Purwoceng Jantankan Cupang

Purwoceng Jantankan Cupang 1

Teknologi terbaru hasilkan cupang jantan yang bernilai ekonomis lebih tinggi.

Syuhada Restu Danupratama senang bukan kepalang karena sepasang indukan menghasilkan 72% cupang jantan pada Februari 2016. Bandingkan dengan peternak lain yang hanya mendapatkan 40% cupang jantan dari satu pemijahan. Sepasang Betta splendens rata-rata mengeluarkan 150 anakan. Artinya jumlah cupang jantan ternakan Restu 108 ekor, sedangkan peternak lain 60 ikan. Restu menjual cupang jantan sekitar Rp4.000 per ekor dan betina Rp3.000/ekor.

Peternak di Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, itu, melego 200—300 cupang saban bulan dengan omzet Rp558.000. Restu hanya mengantongi omzet Rp390.000 jika indukan menghasilkan 40% cupang jantan. Volume penjualan relatif sedikit karena Restu baru beternak ikan anggota famili Osphronemidae itu pada medio 2014. Apalagi sejak medio 2016 hingga Juli 2017 alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu sibuk menyelesaikan skripsi sehingga budidaya cupang berhenti sementara.

Maskulinisasi
Lalu apa rahasia Restu sehingga mendapatkan lebih banyak cupang jantan? “Saya melakukan jantanisasi cupang melalui pengayaan pakan,” kata Restu. Menurut pehobi cupang di Tomang, Jakarta Barat, Hermanus J Haryanto, menjantankan cupang di kalangan pehobi bukan hal lazim. Namun, proses itu mungkin saja terjadi pada peternak skala industri. Peneliti cupang di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH), Kota Depok, Jawa Barat, Eni Kusrini MSi, jantanisasi adalah pengalihan kelamin pada fase diferensiasi gonad sehingga menjadi ikan jantan.

Diduga kandungan senyawa fito androsen dalam purwoceng berperan dalam proses maskulinasi cupang.

Diduga kandungan senyawa fito androsen dalam purwoceng berperan dalam proses maskulinasi cupang

 

Jantanisasi yang mencapai lebih dari 50% sudah bagus. “Jantanisasi cupang oleh Restu tergolong bagus karena memperoleh 72%,” kata Eni. Lebih lanjut ia menuturkan jantanisasi bertujuan mendapatkan lebih banyak cupang jantan yang harganya lebih mahal ketimbang betina. Penampilan cupang jantan juga lebih indah daripada betina. Restu memanfaatkan serbuk purwoceng Pimpinella pruatjan sebagai bahan baku jantanisasi. Pembuatan larutan jantanisasi relatif mudah (Lihat ilustrasi: Jantankan Cupang). Pemberian larutan jantanisasi pada cupang berumur 3 hari pascamenetas hingga 40 hari.

Baca juga:  Demi Betta Lebih Baik

Setelah digunakan, simpan larutan stok di dalam lemari pendingin agar bahan aktif tetap terjaga. “Masa simpan larutan stok di dalam kulkas mencapai satu tahun,” kata pria berumur 23 tahun itu. Pemilihan purwoceng karena berbahan alami, ramah lingkungan, dan sudah berstandar baku. Restu mendapatkan serbuk tanaman anggota famili Apiaceae itu dari salah satu toko di Bogor, Jawa Barat. Menurut Restu larutan jantanisasi itu dapat digunakan untuk semua jenis cupang yakni plakat, serit, halfmoon, dan giant.

Selama ini ia menerapkan jantanisasi pada halfmoon. Alasannya permintaan cupang jenis itu relatif banyak sehingga penjualan pun lebih mudah. Ia mendapatkan ramuan jantanisasi berbahan purwoceng dari salah satu skripsi di kampus. Saat itu ia membaca banyak skripsi untuk mencari judul tugas akhir. Restu yang tertarik dengan hasil skripsi itu menerapkan teknik jantanisasi pada cupang. Semula ia hanya mendapatkan 50% jantan. Musababnya ia mesti menentukan dosis tepat purwoceng dan bahan lainnya seperti alkohol.

Serbuk purwoceng terbukti empiris dan ilmiah meningkatkan persentase cupang jantan.

Serbuk purwoceng terbukti empiris dan ilmiah meningkatkan persentase cupang jantan

 

Jantanisasi cupang dengan purwoceng sejalan dengan hasil riset Harton Arfah dan rekan dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Harton dan rekan menggunakan beragam dosis ekstrak purwoceng yaitu 0 μL/L, 10 μL/L, 20 μL/L, dan 30 μL/L. Objek penelitian 35 embrio cupang jenis halfmoon yang memasuki fase bintik mata atau sekitar jam ke-28 setelah pembuahan. Periset memasukkan embrio itu ke masing-masing dosis ekstrak purwoceng.

Stigmasterol
Hasil penelitian yang termaktub dalam Jurnal Akuakultur Indonesia itu menunjukkan pemberian 20 μL/L ekstrak purwoceng menghasilkan 62,66% ikan jantan. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang mencapai 45,1%. Harton dan rekan menduga senyawa fitoandrogen berupa stigmasterol dalam purwoceng berperan pada maskulinisasi cupang. Stigmasterol merangsang sistem saraf ikan dan memacu pelepasan hormon gonadotropin yang berperan dalam pembentukan gonad jantan.

Ilustrasi: Bahrudin

Kemudian darah membawa hormon itu menuju gonad sebagai petunjuk untuk memulai pembentukan gonad jantan (testis). Selain dosis, keberhasilan pengarahan kelamin cupang juga dipengaruhi lama perlakuan dan fase ikan uji saat perendaman. Peneliti menduga perendaman pada fase embrio hingga bintik mata paling efektif untuk maskulinisasi cupang. Musababnya perkembangan otak ikan masih labil sehingga mudah diarahkan. Fase bintik mata dan embrio pun dianggap telah kuat menerima perlakuan sehingga mengurangi risiko gagal menetas.

Baca juga:  Guppy Albino Kampiun

Menurut Eni maskulinisasi lazim dilakukan pada ikan lain seperti nila. Bahan baku jantanisasi pun tidak hanya purwoceng. Peternak bisa menggunakan madu dan zat kimia berupa metil testosteron. Yang disebut terakhir diterapkan juga pada ikan nila. Sayangnya sangat sulit mendapatkan metil testosteron. Penggunaan bahan kimia itu juga menyebabkan tulang larva cupang agak bengkok. Jadi hindari menggunakan metil testosteron untuk cupang. Eni mengatakan morfologi dan kualitas cupang hasil jantanisasi sama dengan ikan sejenis tanpa maskulinisasi.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x