Ramu Pakan Sidat 1
Biaya pakan ramuan sendiri lebih murah separuhnya sehingga menghemat biaya produksi.

Biaya pakan ramuan sendiri lebih murah separuhnya sehingga menghemat biaya produksi.

Meramu sendiri pakan sidat, peternak berhemat 50%.

Pakan menyedot porsi besar dalam komponen biaya produksi sidat. “Biaya pakan sidat 50% dari total biaya produksi,” ujar Deni Firmansyah, direktur PT Laju Banyu Semesta (Labas), peternak sidat di Bogor, Jawa Barat. Belum lagi ketersediaan pakan khusus sidat yang belum banyak di pasaran. Untuk menghemat biaya pakan, PT Labas mengolah sendiri pakan sidat. Tujuan lain, “Agar tidak ketergantungan pada produsen pakan,” ujar Deni.

Menurut manajer produksi PT Labas, Angga Kurniawan, bahan baku pakan memanfaatkan tepung ikan, jagung, dan tapioka. Angga menghaluskan bahan-bahan, lalu menakar setiap bahan, dan mencampurkannya menjadi satu. PT Labas mengolah pakan tiga hari sekali dengan kapasitas 50—150 kg. Angga menuturkan, kandungan protein dalam pakan berbeda di setiap fase pertumbuhan.

Pemberian pakan sidat berupa pasta sejak sidat muda.

Pemberian pakan sidat berupa pasta sejak sidat muda.

Asam amino
Pakan pada fase pembesaran, misalnya, mengandung protein 40%. Sementara kandungan protein pada pakan untuk fase elver hingga fingerling mencapai 45%, sedangkan pada fase glass eel hingga 55%. Pakan olahan PT Labas itu memiliki feed convertion ratio (FCR) 1,7—2. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg sidat dibutuhkan 1,7—2 kg pakan.
Pertumbuhan sidat tidak kalah dengan sidat yang mengonsumsi pakan hasil pabrikan. “Pertumbuhan 1% setiap hari,” ujar Angga. Peternak sidat di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Yatu Supriawan, mengolah sendiri pakan sidat berupa campuran pelet, tepung ikan, dan keong mas. Perbandingan masing-masing 1 : 1 : 1.

Menurut Dr Agung Budiharjo M Si dari Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, pakan yang dipakai para peternak sidat pada umumnya hampir sama baiknya. Dengan kadar protein 40% dan karbohidrat 20% cocok untuk pertumbuhan sidat. “Protein digunakan sebagai sumber energi,” ujar Agung. Ia menjelaskan, kandungan penting yang sering terlupa oleh peternak maupun produsen pakan adalah asam amino.

Dr Agung Budiharjo MSi, periset sidat dari Universitas Sebelas Maret.

Dr Agung Budiharjo MSi, periset sidat dari Universitas Sebelas Maret.

Asam amino itu berupa asam linoleat dan asam linolenat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sidat. Asam amino ada yang bisa diproduksi sendiri di dalam tubuh sidat. Namun, tubuh sidat tidak dapat memproduksi sendiri asam linoleat dan asam linolenat. Oleh karena itu, “Keberadaannya harus ditambahkan dalam pakan,” ujar alumnus Biologi Universitas Gadjah Mada itu.

Baca juga:  Cara Tepat Besarkan Sidat

Agung meramu pakan sidat tinggi nutrisi. Tujuannya, “Meminimalkan sumber daya impor. Saat tergantung dengan bahan impor, itu sama artinya dengan tidak merdeka dalam hal pakan,” ungkap Agung. Bahan baku yang ia gunakan 100% berbahan lokal seperti tepung ikan, labu parang, dan pepaya. Sayangnya, Agung tidak menyebutkan lebih rinci komposisi bahan yang digunakan karena sedang dalam pengajuan paten.

Pasta
Agung memberikan pakan itu dengan formula sama tetapi komposisi berbeda di setiap pertumbuhan sidat. Untuk fase pembesaran sidat ia memberikan pakan empat kali dalam sehari. Pada fase pertumbuhan yang lebih kecil, yakni glass eel sampai elver frekuensi pemberian pakan lebih banyak, 6 kali dalam sehari. Sebab, sidat masih kecil dan pencernaan belum sempurna. Oleh karena itu Agung meningkatkan frekuensi pemberian pakan. Dosisnya, 7—10% dari bobot tubuh.

Labu parang salah satu komponen yang digunakan untuk meramu pakan sidat.

Labu parang salah satu komponen yang digunakan untuk meramu pakan sidat.

PT Labas juga melakukan hal serupa. Angga memberikan pakan yang berbeda untuk setiap fase tumbuh. Pada fase glass eel, pakan 5% dari bobot tubuh. Pemberian pakan 4 kali, pagi, siang, sore, dan malam. Adapun pada fase elver sampai fingerling, pakan 2—3% dari bobot tubuh. Pemberiannya 4 kali, sama seperti glass eel.

Sementara untuk pembesaran, dari kolam ukuran 3 m x 3 m yang berisi 100—200 kg sidat, pemberian pakan 2—3% bobot tubuh. Frekuensi pemberian 3 kali, pagi, sore, dan malam. Ramuan pakan itu diberikan dalam bentuk pasta. Agung memberikan pakan dalam bentuk pasta mulai dari glass eel. Tujuannya untuk membiasakan sidat makan dalam bentuk pasta sejak kecil.

Kebanyakan peternak memberikan pakan pasta pada fase pembesaran. Cara yang Agung lakukan memang berefek tingginya angka kematian sidat di fase glass eel. “Kematian mencapai 18%,” ujarnya. Namun, cara itu lebih aman daripada memberikan pakan dalam bentuk pasta saat pembesaran. Karena sidat yang diberi pakan pasta saat pembesaran perlu masa adaptasi. Akibatnya, banyak sidat yang mati.

Tempat mengolah pakan sidat PT Labas, produsen sidat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tempat mengolah pakan sidat PT Labas, produsen sidat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Bila mati sekalian saat sidat masih kecil lebih efisien,” ujar Agung. Sementara pada fase elver hingga konsumsi tingkat kematian tidak kurang dari 5%. Untuk membesarkan elver sampai konsumsi berbobot 300 gram per ekor, Agung membutuhkan waktu delapan bulan. Pakan hasil olahan Agung memiliki nilai FCR 1,2—1,4. Selain FCR rendah, keunggulan lain pakan buatan Agung menghasilkan sidat dengan tekstur yang lembut.

Baca juga:  Zaitun untuk Kusta

“Daging tidak benyek dengan rasa daging sedikit manis,” ujar dosen berusia 47 tahun itu. Citarasa seperti itu disukai orang Jepang. Deni menjelaskan, biaya membuat pakan sendiri cukup terjangkau. Untuk membuat satu kilogram pakan ia membutuhkan Rp23.000. Sementara Agung menghabiskan Rp20.000 untuk satu kilogram pakan.

Bandingkan dengan pakan pabrikan yang harganya mencapai Rp40.000—Rp45.000 per kilogram. Dengan selisih hampir setengahnya, peternak bisa menghemat biaya pakan 50%. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments