Produksi melonjak 100% 1
Trubus Juni 2018 Highrest.pdf

Kacang tanah lurik menghasilkan produktivitas hingga 4,7 ton/ ha.

Kacang tanah baru, tahan penyakit layu bakteri, berproduksi tinggi, dan toleran di tanah kering.

Hamparan tanaman kacang tanah yang menghijau itu memuaskan Barno. Namun, pekebun di Desa Depokrejo, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, itu terkejut ketika menemukan tanaman layu. Dari pengalaman sebelumnya, tanaman seperti itu tidak bisa menghasilkan polong. Makin jauh melangkah, ia kian banyak menemukan tanaman layu. Ketua kelompok Tani Makmur 05 itu menduga tanamannya terserang penyakit layu.

Penyakit akibat serangan bakteri Ralstonia solanacearum dapat menggagalkan panen hingga 15— 35%. Sebab bakteri itu dapat menyerang mulai tanaman berumur sepekan hingga panen. Akibatnya pekebun pun rugi. Bayang-bayang penyakit layu menurunkan produktivitas tanaman terpampang di depan mata. “Sebelumnya saya bisa panen sekitar 3 ton per ha. Namun, sekarang akibat penyakit layu itu saya hanya bisa panen maksimal 1,5 ton per ha sekali panen,” ujar Barno.

Toleran

Untuk mengatasi masalah layu bakteri dan kekeringan, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan kacang tanah unggul. Varietas kacang tanah baru itu memiliki karakter yang berbeda dengan kacang tanah lain. Jumlah polong minimal tiga, maksimal lima. Bijinya pun berukuran lebih besar dengan bobot 0,89 g per polong atau 89 g per 100 biji. Kacang tanah lain hanya berbobot polong 0,5 g per biji atau 50 g per 100 biji. Itulah varietas kacang tanah lurik.

Menurut ketua peneliti, Dr. Budi S. Daryono, produktivitas per tanaman tergolong tinggi, kurang lebih 25 polong per tanaman. Lazimnya hanya 15 polong per tanaman. Itulah pilihan baru pekebun kacang tanah Arachis hypogaea yang mendambakan produksi tinggi. Jika rata-rata produktivitas lokal 1,5—3 ton per ha, kacang lurik mencapai 3,7—4,5 ton per ha. Pekebun akan menuai untung 2 kali lipat.

Baca juga:  Panen Tiram Lebih Cepat

Menurut mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Aditya Novianto, kacang varietas baru itu dikembangkan di bawah laboratorium Genetika dan Pemuliaan Fakultas Biologi UGM melalui teknik polipodisasi atau penggandaan kromosom tumbuhan. Dengan cara itu, tanaman yang dihasilkan mempunyai ukuran karakter fenotip baik akar, batang, daun, bunga, buah, serta biji yang umumnya lebih besar daripada tanaman asalnya (induk).

Selain itu, kacang varietas baru itu memiliki ciri unik. Bagian kulit dan polong bijinya mempunyai corak lurik atau bercak-bercak garis ungu kecokelatan. Hasil riset Aditya menunjukkan bahwa kacang lurik tahan penyakit layu bakteri. Aditya dan rekan, Ikhsanudin Nur Rosyidi, membuddayakan tanaman anggota famili Fabaceae itu itu di greenhouse seluas 450 m².

Relatif mudah

Uji multilokasi dilaksanakan di beberapa area tersebar di 3 provinsi, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Para periset menguji kacang baru itu berdasar rancangan acak kelompok berulangan. Caranya, mereka menanam setiap galur berjarak tanam 45 cm x 30 cm. Selanjutnya mereka membuat lubang dengan cara menugal. Tiap lubang terdiri atas satu benih kacang tanah dan pupuk kandang 10 kg.

Pertumbuhan kacang varietas baru itu sangat baik di dalam greenhouse di Desa Depokrejo, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

Pertumbuhan kacang varietas baru itu sangat baik di dalam greenhouse di Desa Depokrejo, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

“Sebetulnya kacang tanah lurik tidak membutuhkan pupuk kandang. Namun, lahan itu bekas ditanami semangka jadi pengolahan lahan awal hanya menggunakan kotoran sapi,” ujar Aditya. Pemeliharaan kacang tanah asal Blitar, Jawa Timur, itu relatif mudah. Penyiraman cukup 4 kali dalam satu periode budidaya atau 75 hari. “Lebih sedikit dibanding varietas lain 6 kali per siklus,” kata Ikhsan. Penyiraman pada periode kritis yaitu pada umur 1—5 hari setelah tanam, 25—35 hari (waktu berbunga), 45—55 hari (saat pembentukan polong), dan 70—80 hari kacang siap panen.

 Aditya Novianto (kanan) dan Ikhdanudin Nur Rosyidi, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang mengembangkan potensial kacang lurik.

Aditya Novianto (kanan) dan Ikhdanudin Nur Rosyidi, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang mengembangkan potensial kacang lurik.

Selain itu lakukan penyiangan untuk mengurangi persaingan tanaman dengan gulma. Frekuensi penyiangan dua kali, yakni pada saat tanaman berumur dua pekan setelah tanam dan 4 pekan (tergantung keadaan gulma). Tanaman panen pada umur 75 hari. Dengan potensi hasil polong kering rata-rata hingga 4,5 ton per hektare, kacang lurik menjadi solusi atasi impor kacang tanah.

Baca juga:  Kedelai Unggul Baru

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi kacang tanah Indonesia pada 2015 mencapai 1 juta ton dari luas panen 794.000 ha. Itu berarti rata-rata produksi nasional 1,3 ton per ha. Yang mengkhawatirkan, luas panen 5 tahun terakhir terus menurun. Pada 2015 Indonesia mengimpor 130.000 ton kacang tanah. Volume impor sebesar itu boleh jadi tidak perlu dilakukan bila petani menanam varietas kacang lurik.

Kacang asal Blitar itu adaptif ditanam di lahan kering dan tahan penyakit layu bakteri seperti yang dialami Barno serta penyakit karat daun. Menurut pemulia kacang tanah di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Prof. Dr. Astanto Kasno, “Di lahan marginal, kacang tanah paling adaptif ditanam dan menguntungkan dibandingkan dengan tanaman pangan lain.” Di Indonesia terdapat 25 juta ha lahan kering yang belum tergarap maksimal.

Bila 0,25% saja dari lahan marginal itu atau setara 62.500 ha ditanami kacang lurik, hasilnya mencapai 281.500 ton. Petani menginginkan kacang tanah produktif. Selain tinggi produksi juga harus unggul dari ketahanan terhadap hama dan penyakit. Kehadiran kacang tanah lurik yang tahan penyakit serta cekaman kekeringan dapat menjadi solusi di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Produktivitas tetap tinggi dan pendapatan pekebun meningkat. Maklum, kacang tanah merupakan palawija kedua setelah kedelai yang banyak dibudidayakan petani. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments