Pelarut organik (kiri) dan produk propolis koleksi DR. Muhammad Yusuf Abduh, M.T.

Pelarut organik (kiri) dan produk propolis koleksi DR. Muhammad Yusuf Abduh, M.T.

“Selama ini salah satu yang menyebabkan biaya propolis mahal adalah proses mengekstrak propolis,” kata peneliti di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Muhammad Yusuf Abduh, M.T. Oleh karena itu, Abduh membuat inovasi lain berupa pelarut organik untuk membuat propolis. Ia memanfaatkan minyak kacang tanah Arachis hypogaea dan minyak biji anggur Vitis vinivera.

Kelebihan pelarut organik adalah tidak perlu pemanasan untuk melarutkan propolis. Untuk mengolah propolis siap konsumsi, peternak tinggal merendam propolis di kasa dengan pelarut selama 5 hari. Kemudian peternak tinggal menyaring dan mengemas propolis. Kelebihan lain dari pelarut organik lebih kaya kandungan antioksidan seperti flavonoid. “Pelarut organik pada dasarnya kaya flavonoid, makin kaya flavonoid berpadu dengan propolis,” kata Abduh.

Hasil uji laboratorium membuktikan bahwa ekstrak propolis menggunakan pelarut alami antioksidan tinggi memiliki kandungan flavonoid 16,11—19,04 g QE/100 ml. Hasil itu lebih tinggi dibandingkan dengan ekstraksi dengan etanol 70%. Berdasarkan penelitian Akhmad Endang Zainal Hasan dari Departemen Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), nilai antioksidan hanya 0,30 g QE/100 ml.

Menurut Abduh proses pengolahan tanpa alkohol menjamin produk propolis itu halal bagi konsumen Muslim. Hingga kini ekstrak propolis dengn pelarut organik sudah diolah dalam berbagai produk seperti pembersih wajah, terapi aromatik, lulur. “Pemasaran masih terbatas di tingkat internal kampus,” kata Abduh. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: madu, propolis

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d