Raksasa Jawara

Raksasa Jawara 1
Cupang giant milik Frangky Leo layak meraih best of show (BoS) karena aktif berenang meski bertubuh bongsor.

Cupang giant milik Frangky Leo layak meraih best of show (BoS) karena aktif berenang meski bertubuh bongsor.

 

Cupang berukuran jumbo meraih gelar best of show. Gen dan perawatan intensif kunci sukses menjuarai kontes.

Meski berukuran jumbo, cupang itu aktif berenang dan rajin ngedok atau mengembangkan semua sirip dan membuka tutup insang. Menurut juri cupang nasional, Joty Atmadjadja, lazimnya cupang berjenis giant malas-malasan. Keunggulan lain cupang milik Frangky Leo dari Jakarta itu yakni warna merata dan bercorak unik. “Motifnya seperti anjing dalmatian yang berbintik-bintik di sekujur tubuh dan sirip. Bedanya bintik cupang itu hijau, bukan hitam,” kata juri asal Jakarta itu.

Juri kontes cupang internasional dan Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, H. Supoyo, S.H. M.Si, (ketiga dari kiri).

Juri kontes cupang internasional dan Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, H. Supoyo, S.H. M.Si, (ketiga dari kiri).

Juri lainnya dari Jakarta, Tommy Kurniawan, mengatakan membesarkan dan merawat raksasa sehingga terjaga kualitasnya relatif sulit. Harap mafhum motif cupang raksasa bisa berubah ketika dewasa. Sementara ikan itu hanya terdiri dari 2 warna yakni putih dan hijau. Dengan semua keunggulan itu cupang raksasa itu sukses meraih gelar best of show (BoS) pada kontes internasional bertajuk 5th Kediri Betta Contest 2018. Itu predikat tertinggi pada kontes cupang dunia.

Ikan lokal

Cupang raksasa berumur 8 bulan itu merebut gelar BoS untuk kali pertama. Sebelumnya pada kontes sejenis di Malang, Jawa Timur, ikan itu hanya menempati posisi kedua. Apa rahasia cupang giant itu menjadi juara? Menurut perawat cupang itu, Leonel Mirza, indukan bagus dan perawatan intensif menentukan kualitas ikan. Leonel mendapatkan ikan itu dari penangkar cupang di Tangerang, Provinsi Banten, ketika umurnya 2 bulan.

Ia memastikan derajat keasaman air (pH) 6—7. Sayangnya air di rumah Leonel memiliki pH 4. “Untuk menyiasatinya saya membuat filter untuk menaikkan pH dan penggantian air total sepekan sekali. Tujuannya agar ikan tetap aktif dan tidak lemas,” kata pria berumur 21 tahun itu. Leonel memberikan jentik nyamuk dan cacing darah sebagai pakan. Frekuensi pemberian 3 kali sehari pada pagi, siang, dan sore. Pemberian pakan secukupnya, tidak perlu kenyang.

Baca juga:  Terarium Perekat Cinta

Untuk melatih agresivitas, Leonel membuka sekat sekitar 5—10 menit agar ikan ngedok. Kontes yang berlangsung pada 2—4 Maret 2018 di Convention Hall, Kediri, Jawa Timur, itu berlangsung meriah. Terdapat 225 cupang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya yang mengikuti kontes itu. Peserta juga berasal dari mancanegara seperti Taiwan dan Amerika Serikat. Pemilik cupang antusias mengikuti kontes berkelas internasional itu sehingga adu molek pun lebih menantang.

Panitia membagi ikan menjadi dua kelas yaitu reguler dan opsional. “Kelas reguler meliputi dua warna yaitu dark dan light solid colour. Jenis cupang yang berlomba antara lain longfin double tail, crown tail, shortfin single tail, dan giant. Sementara kelas opsional berisi female dan junior,” kata ketua panitia, Ir. Sarjana. Menurut Tommy Kurniawan ikan peserta kontes adalah cupang-cupang terbaik. Ia berharap adanya kontes membuat cupang bisa lebih memasyarakat, terutama untuk cupang hias. Harap mafhum cupang bukan ikan musiman, hampir selalu muncul jenis baru sehingga trennya langgeng. (Bondan Setyawan)

Foto : Bondan Setyawan

Foto : Bondan Setyawan

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x