Raja Belang Tampil Prima

Raja Belang Tampil Prima 1
Anthurium mangkuk variegata koleksi Dwi Bintarto di Ciganjur, Jakarta Selatan, tetap tampil prima dengan media tepat

Anthurium mangkuk variegata koleksi Dwi Bintarto di Ciganjur, Jakarta Selatan, tetap tampil prima dengan media tepat

Media tepat, anthurium sehat.

Keelokan daun-daun anthurium variegata itu pudar. Pehobi anthurium, di Lebakbulus, Jakarta Selatan, Albert Siregar, kecewa menyaksikan 10 anthurium variegatanya layu. Tanaman mogok tumbuh. Tunas baru tidak muncul. Bahkan, 3 pot anthurium belang berdaun 7 helai dan sepot bonggol belang mati.

Padahal, Albert memberikan perawatan optimal. Ia menyimpan tanaman di bawah naungan plastik ultraviolet dan jaring berkerapatan 50%. Pehobi itu juga  memberikan vitamin setiap tiga hari; fungisida dan bakterisida, setiap dua pekan sesuai dosis anjuran.

Media porous

Kegagalan merawat jenmanii variegata itu sejatinya sebuah kesengajaan. Albert sengaja menggunakan media tanam yang kerap dipakai untuk menanam anthurium kobra. Ia mengombinasikan pakis, tanah merah, pupuk kandang fermentasi, dan campuran sekam bakar dengan sekam mentah, dengan perbandingan 1 : 0,25 : 0,25 : 0,25.

Media dan perawatan optimal kunci anthurium variegata tampil prima (Nanang Koswara, Muhammad Abdurrahman, Dede Hidayat, Supriyadi, kiri—kanan)

Media dan perawatan
optimal kunci anthurium
variegata tampil prima
(Nanang Koswara,
Muhammad Abdurrahman,
Dede Hidayat, Supriyadi,
kiri—kanan)

Dengan komposisi itu, kobra tumbuh sehat, akar berwarna putih, warna daun hijau segar, dan rajin bertunas. Itu sebabnya Albert memilih media itu untuk anthurium variegata.  Sayang, media yang cocok untuk kobra, belum tentu pas untuk anthurium variegata. Ternyata anthurium belang membutuhkan media lebih porous.

Kegagalan itu justru membuat ia bergairah untuk menemukan campuran media yang pas. Ia lantas menyelamatkan tanaman tersisa  dengan memangkas akar rusak, lalu mengganti media tanam. Kali ini ia menggunakan campuran pakis kasar, andam, dan pupuk kandang fermentasi. Hasilnya akar berkembang dengan baik dan tanaman pun berangsur pulih. Menurut Dwi Bintarto, pehobi anthurium di Ciganjur, Jakarta Selatan, tanaman anggota famili Aracaceae itu memang sangat membutuhkan media porous.

Baca juga:  Berburu Bunga Bola

Sebab media porous mampu mengalirkan kelebihan air sehingga tidak lembap. Berkat penggunaan media yang tepat, laceleave koleksi Dwi kerap meraih juara di setiap lomba anthurium tingkat regional maupun nasional. Dede Hidayat SE MSi di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, juga menggunakan media porous, yakni 15 kg pakis kasar, 0,5 kg kaliandra, dan serbuk sabut kelapa, pupuk kandang, dan pasir malang secukupnya untuk pot berukuran 20 cm.

Ia juga rutin memberikan pupuk daun khusus untuk tanaman variegata setiap dua pekan dan fungisida setiap dua bulan sesuai dosis anjuran. Sementara penyiraman dilakukan setiap dua hari menggunakan air tanah. “Saya menghindari air pam sebab mengandung kaporit yang dapat meninggalkan noda kuning pada daun,” katanya. Dengan perawatan seperti itu eskobar variegata miliknya menjadi juara ketiga pada kontes anthurium di Taman Sinawang, Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada Desember 2013. Padahal, tanaman berumur 8 bulan itu baru pertama kali mengikuti kontes.

‘Gips’ pada anthurium yang selamat dari serangan busuk batang ala Supriyadi di Sawangan, Depok, Jawa Barat

‘Gips’ pada anthurium yang selamat dari serangan busuk batang ala Supriyadi di Sawangan, Depok, Jawa Barat

Perongrong       

Supriyadi, di Sawangan, Depok, Jawa Barat, juga memanfaatkan serbuk sabut kelapa yang memiliki pori-pori. Itu memudahkan pertukaran udara dan sinar matahari.  Ia menyimpan tanaman di bawah naungan plastik ultraviolet sehingga butuh media yang bisa menyimpan air.

Ia menuturkan setiap pehobi anthurium mempunyai resep media yang berbeda tergantung pada kondisi daerah tempat tumbuh tanaman. “Yang penting satu tujuan yakni porous,” katanya.

Menurut Nanang Koswara, pemilik nurseri Bogana di Sawangan, sejatinya merawat anthurium cukup mudah sebab musuh tanaman relatif sedikit. Pehobi hanya perlu memberikan ruang hidup sesuai kebutuhan tanaman. “Letakkan di tempat teduh, tapi sinar matahari merata dan sirkulasi udara ruangan baik,” katanya. Hindari meletakkan anthurium di tempat yang terkena sinar matahari hanya di satu sisi sebab mempengaruhi kekompakan daun. Bila sinar matahari hanya satu sisi, ia menyarankan agar memutar tanaman ke arah datangnya sinar setiap bulan.

Baca juga:  Inovasi Pangan dan Pertanian

Paul, sapaannya, menuturkan salah satu indikasi tanaman sehat adalah ukuran daun di atas sama atau lebih besar dari pada daun di bawah. Jika ukuran daun di atas lebih kecil, biasanya ada masalah di akar. Itu bisa terjadi karena media kurang porous atau pertanda media harus segera diganti. “Setiap 6 bulan wajib repotting,” katanya. Ia menggunakan media campuran pakis kasar, kaliandra, sekam mentah, dan pupuk kandang, masing-masing 1 : 0,5 : 0,25 : 0,25.

Menurut I. Djatnika, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Cianjur, Jawa Barat, meski anthurium tergolong tanaman bandel, pehobi harus mengetahui hama dan penyakit yang mengintai. Hama yang perlu diwaspadai yaitu kutu putih Nipaecoccus nipae.

Sementara bakteri utama yakni Erwinia carotovora penyebab busuk batang. Supriyadi memiliki cara jitu untuk menyelamatkan anthurium yang terserang busuk batang. Ia membuang batang yang busuk lalu memasang “gips” berupa dua batang bambu atau lidi pada batang yang bebas serangan. Dengan memberikan media yang tepat dan mengetahui hama penyakit, anthos oura veriegata pasti prima. (Andari Titisari)

532_19

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x