Dua aksesi rambutan unggul sukowono dan gula batu bercitarasa manis.

Rambutan sukowono memiliki tingkat kemanisan 17—20º briks.

Rambutan sukowono memiliki tingkat kemanisan 17—20º briks.

Namanya rambutan gula batu. Bentuk buahnya ovoid alias bulat telur. Sesuai dengan namanya gula batu memiliki citarasa yang manis. Daging buahnya lembut dan sedikit berair. Tingkat kemanisannya mencapai 20—22º briks. Bobot masing-masing buah 28—29 gram. Dari ukuran buah itu, 38—45% dapat dikonsumsi. Sekilas rambutan gula batu memiliki kemiripan bentuk dengan rambutan binjai.

Bedanya, ukuran buah lebih kecil dan warna kulit merah menyala. Selain gula batu, rambutan anyar lain adalah sukowono. Buah berbentuk ovoid dan berukuran cukup besar, 33 gram per buah. Warna kulit buah merah kekuningan. Rambut kulitnya agak panjang dan sedikit kaku. Begitu kulit terbelah, daging buah berwarna putih dengan tekstur lembut berair. Porsi buah yang dapat dimakan 29—43%.

Unggul
Dibanding dengan gula batu, sukowono bercitarasa sedikit masam. Pengukuran kemanisan menggunakan refraktometer, tingkat kemanisan rambutan sukowono 17—20° briks. Dua rambutan baru yang belum dirilis itu koleksi Kebun Percobaan (KP) Subang, Jawa Barat. Menurut kepala KP Subang, Diah Sunarwati SSi MSi, rambutan sukowono dan gula batu dalam tahap karakterisasi ulang dan pembenahan data secara bertahap.

Meski begitu dua aksesi Naphelium lappaceum itu memiliki citarasa yang unggul dibanding dengan 20 aksesi rambutan sebelumnya. Di lahan seluas 108,9 hektare itu terdapat satu blok khusus menanam ratusan pohon rambutan. Total terdapat 25 aksesi rambutan dari seluruh tanahair. Dari 20 aksesi yang sudah dilepas Kementerian Pertanian, terdapat empat aksesi berpotensi untuk dikembangkan sebagai varietas unggul baru. Dua di antaranya sukowono dan gula batu.

Rambutan gula batu sekilas mirip rambutan binjai.

Rambutan gula batu sekilas mirip rambutan binjai.

KP Subang hanya memiliki satu pohon induk rambutan gula batu setinggi 5 meter. Rambutan bernomor aksesi SBG 894 itu belum bisa dipetik karena bunga yang berkembang masih sedikit. Oleh sebab itu penyerbukan yang menghasilkan buah tak kunjung terjadi. “Aksesi baru yang dimiliki KP Subang jumlah pohonnya masih sangat terbatas. Satu aksesi baru hanya memiliki satu pohon yang masa berbuahnya tak menentu,” ujar Sunarwati.

Baca juga:  Agro Transpor

Kondisi serupa juga terjadi pada rambutan sukowono. Buah bernomor aksesi SBG 892 itu hanya memiliki satu pohon induk. Ketinggian pohon mencapai 4 meter. Penanaman rambutan sukowono sejajar dengan rambutan lebakbulus dan cimacan. KP Subang menerima lima bibit rambutan sukowono dan gula batu dari KP Cipaku, Bogor, Jawa Barat pada 1997. Saat ini KP Subang melakukan karakterisasi dan pendataan ulang ke aksesi rambutan baru itu.

“Jenis baru hanya akan dilepas setelah ketersediaan bibit mencukupi dan masyarakat bisa menanamnya sendiri,” kata alumnus pascasarjana Program Studi  Bioteknologi,   Universitas Gadjah Mada itu. Sunarwati tak ingin masyarakat kecewa jika ternyata bibit aksesi rambutan baru jumlahnya masih sedikit. Apalagi jika hasil produksinya tak sebagus varietas sebelumnya.

Diah Sunarwati SSi MSi, Kepala Kebun Percobaan Subang, Jawa Barat.

Diah Sunarwati SSi MSi, Kepala Kebun Percobaan Subang, Jawa Barat.

Sunarwati menuturkan asal-mula persilangan rambutan sukowono dan gula batu belum terdata di KP Subang. Oleh karena itu pula Sunarwati belum berani mempublikasikan kedua aksesi baru itu. Penanaman secara luas juga belum dilakukan oleh petani.

Koleksi
Rambutan aksesi baru yang terdapat di KP Subang hanya sekadar koleksi, belum menjadi tempat penyedia bibit karena jumlah pohon terbatas. Namun, hasil karakteristik dan evaluasi yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (balitbu) menunjukkan, aksesi plasma nutfah rambutan sukowono dan gula batu berpotensi dikembangkan. Sayangnya keduanya belum dilepas ke pasaran.

Sebab masih dilakukan pengkajian keragaman plasma nutfah rambutan itu. KP Cipaku menanam gula batu dan sukowono sejak 1980—1990. Tahap karakterisasi baru dilakukan pada 2013 oleh peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu), Solok, Provinsi Sumatera Barat. Menurut peneliti dari Balitbu, Kuswandi SP MP, penanaman rambutan sukowono dan gula batu menggunakan teknik okulasi dan grafting.

Pohon rambutan gula batu.

Pohon rambutan gula batu.

“Untuk berbuah, setidaknya butuh waktu dua pekan tidak hujan dan dua pekan hujan untuk menginduksi pembungaan,” kata alumnus Program Studi Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman, Institut Pertanian Bogor itu.
Untuk tumbuh optimal, tanaman anggota keluarga Sapindaceae itu membutuhkan suhu 25°C dengan curah hujan 1.500—2.500 mm per tahun. Kurangnya sinar matahari dan tingginya kelembapan udara menyebabkan rambutan di blok A2 KP Subang tak berbuah. Selain itu daun cenderung kering. Awal pembungaan rambutan di KP Subang berlangsung saat musim kemarau. Desember—Februari buah siap panen.

Baca juga:  Perjalanan Panjang Juara

Sayangnya, produktivitas sukowono dan gula batu belum teruji. Budidaya kedua rambutan itu juga belum menjanjikan karena belum ada yang melakukan perbanyakan bibit. Sebagai perawatan Sunarwati hanya memberikan pupuk organik dan NPK setahun sekali.

Adapun jenis organisme pengganggu yang sering menyerang adalah kutu kapas dan ulat penggerek batang. Teknisi senior di KP Cipaku, Abdurrahman, mengatakan, rambutan gula batu memang belum memiliki produktivitas yang tinggi. Bahkan pada 2014 rambutan gula batu koleksi KP Cipaku mati dan tak berbunga. Dua kebun percobaan, yakni KP Subang dan KP Cipaku masih terus melakukan karakterisasi ulang dan mencari asal muasal rambutan baru itu. (Selma Fajriati)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d