Proteksi Ganda Buah Cinta

Proteksi Ganda Buah Cinta 1
Kadia (kiri) tahan pecah buah dibanding kompetitor (kanan)

Kadia (kiri) tahan pecah buah dibanding
kompetitor (kanan)

Sedia “payung” sebelum tanam tomat. Sedia benih berkualitas dan cara budidaya tepat supaya tomat selamat di musim hujan.

Musim hujan momok bagi pekebun tomat. Beragam penyakit yang merusak tanaman bermunculan. Tak heran bila pekebun sering merugi ketika membudidayakan tomat pada musim hujan. “Saat musim hujan, tomat rentan terserang layu bakteri. Produksi tomat pasti turun,” ujar pekebun tomat di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, H. Farkah.

Gejala serangan layu bakteri antara lain daun muda tampak layu. Lambat laun, daun membusuk, lalu busuk menjalar ke seluruh tanaman. “Penyakit layu bakteri menjadi momok pekebun hampir di setiap sentra tomat,” kata peneliti dari PT Syngenta di Malang, Provinsi Jawa Timur, Aziz Hardjanto. Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Prof Dr Ati Srie Duriat, peneliti mengungkap hal senada. “Layu bakteri banyak menyerang tanaman anggota keluarga Solanaceae pada musim penghujan,” kata doktor alumnus Universitas Padjadjaran itu.

Tanaman varietas tahan penyakit di musim hujan

Tanaman varietas tahan penyakit di musim
hujan

Benih bermutu

Farkah tak gentar menghadapi gempuran penyakit itu. Ia tetap menanam tomat pada musim hujan sebab hasil panen tomat jauh lebih bagus ketimbang komoditas lain, seperti kentang. Biaya produksi kentang dan tomat relatif sama sekitar Rp40-juta—Rp45-juta per hektar, tetapi hasil panen tomat lebih tinggi dibanding kentang.

Pada musim hujan, Farkah menuai hingga 3 kg buah per tanaman. Artinya total panen mencapai 60 ton per ha berpopulasi 20.000 tanaman. Bila harga jual Rp3.000 per kilogram, Farkah mengantongi Rp180-juta. “Kuncinya ada pada pemilihan benih dan perawatan yang tepat,” kata Farkah.

Selain itu budidaya Solanum lycopersicum pada musim hujan menguntungkan. Menurut Farkah, harga tomat pada musim hujan cenderung tinggi akibat minimnya pasokan. Pada Desember 2013, misalnya harga tomat mencapai Rp4.500 per kg. Bandingkan dengan harga musim kemarau yang hanya Rp2.500 per kg. Itu akibat pasokan melimpah sehingga harga jatuh. Menurut pengalaman Farkah, biaya produksi tomat per kg pada musim hujan relatif stabil, yakni Rp40-juta—Rp45-juta per hektar. Oleh karena itu pekebun berpeluang mendapat laba lebih besar pada musim hujan.

Baca juga:  Gandakan Panen Tiram

Salah satu cara memastikan peluang itu dengan menanam tomat yang cocok di musim hujan. Farkah menanam tomat jenis kadia yang tahan layu bakteri. “Secara genetik, kadia toleran terhadap layu bakteri sehingga cocok ditanam pada musim hujan,” kata Manajer Pengembangan Bisnis Sayuran PT Syngenta, Satria Bramanto.

Selain itu, penampilan buah menarik. Ketika matang, kadia berwarna merah cerah, bentuk buah lonjong. Bobot    90—110 gram per buah. Jenis lain 40—50 gram per buah. Penampilan buah seperti itu sesuai dengan selera pasar. Menurut Farkah, sejak 2 tahun terakhir konsumen meminta tomat besar dan lonjong. Keunggulan lain, kulit kadia tebal dan keras sehingga awet hingga 7 hari. Buah juga tahan cracking alias pecah di ujung buah. Kondisi itu ideal untuk pengiriman tomat jarak jauh.

Hasil maksimal

Cara lain memaksimalkan peluang laba dengan melakukan proteksi terhadap tanaman supaya tangguh menghadapi penyakit busuk batang dan layu fusarium yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Untuk itu pekebun sebaiknya melakukan perlindungan dengan memanfaatkan berbagai jenis pestisida “Budidaya harus intensif. Pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati perlu diterapkan,” kata Specialist Vegetables Crops PT Syngenta, Iswadi Prasetyo.

Jurus pertama yang dikeluarkan adalah membuat stamina tanaman tomat prima. Itu terpenuhi jika pasokan hara cukup. Iswadi merekomendasikan kombinasi pupuk organik dan kimia yakni pupuk dasar berupa 4 ton pupuk kandang, 40 kg karbofuran, dan 4—5 ton dolomit untuk 1 ha lahan.

Pada masa vegetatif pekebun menggunakan pupuk yang mengandung nitrogen dan fosfat tinggi. Ketika tanaman mulai berbuah, tambahkan pupuk kalium. Pemupukan dilakukan setiap 10 hari ketika masa vegetatif dan 15 hari saat masa generatif.

Perlindungan tanaman juga perlu diberikan sejak penyemaian. Untuk mempercepat perkecambahan, campurkan 1 ml insektisida Cruiser dalam 1 kg benih. Semprotkan 0,25 ml/l insektisida Agrimec untuk mencegah hama dan 1,25 g/l fungsida  Ridomil untuk mencegah penyakit rebah kecambah Phytium sp saat persemaian. Ulangi penyemprotan sehari sebelum pindah tanam.

Baca juga:  Varietas Top dan Pot Udara

Sejak awal penanaman, Iswadi mencegah kehadiran serangga vektor. Ia melarutkan 1,25 g  fungsisida Bion M dan 1 ml Amistartop dalam seliter air. Ia juga mengaplikasikan Ridomil 2 g per liter. Pestisida itu untuk mengendalikan penyakit akibat cendawan dan bakteri, seperti Phytophthora infestans penyebab busuk daun dan Xantomonas sp.

Adapun untuk mencegah serangan hama seperti pengorok daun Liriomyza sp, Iswadi menyemprotkan 0,6 ml Alicia dan 0,5 ml Agrimec yang telah dilarutkan dalam seliter air. Pestisida itu disemprotkan seminggu sekali atau sesuai kebutuhan. “Bila ada kasus serangan, bisa 5 hari sekali,” kata pria kelahiran            28 Maret 1980 itu.

Memasuki masa generatif, Iswadi menyarankan penggunaan fungisida Revus untuk melindungi tanaman dari Phytophthora. Dosisnya 2,5 ml per liter air. Insektisida Curacron dan Proclaim diberikan untuk mencegah hama ulat buah Heliothis armigera. Ulat itu menyerang daun, bunga, dan buah. Dampaknya buah berlubang dan dagingnya lunak.

Iswadi menuturkan sebaiknya hentikan pemakaian pestisida sistemik minimal 1 bulan sebelum panen. Pestisida kontak minimal satu pekan sebelum panen untuk meminimalkan residu. Dengan teknik budidaya yang tepat, saat musim hujan pun petani tetap bisa tuai laba dari tomat. (Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x