Rasa Juara Durian Kundur 1
Durian MK 8 hasil budidaya di Pulau Kundur, Kepulauan Riau.

Durian MK 8 hasil budidaya di Pulau Kundur, Kepulauan Riau.

Masyarakat Pulau Kundur menanam beragam durian lokal dan introduksi. Kualitas buah jempolan.

Pekebun durian di Pulau Kundur: (kiri ke kanan) Aliang, Dodi Tan, Daniel Chan, Jonni Chen, dan Agus Rianto

Pekebun durian di Pulau Kundur: (kiri ke kanan) Aliang, Dodi Tan, Daniel Chan, Jonni Chen, dan Agus Rianto

Pulau Kundur, Provinsi Kepulauan Riau, menyimpan begitu banyak jenis durian berkualitas, baik lokal maupun introduksi seperti musang king. Mereka menyebut durian musang king itu dengan nama kesep, berarti daging tebal sekaligus biji kempis. Yang mengejutkan adanya dua pohon musang king berumur 30 tahun. Meski tanpa pemupukan berarti, pohon itu menjulang sekitar 25 meter dengan produksi 150—200 buah setiap musim.

Pekebun menjual sebagian hasil panen ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau, selebihnya untuk pasar lokal. Di pasaran tidak ada durian musang king yang tidak enak rasanya. Jika memang rasanya tidak stabil—ada yang enak dan ada yang tidak enak—orang tentu tidak akan mencari musang king. Mekanisme pasar selalu berjalan, dan hingga kini musang king masih tetap yang dicari dan masih tetap yang tertinggi dalam hal harga.

Budidaya intensif

Gelombang kedua penanaman musang king di Pulau Kundur pada 10 tahun silam atau 2008. Ketika itu banyak petani muda yang ikut menanam musang king. Agus Rianto di Tek Heng, Sawang Kota, Pulau Kundur, membuktikan bahwa ketika pohon berumur 4 tahun mulai belajar berbuah. Pohon berumur 8 tahun berproduksi 40—50 buah. Rekan-rekan Agus seperti Dody Tan, Ahan, Aliang, dan Jonni Chen turut menanam musang king pada 2008.

Mereka juga menanam beberapa klon introduksi lain seperti ochee, D24, D168, D13, Mdur 88, hingga kanjao. Para pekebun menanam durian secara intensif. Di tangan mereka, durian bukan lagi tanaman hutan yang hidup ala kadarnya tanpa perhatian. Pekebun mengatur jarak tanam dan pengelompokan tanaman sesuai jenis. Budidaya semacam itu dilakukan oleh hampir seluruh pekebun durian di sana.

Durian musang king hasil penanaman di Pulau Kundur, Kepulauan Riau.

Durian musang king hasil penanaman di Pulau Kundur, Kepulauan Riau.

Dalam perjalanan tampak banyak kebun durian yang penanamannya teratur jaraknya, baik jenis lokal maupun introduksi. Hampir seluruh pekebun durian di Pulau Kundur memang menanam durian dengan diatur penempatan dan jaraknya sehingga hampir tidak dijumpai hutan durian-sebutan untuk kebun durian yang tidak terawat. Demikian juga dengan kebun dari lima sahabat, yakni Dodi Tan, Johni Chen, Agus Rianto alias Wei Siong dan Daniel Chan alias Ahan.

Baca juga:  Tanam Maitake ala Yukiguni

Mereka menanam musang king dengan alasan sangat masuk akal. Sebelum mengambil keputusan, mereka memantau musang king sejak lama dan berkesimpulan bahwa menanam musang king sebagai bisnis yang menguntungkan. Dengan biaya penanaman dan perawatan yang sama dengan jenis durian klon lokal, mereka dapat hasil yang berlipat plus waktu yang lebih singkat.

Para pekebun melihat semua itu sebagai peluang bisnis yang harus cepat ditangkap. Usaha mereka terbukti ketika turis Singapura maupun Malaysia banyak ke Batam untuk mencoba musang king asal Kundur. Bahkan jika akhir pekan para turis itu datang langsung ke Pulau Kundur. Untuk menjaga dan melestarikan plasma nutfah durian lokal Kundur, Yayasan Durian Indonesia memberi masukan untuk coba menanam dengan pola 5:1.

Durian lokal

Pola 5:1 berarti setiap 5 bibit introduksi, diimbangi dengan 1 bibit lokal hasil seleksi. Dengan cara itu petani mampu memperoleh hasil yang menggembirakan sekaligus dapat menjaga plasma nutfah durian lokal unggulan. Para pekebun memiliki lahan yang luas dan sudah ditanami durian lokal lebih dari tiga puluh tahun lampau. Pulau Kundur sejak lama sudah terkenal dengan durian lokal dengan cita rasa yang baik dan enak.

582 64Baru lima belas tahun belakangan ini mulai ramai menanam durian introduksi baik dari Malaysia maupun dari Thailand. Hasilnya pun langsung dipesan oleh pedagang-pedagang di pulau Batam, selebihnya dijual di Kundur. Semua ini sebenarnya hasil kerja keras dari ayah mereka yang memang petani durian. Namun semangat yang ditunjukan oleh lima sahabat muda ini sangat luar biasa. Mereka mewarisi semangat ayahnya.

Kepandaian sang ayah untuk melakukan pembibitan secara vegetatif juga ditekuni sehingga mereka dengan mudah memperbanyak klon lokal maupun klon introduksi. Salah satu yang menggembirakan adalah mereka semua mempunyai klon-klon lokal unggulan, merawat dan melestarikannya dengan melakukan penananaman baru, sehingga langkah mereka secara tidak langsung telah menyelamatkan plasma nutfah durian unggul pulau Kundur.

Durian MDur88.

Durian MDur88.

Bahkan ada satu klon lokal yang sangat terkenal di Kundur, tiga puluh tahun lalu sudah dibuat duplikatnya sebelum pohon induk mati tersambar petir. Kekompakan mereka juga patut diacungi jempol secara individu masing masing mempunyai keahlian sendiri-sendiri. Dodi Tan menguasai pemupukan, Johny Chen menguasai penyakit dan hama tanaman, Daniel Chan menguasai perbanyakan vegetatif, Agus Rianto mempunyai banyak koleksi klon unggul serta Aliang yang menguasai market durian. Mereka bahu membahu untuk memajukan ekonomi pulau Kundur dengan budidaya durian. (M. Iwan Subakti, Pengurus Yayasan Durian Indonesia)

Baca juga:  Seri Walet (209) Pikat Walet, Cegah Hama

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *