantare terbaik di kontes di Magelang, Jawa Tengah

Pajajaran koleksi Bintang L Yusfantare terbaik di kontes di Magelang, Jawa Tengah

Cara merawat anthurium berkarakter.

Sosok anthurium pajajaran bagai magnet yang menyedot perhatian pengunjung kontes tanaman hias. Penampilannya memang sangat menarik. Daunnya bulat oval bertepi menekuk ke atas mirip mangkuk. Urat-urat daunnya sangat nyata dan ujung saling bertemu. Permukaan daun pun penuh kerutan tajam. Pantas para juri menobatkan anthurium koleksi Bintang L Yusfantare sebagai jawara anthurium kelas karakter di Kopeng, Kotamadya Salatiga pada 2014.

Kolektor tanaman hias di Tangerang, Provinsi Banten, Bintang L Yusfantare, mendapatkan anthurium berkarakter dari seorang kolektor anthurium di Cilandak, Jakarta Selatan. “Bila menyemai sendiri, peluang mendapatkan anthurium berkarakter sangat kecil,” kata Sapto Birowo, pehobi yang merawat anthurium pajajaran. Dari ratusan biji itu tidak sampai 10 anakan memiliki karakter istimewa. Apalagi, “Tidak semua anakan berdaun berbentuk mangkuk stabil hingga dewasa,” tutur pria yang memelihara anthurium sejak 2005 itu.

Pucuk anthurium grand pa dilindungi plastik agar tidak tergores daun di bawahnya

Pucuk anthurium grand pa dilindungi plastik agar tidak tergores daun di bawahnya

Tulang daun
Menurut Sapto Birowo banyak daun anthurium berbentuk mangkuk berubah menjadi normal seiring pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu ia mempunyai kriteria ketika memilih daun mangkuk yang stabil hingga dewasa. Birowo mengatakan pola urat daun pada daun menjadi indikator kestabilan bentuk daun. Ia memilih daun yang memiliki tulang bertemu di ujung alias tidak terputus.

Tipe urat daun seperti itu cenderung bertahan hingga dewasa, bahkan akan menarik tepi daun sehingga bentuk mangkuk stabil. Ia lantas memelihara anthurium berbakat karakter itu di pot berdiameter 20—30 cm. Birowo memilih media campuran cacahan pakis, sekam mentah, dan pasir malang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Setelah mencampur rata, ia memasukkan media itu ke pot sambil menanam calon jagoan. Setelah itu, ia menimbun akar dan batang hingga melewati bibir pot.

Baca juga:  Gempita Tanaman Hias Thailand 2018

Saat pucuk daun mulai muncul, Birowo memberikan pengaman berupa plastik berketebalan 0,3 mm di belakangnya. Agar lebih tebal, ia menggulung plastik. Pemberian plastik bertujuan agar daun tetap utuh tanpa sobek hingga dewasa. Dwi Bintarto menerapkan cara serupa. Pehobi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu memiliki anthurium grand pa yang juga berkarakter dan berdaun mangkuk. Grand pa dua kali juara kontes nasional di kelas karakter.

Pilih bibit mangkuk dengan urat menyatu di ujung

Pilih bibit mangkuk dengan urat menyatu di ujung

Menurut Dwi, tepi daun anthurium sangat kaku dan tajam sehingga berpotensi mengiris pucuk daun yang memang sangat lembut. Saat pucuk tumbuh, ia menggesek tepi daun belakangnya sehingga terluka. Saat masih kecil, luka gesekan hanya seperti goresan. Namun, setelah tua, goresan menjadi sobekan atau lubang di daun. Lubang itu terlihat di salah satu daun grand pa, akibat gesekan saat masih pucuk.

Meski demikian, lubang itu tidak mengurangi keistimewaan karakternya. Pemilik nurseri di Jagakarsa, Jakarta Selatan itu, hanya berani menurunkan grand pa di kelas karakter. Titik berat penilaian di kelas itu pada karakter, bukan pada sosok tanaman secara keseluruhan. Dwi hanya melindungi anthurium mangkuk bertangkai pendek dengan plastik. Bila tangkai panjang, pucuknya jarang bersentuhan dengan daun tua sehingga tidak perlu dilindungi plastik.

Ganjal daun agar tidak menyentuh media untuk hindari serangan hama dan penyakit

Ganjal daun agar tidak menyentuh media untuk hindari serangan hama dan penyakit

Pendam
Menurut Dwi Bintarto gesekan kecil mungkin juga terjadi pada anthurium yang pucuknya dipendam. Itu biasanya terjadi pada anthurium hasil perbanyakan dengan pencacahan bonggol. Saat pucuk baru muncul, ujung pucuk tidak mampu mengangkat atau menembus media yang menimbunnya sehingga patah.

Ia lalu meletakkan anthurium itu di bawah jaring dengan kerapatan 30%. Artinya tanaman menerima sinar matahari 70%. Kurangnya intensitas sinar matahari menyebabkan tangkai daun lebih panjang. Dampaknya susunan daun tidak roset atau tidak rapat. Tanaman anggota famili Araceae itu menyukai sinar matahari pagi atau sinar yang panjang sehingga setiap muncul pucuk muda diarahkan menghadap sinar matahari yang panjang. Keliru menempatkan tanaman menyebabkan daun berputar sehingga tidak kompak dengan daun lain sehingga mengurangi nilai bila mengikuti kontes.

Baca juga:  Molek Kampiun Kontes

Salah satu kendala pehobi anthurium ialah ukuran daun baru yang jauh lebih besar daripada daun sebelumnya. Untuk mencegahnya, Birowo memberikan pupuk organik cair yang mengandung unsur makro dan mikro, asam amino lengkap, pembenah tanah, dan hormon tumbuh. Pehobi yang juga karyawan perusahaan otomotif selama 15 tahun itu memberikan pupuk cair dua kali sepekan saat daun pupus.

Sapto Birowo, pehobi sejak 2005

Sapto Birowo, pehobi sejak 2005

Ia mengencerkan 1 tutup botol pupuk cair per liter air dan menyemprotkan ke akar. Bila muncul tunas baru, ia menyemprot lagi dengan pupuk yang sama. Selain itu, pria 38 tahun itu menyiram tanamannya dengan air dari kolam ikan.

Dwi Bintarto memberikan pupuk dan pestisida secara terjadwal. Setiap bulan pada tanggal 5, 15, dan 25, ia menyemprotkan insektisida. Adapun pada tanggal 10 dan 25, Dwi memberikan pupuk NPK 20:20:20 plus kalsium. Pada bulan berikutnya, tanaman dipupuk dengan NPK 25:5:20. Posisi daun anthurium pun kerap terlalu rendah, 2—3 cm dari media, terutama bila daun kian lebar. Kondisi lembap mengundang hama atau penyakit untuk bersarang atau menyerangnya. Untuk mengatasi, Dwi Bintarto menopang daun dengan potongan stirofoam. Dengan perawatan sederhana itu, pajajaran dan grand pa tampil prima pada kontes anthurium. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *