Pertumbuhan padi menjadi lebih seragam dengan penggunaan POC.

Pertumbuhan padi menjadi lebih seragam dengan penggunaan POC.

Produksi padi meningkat 21—25% berkat penggunaan pupuk berbahan rumput laut.

Pada Oktober 2015 Rahmat Gumelar memanen 582—600 kg padi varietas srigading dari sawah seluas 840 m2 miliknya. Jumlah itu meningkat 21—25% dari hasil panen sebelumnya yang hanya 480 kg. Hasil panen meningkat setelah Rahmat menggunakan pupuk organik cair (POC) berbahan rumput laut. Pupuk itu terdiri atas dua jenis, yaitu untuk fase vegetatif dan generatif.

Rahmat menggunakan pupuk vegetatif sejak persiapan benih. Petani asal Desa Ranjeng, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu merendam benih padi dalam larutan pupuk vegetatif dengan konsentrasi 50 ml per 15 liter air selama 24 jam. Ia lalu merendam 20 kg benih padi di larutan pupuk itu. Rahmat kembali memberikan pupuk vegetatif saat padi berumur 15—17 hari setelah semai (HSS). Dosisnya 2 ml per liter.

Hasil panen padi meningkat 20-25%.

Hasil panen padi meningkat 20-25%.

Pupuk generatif
Rahmat menanam bibit padi pada umur 20—25 hari. Pada umur 7 hari setelah tanam (HST), Rahmat memberikan pupuk Urea dengan dosis 50 kg dan 75 kg Phonska per ha. Barulah pada umur 15, 25, dan 35 hari ia menambahkakn pupuk organik cair vegetatif dengan konsentrasi 3—5 ml per liter air. Alumnus Jurusan Manajemen Universitas Islam Nusantara itu menyemprotkan larutan pupuk itu ke seluruh daun dan batang padi.

Petani padi sejak 2007 itu kembali memberikan Urea ketika tanaman berumur 60 hari. Dosisnya 75 kg per ha dan 50 kg Phonska per ha. Saat tanaman berumur 45 hari, 55 hari, dan 65 hari Rahmat menambahkan pupuk organik cair generatif berkonsetrasi 5 ml per liter air. Larutan pupuk itu ia semprotkan juga ke seluruh daun dan batang padi. Pada umur 120 hari tanaman padi siap panen.

Baca juga:  Melon Lonjong Nan Unik

Menurut Rahmat penambahan pupuk organik cair tidak membebani biaya produksi. Sebab, petani berusia 54 tahun itu mengurangi jumlah pemakaian pupuk sintetis kimia hingga 50%. Pada budidaya sebelumnya Rahmat memberikan pupuk sintetis kimia 2 kali per musim tanam dengan dosis lebih banyak. Pemupukan pertama diberikan pada umur 7 hari setelah tanam berupa pupuk Urea dengan dosis 100 kg dan Phonska 150 kg per ha.

Pemupukkan kedua dilakukan pada umur 60 hari dengan memberikan 150 kg Urea dan Phonska 100 kg per ha. Meski pemberian pupuk lebih banyak, ayah 2 anak itu hanya mampu memanen rata-rata 480 kg dari lahan 840 m2 miliknya. Setelah menggunakan pupuk organik cair hasil panen meningkat menjadi 582—600 kg. “Pertumbuhan padi lebih seragam, akarnya lebih panjang dan kuat,” kata petani padi itu.

Rahmat tertarik menggunakan pupuk organik cair setelah menonton sebuah acara televisi yang menayangkan informasi tentang manfaat penggunaan pupuk organik cair. Demi menambah pengetahuan tentang faedah pupuk organik, ia ke Kota Bandung untuk mengikuti seminar mengenai pemupukan. “Saya tertarik menggunakan POC karena aman dan mengurangi penggunaan pupuk sintetis kimia, dan hasil panen meningkat,” kata Rahmat.

Rahmat Gumelar, petani asal Desa Ranjeng, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Rahmat Gumelar, petani asal Desa Ranjeng, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Berbagai Tanaman
Mengapa pupuk organik cair itu meningkatkan produksi padi? Menurut Manajer Pengembangan Agribisinis PT Diamond Interest, Ir Suhendro Atmaja, pupuk organik cair itu terbuat dari rumput laut Ascophylum nodosum, sejenis alga cokelat yang diambil dari lautan Atlantik Utara. Bahan baku itu memiliki keunggulan kaya nutrisi seperti lengkap dan seimbangnya unsur hara makro dan mikro, serta memiliki kandungan hormon yang dibutuhkan tanaman seperti IAA (Indole Aceti Acid), zeatin, kinetin, dan GA3 (asam giberelat).

Baca juga:  Duo Padi Gogo Baru

Seluruh bahan baku itu kemudian diproses dengan teknologi nano. Dengan teknologi pengolahan itu maka nutrisi dari pupuk organik cair lebih mudah diserap tanaman. “Aplikasi pupuk bisa disemprotkan ke daun dan seluruh bagian tanaman, juga bisa ke tanah di sekitar perakaran,” kata Suhendro. Alumnus Jurusan Ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, pupuk organik cair untuk fase vegetatif berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan akar, batang, daun, dan tunas.

Selain itu bisa juga digunakan untuk menyehatkan tanaman sakit atau usai panen. Adapun pupuk fase generatif berfungsi merangsang tanaman agar cepat berbunga dan berbuah, menguatkan tangkai bunga dan buah, serta meningkatkan panen. “Karena dibuat dari bahan-bahan yang ramah lingkungan, penggunaan pupuk organik cair tidak hanya dapat meningkatkan hasil, tetapi juga memperbaiki kondisi tanah dengan cara meminimalisir penggunaan pupuk kimia,” ujar Suhendro.

Menurut Dr Ir Cecep Hidayat MP, dosen matakuliah kesuburan tanah dan pemupukan, jurusan Agroteknologi, Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, pupuk organik cair adalah pupuk pelengkap yang pemberiannya harus berulang hingga dosis atau takarannya sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. “Penggunaan POC seharusnya ditujukan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia,” kata Cecep.
Menurut Suhendro aplikasi POC tidak hanya untuk komoditas padi, tapi juga berbagai komoditas lain, seperti sayuran, buah, ternak, dan perikanan. Itu terbukti ketika Rahmat juga mengaplikasikan pupuk pada tanaman mangga simanalagi di depan rumahnya. “Buahnya menjadi lebih lebat daripada biasanya, selain itu juga rasanya menjadi manis,” kata Rahmat. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Dongkrak Produksi ala Rahmat Gumelar

554_ 41

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d