Rahasia Menaikkan Produksi Kroto 100%

Dua bulan pertama usai beternak semut rangrang , Tugiran memanen kroto 25 gram per stoples. Peternak di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu mengelola 20 stoples. Namun, usai panen perdana itu perkembangan populasi semut mandek.

Itulah sebabnya ia menjual semut-semut beserta kandangnya karena populasi tidak kunjung bertambah setelah 5—6 bulan perawatan. Pensiunan itu memelihara semutnya di teras rumah.

Kandang tertutup rapat dengan terpal. Pantas kondisi dalam kandang gelap, sangat panas pada siang hari, tetapi dingin pada malam hari. Selama ini peternak memelihara semut dengan kondisi remang-remang hingga gelap.

Kelembapan kandang 70—90% dan suhu rendah, hanya 24—28°C. Itulah sebabnya produksi telur alias kroto relatif rendah, 25 g per bulan per stoples.

Setelah ujicoba puluhan kali, A. Pristiyono temukan kunci sukses ternak semut.

Setelah ujicoba puluhan kali, A. Pristiyono temukan kunci sukses ternak semut.

Produksi kroto lebih cepat

Peternak di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, A. Pristyono mengalami hal serupa pada awal budidaya, 2009—2010. Pristyono memelihara semut dalam kandang dengan kondisi kelembapan tinggi, 70%—90%, suhu 26—28°C.

Hasilnya semut-semutnya tidak berkembang biak dan bahkan jumlahnya semakin berkurang. Mereka saling membunuh dan memangsa sesamanya, sehingga jumlahnya berkurang. Ia menduga sifat predator serangga itu muncul pada kondisi gelap, dingin, dan lembap.

Infrastruktur yang tepat, kunci hasilkan kroto.

Infrastruktur yang tepat, kunci hasilkan kroto.

Setelah kegagalan itu, Pristyono menguji berbagai kondisi suhu dan kelembapan. Ia mengombinasikan beragam suhu dan kelembapan, antara lain 24°C dan 90%, 25°C dan kelembapan 90%, begitu seterusnya hingga mencapai suhu 34°C dan kelembapan 90%.

Ia lalu menganalisis hasilnya. Peternak itu juga mengombinasikan beragam suhu dan kelembapan lebih rendah, yakni 60—85%. Pengamatannya rampung satu tahun kemudian.

Peternak kelahiran Pati, Jawa Tengah, 50 tahun silam itu menyimpulkan kondisi lingkungan ideal untuk beternak semut rangrang pada suhu 31—33°C dengan kelembapan 65—85%. Kondisi itu berlangsung seimbang pada pukul 10.00—14.00.

Sebelum dan setelah waktu itu, faktor lingkungan tidak mempengaruhi aktivitas semut. Dengan mengatur suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya dalam kandang Pristyono memanen 50 gram kroto per bulan dari satu stoples ukuran 1 kg.

Bila lingkungan mikro tidak sesuai, semut akan sangat aktif makan, minum, dan bergerak.

Bila lingkungan mikro tidak sesuai, semut akan sangat aktif makan, minum, dan bergerak.

Jumlah itu 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan hasil yang dipanen peternak semut lain. Kuncinya, suhu kandang hangat, kelembapan sedang, dan kondisi kandang terang.

Menurut ahli semut dari Pusat Penelitian Biologi LIPI di Cibinong, Ir Wara Asfiya, aktivitas semut pada siang atau suhu yang panas tergantung jenis semut. Setiap jenis semut memiliki jam biologi yang berbeda-beda.

Namun, menurut Wara siklus hidup semut rangrang memang dipengaruhi suhu. Hanya ia belum mengetahui suhu optimum untuk reproduksi semut rangrang. Dari penelitian Lokkers pada 1990, reproduksi koloni semut rangrang sangat tinggi saat musim hujan dan awal musim kemarau.

Telur semut

Pada kondisi lingkungan hangat, semut-semut sangat aktif bergerak mengelilingi stoples. Akibat aktivitas itu glukosa dalam tubuh serangga kecil itu “terbakar” dan menghasilkan energi lewat proses metabolisme tubuh.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x