Ranti hitam,kerabat leunca endemik Sumatera Utara berkhasiat antitifus.

Ranti hitam,kerabat leunca endemik Sumatera Utara berkhasiat antitifus.

Fakta daun ranti hitam manjur mengatasi penyakit tifus.

Mariana Tarigan tekun memetik daun leuh mbiring. Secara turun-temurun masyarakat Karo, Provinsi Sumatera Utara, memanfaatkan daun tanaman semak itu sebagai herbal. Sejak semalam suaminya mengeluh sakit perut atau langgum dalam bahasa setempat. “Ia minta dimasakkan daun leuh mbiring,” kata guru Sekolah Dasar itu. Leuh mbiring atau ranti hitam Solanum blumei sekilas mirip leunca Solanum nigrum.

Keduanya memang sekerabat, sama-sama anggota famili Solanaceae atau terung-terungan. Ia banyak tumbuh di Karo dan Dairi, Sumatera Utara, berketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Masyarakat membudidayakan ranti hitam dalam skala kecil untuk dijual daunnya sebagai sayur. Selain itu ranti hitam manjur mengatasi beragam gangguan kesehatan seperti sakit pinggang, demam, dan peradangan.

Dr Murniaty Simorangkir periset ranti hitam sebagai antitifus.

Dr Murniaty Simorangkir periset ranti hitam sebagai antitifus.

Antitifus
Riset terbaru oleh Dr Murniaty Simorangkir MS, Meridina br Sitepu, dan Dr Partomuan Simanjuntak MSc membuktikan bahwa ranti hitam juga memiliki kemampuan antitifus. Kedua periset pertama dosen Universitas Negeri Medan, sedangkan Partomuan Simanjuntak periset dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Murniaty menguji kandungan fitokimia daun dan buah ranti hitam yang mengandung metabolit sekunder alkaloid, steroid, dan flavonoid. “Komponen metabolit sekunder pada tanaman itu terdapat juga pada leunca yang sudah teruji berkhasiat antibakteri. Oleh karena itu, secara logika tanaman Solanum blumei juga berpotensi menjadi tanaman obat,” ujar Murniaty.

Berdasarkan asumsi itu Murniaty meriset lanjutan untuk menguji ekstrak daun ranti terhadap bakteri Salmonella typhimurium. Para periset itu mengoleskan bakteri di cawan petri secara merata dan membuat lubang di bagian tegah berdiameter 0,6 cm. Selanjutnya mereka menetesi lubang dengan ekstrak daun ranti hitam. Konsentrasi ekstrak beragam, yakni 0%, 2,5%, dan 5%.

Baca juga:  Bakteri Atasi Moler

Setelah menginkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam, para periset mengamati dan mengukur diameter daerah bening di sekitar lubang. Area itu menunjukkan uji positif. Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak heksan 5% daun ranti hitam memiliki aktivitas antimikrob Salmonella typhimurium yang paling baik. Konsentrasi itu menghasilkan area bening 23,95 mm.

Bandingkan dengan kloramfenikol sebagai kontrol positif masih menunjukkan daya hambat perkembangan bakteri paling besar, 26,0 mm. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memiliki standar bahwa mikrob dinyatakan peka terhadap antibakteri asal tanaman bila mempunyai ukuran diameter daya hambatannya—ditandai oleh daerah bening 12—24 mm, 5—10 mm (sedang), dan kurang dari 5 mm (rendah).

Hancurkan Dinding Sel

Aktivitas antibakteri senyawa pada ekstrak daun ranti hitam terhadap Salmonella typhimurium menghambat proses sintesis dinding sel mengakibatkan dinding sel bakteri rusak. Perubahan permeabilitas dinding sel bakteri menyebabkan terjadi ketidakseimbangan tekanan internal sel. Dinding mengalami kebocoran, cairan sel keluar dan akhirnya bakteri akan mati.

Aktivitas antibakteri senyawa pada ekstrak daun ranti hitam terhadap Salmonella typhimurium menghambat proses sintesis dinding sel mengakibatkan dinding sel bakteri rusak. Perubahan permeabilitas dinding sel bakteri menyebabkan terjadi ketidakseimbangan tekanan internal sel. Dinding mengalami kebocoran, cairan sel keluar dan akhirnya bakteri akan mati.

Dinding sel
Mengacu pada aturan itu, berarti diameter hambat semua ekstrak tergolong kuat karena memiliki zona hambat 10—20 mm. Murniaty mengatakan, ekstrak daun ranti hitam merusak dinding sel bakteri. Rusaknya dinding sel menyebabkan perubahan permeabilitas dinding sel bakteri. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan tekanan internal sel dan menyebabkan kebocoran cairan sel, sehingga sel bakteri mati.

Menurut Partomuan Simanjuntak senyawa antibakteri dalam ekstrak daun ranti hitam dengan etanol adalah alkaloid, flavonoid, tanin, fenol, saponin, triterpenoid, dan steroid. Pada ekstrak etil asetat adalah alkaloid, flavonoid, tannin, steroid, dan terpenoid. Sedangkan pada perlakuan ekstrak n-heksan, senyawa-senyawa antibakterinya adalah alkaloid, steroid, dan triterpenoid.

Baca juga:  Kelor Rival Kolesterol

Para periset memilih bakteri Salmonella karena mudah menjangkiti manusia. “Apalagi kesadaran masyarakat menjaga sanitasi lingkungan masih rendah. Bakteri Salmonella banyak hidup di daerah yang kotor dan kumuh, baik di darat maupun air,” kata Murniaty. Dokter spesialis penyakit dalam, dr Aris Wibudi, SpPD mengatakan, masyarakat banyak yang menyepelekan penyakit tifus sebagai penyakit yang ringan.

Bahkan ada yang menganggap kalau pernah terkena penyakit itu, tidak bakal terjangkiti lagi. “Bukan seperti itu faktanya. Pada kasus yang parah dapat terjadi perdarahan usus, atau bahkan usus bisa berlubang. Bahaya lainnya adalah jika terjadi komplikasi dengan penyakit lain, misal pada sistem peredaran darah, gangguan paru, ginjal, hati, dan sistem kesadaran yang bisa menyebabkan kematian,” kata Aris.

Murniaty dan rekan peneliti ranti hitam berharap hasil penelitiannya dapat dikembangkan sebagai produk yang bermanfaat bagi masyarakat. “Selain manfaat herbal bagi manusia ranti hitam juga bermanfaat bagi ternak terutama bagi unggas dalam mengatasi penyakit pencernaan. Dengan demikian dapat mengurangi biaya penggunaan zat antibiotika bagi ternak,” ujar Murniaty.

Salmonella mudah masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang tidak higienis.

Salmonella mudah masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang tidak higienis.

Ia mengharapkan masyarakat terus memelihara dan memanfaatkan tanaman ranti hitam sebagai alternatif bahan obat alamiah. “Ada kecenderungan saat ini semakin sulit kita memperoleh ranti hitam. Jika tidak selalu diungkap ke masyarakat umum, bisa jadi salah satu potensi fitofarmaka khas daerah Sumatera Utara itu akan hilang dan terlupakan. Padahal, ada kemungkinan potensi lain yang saat ini belum tergali,” ujar Murniaty.

Keberadaan ranti hitam membuat masyarakat di luar Sumatera Utara belum mengenalnya. Kalangan herbalis pun belum memanfaatkannya. Herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati mengatakan, ranti hitam masih cukup asing di telinga, tapi lain halnya dengan leunca. Khususnya bagi masyarakat Sunda, kerabat ranti hitam itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Buahnya bisa dijadikan lalapan sedangkan daunnya bisa dikonsumsi untuk mengobati sakit pinggang, encok, pinggang terasa kaku, dan nyeri lainnya,” ujarnya. Riset mutakhir membuktikan kerabat lenca, yakni ranti hitam berkhasiat mengatasi penyakit tifus yang banyak menyerang masyarakat. (Muhammad Hernawan Nugroho).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts