Kulit buah naga merah manjur menanggulangi serangan bakteri mematikan sekaligus menaikkan bobot unggas.

Makhluk mungil Salmonella thypimurium itu berdampak besar bagi peternak. Bila bakteri anggota famili Enterobacteriaceae itu berulah, pertanda peternak puyuh merugi. Salmonella bakteri penyebab diare yang sangat membahayakan ternak unggas. Bakteri itu menyerang unggas lewat pakan atau minuman yang terkontaminasi. Akibat serangannya mortalitas mencapai 80%.

Ekstraksi kulit buah naga dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana.
Ekstraksi kulit buah naga dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana

Selain itu penurunan produktivitas unggas yang drastis, terutama pada ternak puyuh periode starter berusia 2—3 pekan. Pada umur itu bobot tubuh burung puyuh idealnya 36,62-66,49 gram per ekor. Namun, akibat serangan bakteri Salmonella thypimurium bobot tubuh turun drastis. Keruan saja peternak puyuh Coturnix coturnix merugi akibat serangan bakteri itu.

Atasi secara alami

Gejala serangan bakteri maut itu perubahan penampakan feses, kedinginan, dan puyuh terkulai lemah. Pantas mereka bergerombol dan mendekati sumber pemanas.Satwa anggota famili Phasianidae itu mengalami diare sehingga kotoran berbentuk pasta atau basah. Selain itu puyuh juga dehidrasi berkepanjangan. Selama ini para peternak mencegah serangan bakteri maut itu menggunakan antibiotik komersial jenis bacitracin.

Mereka memberikan antibiotik melalui air minum. Namun, pemerintah melarang penggunaan antibiotik itu pada 2009 dan mulai berlaku pada awal 2018. Pelarangan itu karena pemberian antibiotik mengakibatkan resistensi bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik sehingga menyulitkan pengobatan. Itulah sebabnya peternak waswas menghadapi serangan bakteri mematikan.

Sejatinya peternak puyuh dapat memanfaatkan kulit buah naga untuk mencegah serangan bakteri yang namanya diambil dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi asal Amerika Serikat itu. Itulah yang mendorong periset di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor,  Prof. Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc dan Taryati, S.Pt, memanfaatkan kulit buah naga untuk mencegah dan mengatasi Salmonella thypimurium.

Selama ini masyarakat menyantap buah naga yang kaya antioksidan itu. Kulit buah Hylocereus polyrhizuz berakhir di tempat sampah. Penelitian awal berupa uji daya hambat ekstrak kulit buah naga yang kemudian dilanjutkan pada uji coba pada air minum ternak burung puyuh periode starter. Pada riset itu, mereka membandingkan pemberian ekstraksi kulit buah naga merah dan air dengan antibiotik bacitrasin.

Buah naga

Hasil pengujian menunjukkan, makin tinggi ekstrak kulit buah naga, makin tinggi pula daya hambat terhadap pertumbuhan Salmonella. Menurut Yuli dengan kadar 5% saja, ekstrak kulit buah naga merah mampu menghambat 6 mm pertumbuhan bakteri Salmonella, daya hambat ini termasuk kuat belum lagi riset menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit buah naga, makin besar daya hambatnya terhadap bakteri Salmonella.

Kulit buah naga merah berfaedah mengatasi diare pada puyuh.
Kulit buah naga merah berfaedah mengatasi diare pada puyuh

Hasil riset yang dilaksanakan tahun 2015 itu menggembirakan peternak. Pengujian ekstrak kulit buah naga merah pada minum ternak menyebabkan warna minuman berubah kemerahan. Itu karena kulit buah naga mengandung zat warna alami antosianin yang cukup tinggi sekaligus berperan sebagai antioksidan yang membangun sistem kekebalan tubuh. Meskipun demikian perubahan warna miuman itu tidak mempengaruhi selera burung puyuh untuk minum.

Aplikasi ekstrak kulit buah naga menunjukkan hasil yang positif bila dibandingkan dengan antibiotik bacitracin. Mortalitas atau angka kematian burung puyuh menurun menjadi 1,6% diikuti dengan pertambahan bobot tubuh burung puyuh 2,83 gram per ekor per hari. Sementara itu pada aplikasi antibiotik tingkat mortalitas kurang dari 4% dengan pertambahan bobot tubuh hanya 2,43 gram per ekor per hari.

Kulit buah naga merah mengandung beberapa senyawa aktif, di antaranya flavonoid, steroid, triptrenoid, dan saponin. Senyawa-senyawa aktif itu berfungsi sebagai antibakteri dan antioksidan. Dalam penerapan sehari-hari peternak dapat merebus kulit buah naga yang sudah dicuci terlebih dahulu menggunakan air dengan perbandingan 1:1 sampai mendidih selama 30 menit. Kemudian saring hasil rebusan untuk mendapatkan hasil ekstrak agar terpisah dengan ampas kulit buah naga.

Cara serupa juga dapat diberikan kepada ternak lain seperti ayam dan itik. Sebab, Salmonella juga memicu penyakit serupa pada unggas lain seperti ayam, itik, dan bahkan manusia. Limbah rumah tangga itu menjadi alternatif bagi para peternak unggas khususnya burung puyuh untuk mengatasi serangan Salmonella. Sebab, harganya lebih murah sekaligus berdampak jangka panjang yang baik terhadap ternak dan lingkungan. Konsumen pun merasa lebih aman dan terlindungi.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d