Produksi Tanpa Pakan Buatan 1
Hasil panen udang windu di tambak Rusli Nurdin.

Hasil panen udang windu di tambak Rusli Nurdin.

Sertifikat Aquaculture Stewardship Council untuk produk udang windu organik pertama di Indonesia.

Foto : Rusli Nurdin Rusli petambak udang windu yang mendapat sertifikat ASC pertama di Indonesia.

Foto : Rusli Nurdin
Rusli petambak udang windu yang mendapat sertifikat ASC pertama di Indonesia.

Rusli Nurdin girang bukan kepalang. Petambak udang windu di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, itu memperoleh harga menjulang, yakni Rp55.000 per kg. Panen terakhir pada Desember 2017 Rusli menjual 600 kg udang windu kepada eksportir PT Mustika Minanusa Aurora (PT MMA). Omzet Rusli mencapai Rp160 juta—Rp200 juta dari penjualan udang anggota famili Penaeidae itu.

Petambak yang mengelola 4 petak dengan luas total 100 hektare itu menikmati harga tinggi sejak Agustus 2017. Sudah begitu, produksi udang windu pun lebih besar, rata-rata 200—300 kg per tambak setara 25 ha. Padahal, semula Rusli hanya memanen 100 kg udang windu di luasan sama. Yang menggembirakan biaya produksi turun drastis, hingga 70%. Sebab, Rusli tak pernah memberikan pakan buatan.

Panen meningkat

Keuntungan berlipat itu—harga tinggi, produksi melambung, dan biaya produksi rendah—terjadi setelah Rusli menanam mangrove Rhizoporz sp. dan Avicennia sp. di sekeliling tambak pada tahun 2015−2016. Jarak tanam mangrove 2—3 meter. Tanaman itu menjadi sabuk hijau di tambak Rusli. Pada umur 1 tahun, mangrove itu makin besar, tinggi tanaman rata-rata 1,5 meter dan bisa mencapai 10 meter.

Menurut periset dari Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Sumatera Utara, Zainuri Syam, sumber pakan alami seperti plankton di perairan mangrove melimpah. Udang windu Penaeus monodon itu lebih menyukai plankton selama 30 hari pertama setelah penebaran. Namun, setelah berumur lebih dari 30 hari, udang mulai mengonsumsi pakan berukuran lebih besar, yaitu gastropoda. Pada umur itu udang windu masih memakan plankton.

Pada umur 60 hari pakan utama udang berupa makrozobenthos. Selain itu banyaknya fitoplankton juga mempengaruhi oksigen terlarut di tambak. Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : 28 Tahun 2004, oksigen terlarut untuk budidaya udang windu 3,0 – 7,5 mg/l. Rusli mendatangkan bibit udang windu dari Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo, keduanya di Provinsi Jawa Timur. Ia kemudian menebar bibit berukuran PL 10—11 itu ke tambak.

Baca juga:  JALAN KELUAR KEDELAI

Padat tebar mencapai 1—3 bibit per m². Artinya di lahan tambak seluas 25 hektare ia menebarkan total 200.000 bibit udang windu. Sejak penebaran bibit, praktis Rusli tidak memberikan pakan udang. Udang-udang itu menikmati pakan alami yang melimpah setelah tumbuh mangrove. Selain sebagai pendukung budidaya udang windu mangrove memiliki fungsi yang lebih luas, yaitu menjaga keberlangsungan hidup lingkungan sekitarnya.

Padahal, sebelum menanam mangrove, Rusli hanya mengandalkan pasang surut air, pupuk, kapur gamping, dan pestisida yang menghabiskan Rp13 juta untuk bahan tumbuhnya plankton dalam satu periode budidaya selama 2,5—3 bulan. Artinya setelah penanaman mangrove Rusli mampu menghemat biaya itu. Udang windu siap panen berukuran 12,5—20 cm. Setiap kilogram terdiri atas 30—35 ekor.

Foto : Rusli Nurdin Tambak udang windu milik Rusli Nurdin di Kalimantan Utara kini bersabuk hijau setelah mangrove tumbuh.

Foto : Rusli Nurdin
Tambak udang windu milik Rusli Nurdin di Kalimantan Utara kini bersabuk hijau setelah mangrove tumbuh.

Menurut Rusli jika cuaca baik, panen udang windu mencapai 3—5 ton per tahun. Namun, saat cuaca buruk maka hasil panen hanya 1 ton di periode yang sama. Bandingkan saat Rusli belum menanam mangrove, produksi udang windu hanya 100 kg per tambak. Menurut Rusli cuaca buruk seperti curah hujan tinggi yang menyebabkan air pasang sehingga serangan penyakit meningkat. Rusli mengatakan, cuaca sedang buruk memicu serangan penyakit seperti white spot.

Masyarakat lokal menyebutnya penyakit panu udang. Akibat serangan penyakit itu terdapat bercak putih pada udang windu. Para petambak di Tarakan biasanya panen dini jika white spot menyerang.

Kerjasama

Dalam 8 tahun terakhir Rusli konsisten menerapkan sistem budidaya udang windu organik. Berkat penerapan inovasi itu Rusli memperoleh sertifikat organik Aquaculture Stewardship Council (ASC) pertama di Indonesia untuk komoditas udang windu. Lembaga yang menerbitkan sertifikasi ekolabel perikanan berkelanjutan itu adalah Control Union, Peru. Rusli meraih sertifikasi itu setelah bekerja sama dengan PT Mustika Minanusa Aurora (PT MMA), eksportir yang mendapat dukungan dari Jepang.

Foto : Rusli Nurdin Sertifikat ASC pertama di Indonesia untuk budidaya udang windu.

Foto : Rusli Nurdin
Sertifikat ASC pertama di Indonesia untuk budidaya udang windu.

PT MMA berinisiatif mengajukan sertifikasi ASC untuk tambak milik Rusli karena importir dari Jepang mengharuskannya. Selain itu, pihak MMA juga terus mengusahakan untuk menambah petambak udang windu bersertifikat ASC. Adapun World Wide Fund for Nature (WWF) mendampingi selama program berlangsung dan rehabilitasi mangrove. Sertifikasi ASC (lingkungan & sosial) dalam jangka panjang dapat menjamin keberlangsungan usaha atau mata pencaharian masyarakat petambak.

Baca juga:  Kanker Batang Ancam Naga

Berdasarkan syarat dan ketentuan sertifikasi ASC tentang lingkungan, budidaya udang windu yang berekolabel sertifikat ASC harus memperhatikan lingkungan sekitar. Misal petambak tidak mengganggu hewan dilindungi, terutama yang berpotensi sebagai predator atau hama, menanam mangrove, dan memantau sabuk hijau pesisir dan sungai, memantau kualitas air buangan (limbah) yang keluar dari tambak, dan tidak menggunakan air tanah tawar.

Selain itu petambak juga harus menelusur bahan baku pakan dan bibit. Tujuannya agar tidak mengganggu lingkungan. Saat ini di Tarakan terdapat 2 petambak udang windu yang memperoleh sertifikat ASC. Makin banyak petambak udang yang meraih sertifikasi ASC diharapkan dapat memelihara keberlangsungan petambak udang sekaligus memperbaiki kondisi pesisir. Sebab, dalam beberapa dasawarsa terakhir tambak udang dianggap bertanggung jawab terhadap kerusakan mangrove di pesisir.

Menurut koordinator perikanan WWF, Cut Desyana, sertifikat ASC tidak dapat diberikan kepada tambak udang yang dibangun setelah Mei 1999. Hal itu mengacu pada kesepakatan internasional mengenai mangrove yang baru pada saat itu. Untuk tambak yang dibangun sebelum Mei 1999 boleh menjalani proses sertifikasi dengan syarat melakukan rehabilitasi minimal 50% dari luas tambak yang disertifikasi. (Fakhri Muhammad Luthfi)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *