Suyitno panen padi 16 ton per hektar pada dua kali periode tanam

Suyitno panen padi 16 ton per hektar pada dua kali periode tanam

Suyitno memanen 16 ton gabah dari lahan 1 hektar, benih dan pupuk hayati kuncinya.

Suyitno benar-benar semringah. Bagaimana tidak, puluhan tahun menanam padi, baru kali itu petani padi sejak 1978  itu mendapat hasil panen mencapai 16 ton gabah kering panen (GKP)  per hektar. Spektakuler, karena rata-rata produksi nasional hanya pada kisaran 5—7 ton per hektar. “Sebelumnya paling mentok di 12—13 ton per hektar,” kata petani padi di Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu yang panen fantastis pada musim 2008.

Petani 57 tahun itu sudah dua kali menuai padi hingga 16 ton GKP. Apa rahasianya? Suyitno menggunakan benih padi hibrida varietas sembada B3 dan pupuk organik hayati dalam budidayanya. Sembada B3 merupakan padi hibrida yang dirilis pada 2008 dengan produktivitas rata-rata 9,3 ton per ha dan potensi hasil mencapai 12,4 ton per hektar.

Pupuk hayati

Menurut koordinator penyuluh pertanian lapangan Kecamatan Glagah dan Kecamatan Legok, Dinas Pertanian Banyuwangi, Ibnu Taji, varietas sembada B3 memang masih baru di Kecamatan Glagah dan sekitarnya di Banyuwangi. Para petani pada umumnya menanam padi varietas ciherang dan towuti dengan kisaran produksi 10—12 ton per hektar.

Peneliti padi dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Ir Baehaki Suherlan Effendie, mengatakan produksi tertinggi padi yang pernah diteliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi mencapai 10 ton per hektar. Baehaki mengatakan penggunaan beragam pupuk hayati mampu meningkatkan produktivitas hingga  20%.

Jika potensi sembada B3 mencapai 12,4 ton dan peningkatannya 20%, maka petani yang menerapkan pola budidaya dengan pupuk hayati menuai 14,8 ton per ha. Suyitno memulai proses budidaya dengan mengolah lahan. (lihat ilustrasi)

Baca juga:  Taman Sains Pertanian

Baehaki Suherlan Effendie mengatakan, “Penggunaan pupuk hayati pada budidaya padi bisa memperbaiki struktur tanah dan bisa membantu pengendalian hama wereng,” tutur Baehaki.

Menurut ahli tanah dari Universitas Padjadjaran, Prof Dr Tualar Simarmata, bakteri Trichoderma sp berfungsi memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan agen hayati sebagai imun tanaman.”

Suyitno panen padi 16 ton per hektar pada dua kali periode tanamhayati mencapai  18 ton per hektar

Suyitno panen padi 16 ton per hektar pada dua kali periode tanamhayati mencapai 18 ton per hektar

Longgar

Suyitno kemudian memindahkan bibit padi berumur 18 hari dari persemaian. Bibit itu ia tanam dengan sistem jajar legowo. Jarak tanam 25 cm x 25 cm, untuk legowo 40 cm. “Untuk lahan sehektar butuh benih 25—30 kg,” kata Suyitno. Suyitno memberikan pupuk susulan ketika tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST) dan 25 HST (lihat ilustrasi).

Menurut Prof Tualar Simarmata, azotobacter dan azozpirilium rhizobium berfungsi untuk membantu mengikat nitrogen dari udara, sehingga penggunaan pupuk kimia yang mengandung nitrogen seharusnya bisa dikurangi 10—25%. Sementara aspergillus membantu melarutkan fosfat agar mudah terserap tanaman. “Pupuk hayati sangat bagus untuk tanah dan tanaman padi,” ujarnya. Untuk pengendalian hama dan penyakit, Suyitno menggunakan pestisida. (lihat ilustrasi)

Pada umur 90 HST, Suyitno panen. Dari lahan sehektar menghasilkan 16 ton. Menurut Suyitno yang paling membuatnya terkesima adalah jumlah anakan dan bulirnya yang sangat tinggi. “Anakannya mencapai 42 per rumpun, sementara bulir mencapai 380 per malai,” kata ketua kelompok tani itu. Padahal penanaman padi sebelumnya hanya mentok di 32 anakan dan 200—250 bulir. (Bondan Setyawan)

  • Umur 0 hari berikan 100 kg Urea, 150 kg Phonska.Pupuk organik, 1,5 ton kompos kotoran sapi dan 500 kg pupuk organik berbahan dasar sabut kelapa dan bakteri Trichoderma.
  • Berikan  100 kg Urea dan Phonska. Semprotkan pupuk hayati cair (Azotobacter, Azozpirilium, Rhizobium, Aspergillus bacillus) 3 pekan sekali. Sekali penyemprotan 2 liter/hektar. Pengencerannya 2—5 cc pupuk per liter. Pada umur 25 HST semprotkan insektisida deltamethrin dan fungisida difenokonazol.
  • Umur 40 HST semprotkan pupuk hayati cair yang mengandung mikroba baik seperti Azotobacter, Azozpirilium, Rhizobium, Aspergillus bacillus. Sekali penyemprotan 2 liter per 1 hektar.
  • Umur 60 HST semprotkan pupuk hayati cair yang mengandung mikroba baik seperti Azotobacter, Azozpirilium, Rhizobium, Aspergillus bacillus. Sekali penyemprotan 2 liter per 1 hektar.
  • Umur 80 HST pupuk hayati semprotkan pupuk hayati cair yang mengandung mikroba baik seperti Azotobacter, Azozpirilium, Rhizobium, Aspergillus bacillus. Sekali penyemprotan 2 liter per 1 hektar
Baca juga:  Suara Pengusir Hama

532_110

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d