Rahasia Rasa Robusta 1
Rahasia Rasa Robusta 2

Kubah pengering kopi di Kemuning, Temanggung.

Keterbatasan pasokan air menghasilkan robusta legit.

Tumardi (46 tahun) memerlukan waktu lebih lama, yakni 10 hari sejak panen kopi robusta sampai biji kopi itu siap konsumsi. Semula pekebun kopi di Desa Kemuning, Kecamatan Bejen, Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, itu hanya memerlukan waktu 7 hari, 3 hari lebih cepat. Meski lebih lama, Tumardi merasa puas lantaran harga jual kopi itu melonjak signifikan, yakni Rp35.000 per kg. Harga itu Rp6.000—Rp7.000 lebih mahal untuk setiap kilogram kopi.

Durasi pengolahan lama dengan kualitas lebih baik itu setelah Tumardi menerapkan sistem honey. Proses itu bermula dari pemetikan buah kopi robusta Coffea canephora secara selektif. Tumardi hanya memetik buah matang berkulit merah. Ia lantas membawa buah kopi itu ke sebuah ruangan berukuran 5 m x 12 m setinggi 3 m. Dinding dan atap bangunan itu berbahan plastik ultraviolet (UV) berbentuk kubah untuk menghadang air hujan dari atas maupun yang memercik dari sisi-sisi ruangan.

Rahasia Rasa Robusta 3Air terbatas

Plastik itu juga menahan sebagian radiasi UV sehingga aroma dan rasa kopi tidak banyak berkurang. Tumardi menghamparkan buah kopi matang itu di atas baki berbahan kawat ram. Ia mengeringkan biji dalam kubah plastik itu selama 7 hari sampai kadar air sekitar 11—12%. Selanjutnya ia menyortir untuk memisahkan biji rusak atau pecah. Hasil sortiran lantas ia kupas kasar menyisakan sebagian kulit ari. Usai pemanggangan tingkat sedang—medium roasting—biji kopi itu siap giling menjadi bubuk kopi bercitarasa tinggi.

Uji rasa dan aroma atau cupping di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), kopi robusta itu menghasilkan skor 84. Sebagai gambaran kopi-kopi speasialti meraih nilai di atas 80. Pengolahan buah kopi robusta lazimnya secara fullwash sehingga boros air. Di Desa Kemuning air amat terbatas. Kelemahan lain fullwash, semua rasa unik terbilas bersama air bilasan. Tanpa sengaja, warga desa Kemuning mengadopsi metode pengolahan kopi kelas premium yaitu natural honey. Hal itu semata-mata dilatari keterbatasan air.

Baca juga:  Vinca Atasi Kolesterol

Pria 46 tahun menanam kopi secara polikultur di 11 lahan terpisah dengan luas total kira-kira 8 hektare. Pada musim panen 2017, ia memperoleh 3,5 ton biji dari pohon yang tumbuh di antara tegakan sengon, lamtoro, kleresede (gamal), dan pisang. Ia menanami berbagai rimpang seperti jahe emprit, kunyit, atau kapulaga di sela-sela pohon itu. Tumardi memanfaatkan batang gamal sebagai rambatan kemukus Piper cubeba.

Rahasia Rasa Robusta 4

Dompolan kopi robusta produktif.

Sejak harga membaik pada 2008, Tumardi memprioritaskan perawatan kopi sebagai tanaman utama. Tumardi memupuk kopi 2 kali setahun. Ayah 2 anak itu memberikan pupuk untuk kopi secara terpisah dengan tanaman budidaya lain. Saat menanam cabai, misalnya, ia juga memupuk cabai secara terpisah. Pupuk kimia ia berikan atas alasan kepraktisan. Kontur lahan di ketinggian 400—800 m dpl itu berbukit-bukit.

“Kalau memberikan kotoran hewan, selain membawanya repot juga lebih lama karena dosisnya lebih besar,” katanya. Maklum, selain memupuk ia juga rutin memangkas. Setiap usai panen raya, ia melakukan rempelan besar, yaitu memotong cabang-cabang yang ternaungi. Tumardi memangkas tunas air atau cabang nonproduktif—rempel wiwilan—sembari mengontrol kebun, memanen, atau memupuk.

“Praktis setiap saat saya merempel wiwilan karena pertumbuhannya cepat. Setelah merempel di satu tempat lalu pindah tempat lain, begitu kembali ke tempat pertama wiwilan sudah tumbuh lagi,” ujar anak ke-4 dari 5 bersaudara itu. Dengan cara itu, pohon kopi menjadi produktif. Tumardi menghitung produksi pohon menggunakan keranjang bambu—lazim disebut kreneng—yang ia jadikan wadah ceri hasil panen.

Pohon belajar berbuah pada umur 3—5 tahun dan menghasilkan 1 kreneng setara 6 kg kopi ceri; 5—8 tahun, 2 kreneng setara 12 kg; lebih dari 8 tahun, 3 kreneng setara 18 kg. Selain produktif, biji kopi dari pohonnya pun padat dan berbobot. Sekilogram green bean atau kopi beras hanya memerlukan 3,7—4 kg ceri. Angka 3,7 kg tercapai oleh buah di akhir musim panen, yang biasanya matang merah serentak. Tumardi membuktikan bahwa teknik budidaya dan pengolahan efektif mendongkrak kualitas dan produktivitas kopi robusta (Argohartono Arie Raharjo)

Baca juga:  Antiseptik Daun Sirih

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *