Sapi menghendaki udara sejuk, sehingga peternak harus memperhatikan ventilasi kandang.

Sapi menghendaki udara sejuk, sehingga peternak harus memperhatikan ventilasi kandang.

Pakan dan sanitasi kandang meningkatkan produksi dan mutu susu sapi.

Peternak sapi perah di Desa Watulumbung, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Yudi Purwanto, gundah. Pasalnya, 3 tahun berternak sapi perah produksinya tak kunjung meningkat. Peternak sapi sejak 2013 itu hanya memperoleh 5—9 kg susu sapi segar per ekor per hari. Ia menerima harga jual Rp4.500 per kg susu hasil perahannya. Kondisi terparah ketika anakan sapi miliknya mati beberapa jam pascalahir.

Sapi pun sulit bunting, setidaknya butuh 3—5 kali inseminasi agar ruminansia besar itu bunting. Menurut peternak asal Belanda yang bergabung dalam program farmer to farmer (FTF), Adinda Roerink, peternak sapi perah di Indonesia menerapkan teknik budidaya secara turun-temurun. Mereka belum mengetahui cara terbaik budidaya sapi perah.

Pakan rendah

Adinda yang memelihara 120 sapi perah itu mencontohkan, pakan yang diberikan peternak di Indonesia komposisinya 60% konsentrat dan 40% rumput. Hal itu kurang tepat dan menyebabkan sapi sakit. Kondisi ideal pakan rumput hingga 60 kg per hari untuk sapi laktasi atau yang tengah menyusui. Pasalnya, sapi lebih mudah mencerna rumput dibandingkan dengan konsentrat. Rumput berupa cacahan dengan panjang hingga 3 cm lebih diutamakan.

Tempat pakan di bawah menyesuaikan dengan cara makan sapi di alam.

Tempat pakan di bawah menyesuaikan dengan cara makan sapi di alam.

Yudi mengubah pola budidaya sapi perah setelah mengikuti program farmer to farmer (FTF) yang diselenggarakan Frisian Flag Indonesia (FFI). Ayah satu anak itu mengikuti program FTF selama 21 hari pada 2016. Selama mengikuti program itu, Yudi memperoleh pengetahuan baru beternak sapi perah. Setelah mengikuti program itu, Yudi menerapkan inovasi beternak sapi. Ia pun memberikan pakan berupa rumput hingga 60 kg per hari untuk seekor sapi laktasi.

Baca juga:  Merawat Ekor Tikus

Pakan juga harus tersedia setiap saat. Harap mafhum, kebutuhan minimal rumput adalah 10% bobot badan sapi per hari. Jika bobot tubuh seekor sapi 300 kg, maka membutuhkan minimal 30 kg rumput. Menurut Adinda peternak tetap dapat memberikan konsentrat setelah kebutuhan pakan rumput terpenuhi. Teknik pemberian terbaik konsentrat adalah dosis rendah dan sering. Contoh kebutuhan konsentrat 6 kg per hari, maka peternak memberikan 4 kali masing-masing 1,5 kg.

Peternak sapi perah asal Belanda, Adinda Roerink.

Peternak sapi perah asal Belanda, Adinda Roerink.

Menurut Adinda tempat pakan ideal harusnya lebih rendah menyesuaikan dengan sapi makan di alam. Cara makan sapi yang menunduk lebih ergonomis. Dampaknya sapi lebih baik saat mencerna pakan. Kekurangan lain tempat pakan tinggi kepala sapi kerap terbentur tempat pakan ketika hendak beridiri setelah tengkurap. Oleh karena itu, Yudi memperpendek lokasi pakan, sejajar dengan lantai kandang, semula mencapai 1 meter.

Yudi juga memperhatikan pemberian air minum. Pasalnya, sapi membutuhkan minum hingga 80 liter per ekor per hari. Sebelum mengikuti program FTF ia hanya memberikan 10 liter air minum per hari. Menurut Adinda perlakuan peternak di Indonesia hanya memberikan air minum 2 kali sehari pada ember sedang. Hal itu berdampak pada hasil panen susu kurang optimal. Kini asupan air minum di kandang sapi milik Yudi tersedia setiap saat.

Produksi naik

Setelah menerapkan inovasi itu hasil panen susu meningkat menjadi 10—15 kg per ekor per hari. Artinya produksi susu sapi meningkat 50%. Bahkan kualitas susu pun melambung. Indikator kenaikan kualitas antara lain total solid (TS), solid non fat (SNF) dan total plate count (TPC). Sebelum mengikuti FTF, TPC pada susu hasil panenan Yudi kisaran 1-juta—500.000 cfu/ml, kini turun menjadi 500.000—300.000 cfu/ml. Pantas jika Yudi menerima harga jual pun meningkat menjadi Rp5.000 per kg.

Karpet alas pada kandang agar sapi nyaman.

Karpet alas pada kandang agar sapi nyaman.

Selain itu Yudi kini memperhatikan ventilasi kandang dan sanitasi. Pasalnya, suhu ideal yang dikehendaki sapi adalah 15—20℃. Kandang terbuka berventilasi lebih baik agar sapi nyaman. Menurut Adinda faktor lantai kandang pun berpengaruh. Lantai tidak rata menyebabkan kotoran menumpuk. Akibatnya kotoran menempel di puting sapi.

Baca juga:  Akademi Sapi

Kotoran yang menempel pada puting berpotensi menyebabkan sapi terkena mastitis. Jika sudah terserang mastitis produksi dan mutu susu anjlok. Adapun untuk kebersihan dan kesehatan, Adinda menganjurkan satu lap untuk satu sapi saat proses pemerahan.

Menurut Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F Saputro, FTF memasuki tahun ke-6 dan telah menjangkau hingga 1.000 peternak di tanah air.

^Penutupan program farmer to farmer 2018 di Koperasi Sukamakmur, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.

Penutupan program farmer to farmer 2018 di Koperasi Sukamakmur, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.

Menurut kepala Dinas Peternakan, Jawa Timur, drh. Wemmi Niamati, MMA. dengan populasi 275.675 sapi perah penyumbang nomor satu kebutuhan susu nasional. Menurut DDP Manager and FDOV Project Frisian Flag Indonesia, Akhmad Sawaldi, pada tahun ke-6 program FTF kini memasuki area cakupan baru yakni, Blitar dan Tulungagung. Program yang dimulai sejak 2013 itu itu bertujuan mendorong peternak menerapkan praktik peternakan sapi perah yang baik, konsisten, dan berkelanjutan. Harapannya memenuhi kebutuhan konsumsi susu masyarakat Indonesia. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d