Perkutut milik HR Ali Badri Zaini meraih jawara di 3 kelas: Asean, dewasa senior, dan piyik senior

Perkutut milik HR Ali Badri Zaini meraih jawara di 3 kelas: Asean, dewasa senior, dan piyik senior

Pertama kali berlaga di konkurs tingkat internasional Relawan langsung berjaya.

Dua hari sebelum kontes internasioal itu berlangsung, HR Ali Badri Zaini memutuskan membeli seekor perkutut Rp300-juta. Ia menurunkan Relawan—nama perkutut itu—pada kontes Piala Asean di Surabaya, Jawa Timur, 8 Juni 2014. Perkutut berumur 9 bulan itu tampil prima selama konkurs. Juri pun mengganjarnya sebagai jawara di kelas Asean. “Saya sudah mengincarnya (Relawan, red) sejak sebulan lalu,” kata Ali Badri. Ketika itu, Relawan menjadi juara ke-2 di kelas piyik kontes Piala Walikota di Surabaya.

Pendengaran pehobi perkutut sejak 23 tahun silam itu memang tajam. “Saat pertama kali melihat dan mendengar suaranya saya langsung tahu kalau ini (Relawan, red) burung bagus,” ujar anak ketiga dari 5 bersaudara itu. Suara depan, tengah, dan ujung bagus sehingga iramanya enak terdengar. Sejak saat itu Ali pun intens memperhatikan perkembangan Relawan di latihan bersama, setiap Senin dan Kamis. Semakin lama kualitas suara Relawan semakin bagus sehingga akhirnya Ali membelinya dengan harga fantastis.

Pengurus P3SI, panitia kontes, sponsor, dan tamu asal Thailand, Singapura, dan Malaysia berpose bersama di Zebradove ASEAN Cup 2014

Pengurus P3SI, panitia kontes, sponsor, dan tamu asal Thailand, Singapura, dan Malaysia berpose bersama di Zebradove ASEAN Cup 2014

Model tuan rumah
Performa prima pun Relawan tampilkan saat kontes Zebradove ASEAN Cup ke-3 di Kota Pahlawan. Selama 4 babak penjurian ia menunjukkan aksi panggung tanpa lelah. “Setiap babak berlangsung selama 45 menit,” kata M Zainal, juri kontes. Dengan begitu wajar jika Relawan meraih posisi puncak pada ajang bergengsi tingkat internasional itu. Keandalan perkutut milik Ali Badri memang meyakinkan. Buktinya selain menjadi jawara di Piala Asean, perkutut lain milik Ali Badri juga meraih posisi pertama di kelas dewasa senior dan piyik senior pada kontes itu.

Baca juga:  Sentosa Tanpa Hara

Sementara Matador dan Superseno, keduanya milik Hery Sunarto Widodo dan Aditya Nugraha Widodo dari ALF bird farm, merebut juara kedua dan ketiga. Adapun jawara kelas dewasa senior Irama Agung. “Meski sedang ganti bulu ia tetap tampil bagus,” kata Badri. Sebelumnya, Irama Agung juga menjadi jawara pada kelas sama di kontes perkutut tingkat nasional, Piala Kapolri, pada 3—4 Mei 2014 di lapangan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat, Bandung, Jawa Barat.

Dengan kemenangan itu poin Irama Agung di Liga Perkutut Indonesia (LPI) pun semakin sulit ditandingi. “Di LPI Irama Agung punya poin 100,” ujar Badri yang juga pehobi kuda itu. Di kelas dewasa yunior tampil Superman milik HA Toha sebagai jawara. Sementara juara pertama di kelas piyik yunior dan piyik hanging diraih oleh Oplosan koleksi H Gunawan dan Pesona Indah milik H Aan.

Perkutut milik Tim ALF meraih peringkat ke-2 dan ke-3 di kelas Asean

Perkutut milik Tim ALF meraih peringkat ke-2 dan ke-3 di kelas Asean

Membeludak
Kontes Piala Asean bersamaan dengan hari ulang tahun ke-57 Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) itu berlangsung meriah. Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs Syaifullah Yusuf, membuka kontes yang dihadiri oleh pengurus P3SI dan pehobi perkutut dari berbagai kota di Indonesia. Buktinya, jumlah peserta pun membeludak di luar dugaan panitia. “Ada sekitar 70 burung yang tidak bisa ikut kontes karena tidak kebagian gantangan,” kata Badri.

Total 100 perkutut berlaga di kontes internasional itu. “Sebanyak 70 peserta asal luar negeri, Thailand, Malaysia, dan Singapura, sedangkan 30 peserta lainnya dari Indonesia,” kata H. Adras Ridwan, ketua panitia kontes. Adras menuturkan penilaian kontes Piala Asean mengikuti sistem penjurian negara tuan rumah. Artinya, pada kontes kali ini, panitia mengadopsi sistem penjurian ala Indonesia. “Penjurian versi Indonesia memiliki 5 kolom penilaian: suara depan, tengah, ujung, irama, dan dasar suara,” kata Zainal.

Baca juga:  Bertingkat Lalu Tamat?

Jadi, meski perkutut memiliki suara depan, tengah, dan ujung bagus tapi tanpa irama alias datar artinya kualitasnya kurang. Sementara sistem penilaian di Thailand dan Malaysia tidak terlalu memperhatikan irama. Meski demikian bukan berarti pemenang Piala Asean pasti selalu tuan rumah. “Karena sudah mengetahui sistem penilaian yang dipakai masing-masing negara, biasanya pehobi mengikutsertakan perkutut yang suaranya sesuai dengan penilaian negara penyelenggara,” kata Badri.

Zainal menyampaikan hal serupa. Buktinya Rakhang Thung, perkutut milik Wanit di Phuket, Thailand menjuarai Kelas Asean Campuran ABC di Kelantan, Malaysia, pada 13—14 April 2013. Artinya, sang jawara Asean benar-benar perkutut berkualitas. Relawan kini membuktikan diri sebagai terbaik di kawasan Asean. (Rosy Nur Apriyanti)

Edisi Juni 2014.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d