Lady saraswati dan mutasinya

Lady saraswati dan mutasinya

Aglaonema saraswati berdaun putih itu ditebus Hani Faroko Rp15-juta.

Saraswati dalam kepercayaan umat Hindu adalah dewi ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, seni, dan inspirasi. Sang Dewi digambarkan sebagai wanita cantik, berkulit halus dan bersih. Itu merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri.

Keindahan diri juga terpancar dari empat lady saraswati koleksi Solimin. Saraswati pertama berdaun hijau berbercak merah dengan tulang daun merah. Saraswati kedua berwarna merah lebih dominan. Saraswati ketiga dominan hijau, keempat hijau dengan bercak dan tulang daun putih.

Satu induk

Harap mafhum keempat saraswati itu adalah aglaonema koleksi Solimin. Saraswati pertama merupakan sosok asli sang ratu daun. Aglaonema itu lahir dari tangan Gregori Garnadi Hambali, penyilang sri rejeki di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Tiga lady saraswati lainnya merupakan mutasi warna dari yang pertama.

Sosok saraswati asli mengingatkan pada hot lady. Aglaonema yang disebut terakhir juga lahir dari tangan Gregori Hambali. Sang ratu daun bercorak warna hijau dengan bercak merah dan tulang daun merah. Ciri khasnya ujung daun meruncing, nyaris seperti berekor.

Lady saraswati merah

Lady saraswati merah

Menurut Solimin, pemilik nurseri Winolia di Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten, yang banyak mengoleksi aglaonema, memang sulit membedakan saraswati dan hot lady bila tanpa membandingkan langsung keduanya. Indriyani, istri Gregori Hambali, mengungkapkan saat mereka merilis hot lady pada 1997, jenis itu terdiri atas 2 seedling yang berasal dari tetua yang sama. Namun, karena tampilannya sama sehingga keduanya sama-sama disebut hot lady.

Atas seizin Indriyani, Solimin kemudian memberikan nama “lady saraswati” pada hot lady kedua. Pada 2011, lady saraswati mengalami mutasi menjadi warna putih. Salah satu anakannya koleksi Hani Faroko di atas. Pehobi tanaman hias di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, itu rela membeli jenis mutasi langka itu Rp15-juta; jenis yang sama tapi normal tidak sampai Rp500.000.

Baca juga:  Beras Baru Nonpadi

Naik kelas

Bersalinnya warna memang membuat tanaman “naik kelas”. Sosoknya menjadi berbeda, kian cantik, dan langka karena mutasi jarang terjadi. Pantas jika Bintoro Wijaya di Jember, Jawa Timur, kepincut untuk mengoleksi aglaonema mutasi. Tidak kurang 100 pot aglaonema mutasi dikoleksinya. Ia pun seolah tidak bosan memburu aglaonema-aglaonema unik itu. “Tadi siang baru datang 15 pot,” tuturnya saat Trubus hubungi pada Maret 2014.

Dengan bangga pengusaha ikan hias itu menunjukkan tiara putih, salah satu koleksi. Tiara asli berdaun hijau dengan bercak merah dan tulang daun merah menyala. Tiara mutasi koleksi Bintoro kian unik karena muncul pucuk merah yang lahir di tempatnya.

Menurut Gregori Hambali peluang mutasi pada aglaonema kian besar jika tanaman semakin sering dipotong—untuk perbanyakan vegetatif. “Mutasi kerap terjadi karena adanya gangguan di titik tumbuh, misalnya, lewat pemotongan,” tutur master Biologi alumnus Universitas Birmingham itu. Namun Greg Hambali mengingatkan, semakin pendek ruas batang yang di-potong (setek), risiko tanaman mati juga semakin besar.

Proses mutasi juga terjadi karena faktor lain, misal kondisi cuaca ekstrem atau paparan zat kimia. Mutasi bersifat per-manen jika perubahan terjadi pada tingkat gen. Pada aglaonema menurut pengalaman Solimin, mutasi stabil jika perubahan itu konsisten hingga terbentuknya 6 daun.

Romantic love mutasi

Romantic love mutasi

Mutasi gagal

Ketika itulah pemilik aglaonema dapat memisahkan tanaman mutasi itu dari induk. Caranya dengan memotong tanaman di atas ruas daun normal. Lalu sang mutan ditanam di pot terpisah kemudian disungkup. Bila tumbuh dan semua daun sesuai harapan, artinya perubahan itu telah permanen. Setelah setek tumbuh membentuk 6 daun dan semuanya mutasi, tanaman kembali dipotong.

Menurut Solimin ketika tanaman mutasi baru berdaun 3, pemilik sah-sah saja memisahkan tanaman dari induk. Syaratnya pemotongan harus menyertakan 3 daun normal di bawahnya. Namun, ada peluang mutasi belum stabil. Dari pengalaman Bintoro, bila setekan mutasi menumbuhkan daun yang tidak sesuai harapan, misalnya daun balik normal, tunggu hingga terbentuk daun keempat.  Bila tetap berwarna normal, artinya mutasi itu gagal. Sebaliknya jika perubahan warna stabil, maka dihasilkan sang ratu mutan.

Baca juga:  Mag Kronis

Dari satu jenis aglaonema dapat “melahirkan” 2—5 mutasi berbeda warna. Ada yang menjadi merah, putih, hijau, kuning, atau violet lembut. Perubahan warna itu, bisa terjadi pada keseluruhan daun, sebagian daun, atau hanya pada tulang daun. Sang ratu berubah dan menjadi elok. (Syah Angkasa)

 

cover 1234.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d