Raja Hutan Gemar Durian 1
Ketersediaan pakan amat penting bagi kelestarian harimau

Ketersediaan pakan amat penting bagi kelestarian harimau

Sebagai hewan karnivora atau pemakan daging, ternyata harimau juga suka durian. “Pada tahun 2000-an saya sering menemukan jejak kaki harimau di dekat pohon durian,” kata Urip Wiharjo, manajer umum Hubungan Sosial dan Pemerintahan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI). Selain jejak kaki, Urip juga menemukan biji durian di kotoran Panthera tigris sumatrae itu. “Ketika itu kami bersaing dengan harimau untuk mendapatkan durian hutan,” ujar mantan Manajer Konservasi dan Pembinaan Hutan PT Asia Log itu.

Di blok halilintar—bagian dari Hutan Harapan total seluas 101.355 ha—terdapat 5 pohon kerantungan Durio oxleyanus yang tumbuh berjarak sekitar 50—100 m dari jalan. Tanaman anggota famili Bombacaceae itu tumbuh di antara bambu. “Biasanya harimau senang sekali bersantai di bawah bambu,” kata Urip. Agar tidak berpapasan dengan harimau pada saat mengambil durian, Urip dan rekan pun tetap menyalakan mobil dan terus menginjak gas sehingga menimbulkan suara berisik.

“Dengan begitu harimau pergi menghindar,” ujarnya. Seiring dengan meningkatnya perambahan hutan, kini kian sulit menemukan harimau di wilayah itu. “Harimau menghindar dan semakin masuk ke dalam hutan,” kata pria yang bekerja di REKI sejak 2007 itu. Menurut ahli satwa liar dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Hadi S. Alikodra MS, harimau memang menyukai durian. “Diduga ada senyawa tertentu di dalam buah durian yang komposisi kimianya sedikit tapi dibutuhkan oleh harimau,” kata Alikodra.

Menurut doktor Ilmu Kehutanan alumnus Institut Pertanian Bogor itu perlu ada penelitian khusus untuk mengetahui kandungan senyawa yang dibutuhkan harimau itu. Guru besar Fakultas Kehutanan itu menuturkan harimau adalah hewan pintar. “Awalnya dia pelajari. Ternyata pas makan buah durian merasa enak. Berdasarkan pengalaman itu akhirnya memakan durian dijadikan kebiasaan,” katanya.

Prof Dr Ir Hadi S. Alikodra, "Harimau hewan pintar."

Prof Dr Ir Hadi S. Alikodra, “Harimau hewan pintar.”

Di alam harimau sumatera yang hidup terestrial berasosiasi dengan spesies lain. “Yang hidup di kanopi atas misalnya owa sumatera,” ujar pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 5 Februari 1949 itu. Owa sumatera, pemakan buah, biasanya bergerak berdasarkan musim buah, termasuk musim buah durian. Menurut Alikodra, harimau mempunyai insting. “Jadi kalau ada owa di sana maka ada buah kesukaan saya, yaitu durian. Harimau pun mencari buah yang jatuh bekas makan owa, mungkin buahnya tinggal sebagian,” ujarnya.

Baca juga:  Rawat Daun Mutasi

Meski menyukai durian, lazimnya harimau sumatera memakan daging rusa, babi hutan, atau tapir. “Harimau secara spesifik mencari makan pada malam hari karena suasana sepi sehingga ia bisa lebih konsentrasi menggunakan pendengarannya yang tajam,” kata Alikodra.

Menurut Alikodra harimau termasuk hewan yang melakukan sesuatu dengan optimal. Hewan anggota famili Felidae itu memburu dengan senyap dan tangkas. Ia berburu dengan cara mengendap untuk menghampiri mangsanya dengan sembunyi di celah rimbunan tumbuhan, sehingga berjarak beberapa meter saja dari mangsa. Hewan yang menjadi kendaraan Dewi Durga itu bergerak dengan hati-hati dan melangkah setapak demi setapak secara terhenti-henti untuk memungkinkannya menilai keadaan sekeliling.

Rusa salah satu mangsa harimau di hutan

Rusa salah satu mangsa harimau di hutan

Begitu keadaan tepat, harimau pun segera menerkam mangsanya secara tiba-tiba. “Arah harimau menerkam tidak sembarangan. Sekali terkam harus kena dan jangan sampai lepas,” kata Alikodra. Kaki belakang harimau lebih panjang daripada kaki depan sehingga membuatnya dapat menerkam mangsa dengan jarak 5 meter dengan sekali lompatan. Alikodra mengatakan, “Harimau biasanya menyerang dari arah belakang.”

Kucing sepanjang rata-rata 2,5 m itu membunuh dengan menggigit kerongkong atau belakang leher mangsa dengan giginya. Rahang yang pendek dan otot mukanya yang kuat memungkinkan harimau menggigit dengan kuat sehingga dapat mematahkan leher mangsa. Mangsa harimau akan mati akibat patah tengkuk atau mati lemas karena tidak dapat bernapas.

“Begitu mangsa tidak berdaya harimau akan membawanya ke lokasi khusus,” kata spesialis keanekaragaman hayati PT REKI, Elva Gemita. Harimau menikmati hasil tangkapannya selama beberapa hari, tergantung ukuran mangsa, hingga habis meski daging tersebut telah busuk. Dalam masa itu, harimau akan menyimpan bangkai mangsa di bawah timbunan daun, dahan pohon, atau rumput.

Baca juga:  Air Hujan untuk Hepatitis

Ketersediaan pakan amat penting bagi kelestarian harimau. Regenerasi satwa itu amat tergantung pada pakan. Harimau melahirkan anak dengan jumlah sesuai dengan kecukupan pakan. “Jika jumlah pakan berlimpah harimau bisa beranak banyak, 3—5 anak. Bahkan dulu pernah ditemui harimau yang beranak hingga 10. Namun jika pakan sedikit paling hanya melahirkan satu anak,” kata Alikodra.

Durio oxleyanus mengandung senyawa tertentu yang dibutuhkan harimau

Durio oxleyanus mengandung senyawa tertentu yang dibutuhkan harimau

Harimau melahirkan harus cukup makan. “Itu karena si induk harimau harus menyusui selama 6 bulan pertama,” ujar Alikodra. Anak harimau akan hidup sendiri setelah mencapai umur 18 bulan, walaupun mereka mungkin akan tinggal dalam kawasan ibu harimau hingga berusia 2,5 tahun. Untuk itu diperlukan area luas agar harimau hidup optimal. “Biasanya radius 100 km2 itu dihuni 4—5 harimau. Di area itu mereka akan berbagi wilayah teritori,” kata pelopor berdirinya Jurusan Konservasi Hutan di Fakultas Kehutanan IPB itu.

Selama dalam masa asuhan, induk mengajarkan berbagai hal kepada anaknya. “Induk harimau mengajarkan cara menerkam dan mencari makan. Proses itu dilakukan di tempat terbuka dan pada siang hari sehingga induk dapat mengawasi. Itu namanya playing behavior,” kata Alikodra. Dengan begitu diharapkan anak harimau akan hidup mandiri, khususnya mencari makan sendiri, setelah berpisah dari induk. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *