Potret Pasar Sayuran Hidroponik Kini 1
Pasar sayuran hidroponik semakin meningkat.

Pasar sayuran hidroponik semakin meningkat.

Ketekunan membuka pasar kunci sukses berbisnis sayuran hidroponik.

Kabul Pamudji meninggalkan bisnis mesin dan mencurahkan seluruh waktunya untuk berkebun sayuran hidroponik. “Lebih enak jadi petani. Bisnis mesin saya serahkan ke anak buah,” ujar petani sayuran hidroponik sejak 2013 itu. Kini Kabul membudidayakan sayuran hidroponik di 3 tempat di Kota Semarang, Jawa Tengah—masing-masing 150 m2. Dari ketiga lokasi kebun itu Kabul memanen 300—450 tanaman sayuran hidroponik per hari.

Komoditasnya beragam, seperti aneka jenis selada, sawi, dan pakcoy. Uniknya Kabul menjual sayuran itu per tanaman. “Tapi bobotnya saya batasi. Untuk selada maksimal 125 g dan sawi 150—200 per tanaman,” ujar pria 45 tahun itu. Kabul menjual seluruh sayuran hidroponik ke 2 outlet pasar swalayan di Semarang dengan harga sama, yaitu Rp4.000 per tanaman, dengan merek The Farm Hill.

Kabul Pamudji memasok sayuran hidroponik di 5 pasar swalayan di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta.

Kabul Pamudji memasok sayuran hidroponik di 5 pasar swalayan di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta.

Belum terpenuhi
Untuk menghasilkan sebuah tanaman, Kabul mengeluarkan biaya produksi Rp285. “Itu sudah termasuk biaya operasional dengan jumlah karyawan dua orang,” ujarnya. Artinya, Kabul memperoleh laba bersih Rp3.715 per tanaman atau total Rp1,1-juta—Rp1,6-juta per hari. Nun di Balikpapan, Kalimantan Timur, Edi Setiawan, berkebun sayuran hidroponik menjadi sumber pendapatan tambahan selain gaji dari sebuah perusahaan ekspor tempatnya bekerja.

Pria asal Surabaya, Jawa Timur, itu membudidayakan sayuran hidroponik di 4 lokasi dengan luas lahan masing-masing 80 m2. Total populasi mencapai 6.000 lubang tanam. Ia membudidayakan aneka jenis sayuran seperti kailan, pokcoy, sawi-sawian, dan kangkung. Dari populasi itu Edi mampu memasok 300—450 kg sayuran hidroponik per bulan. Ia menjual sayuran ke pasar swalayan di Balikpapan dengan harga Rp20.000 per kg untuk kangkung dan sayuran lain Rp35.000—Rp40.000 per kg.

Pemasok sayuran hidroponik di pasar swalayan semakin banyak.

Pemasok sayuran hidroponik di pasar swalayan semakin banyak.

Jumlah pasokan dari kebun Kabul dan Edi itu belum memenuhi permintaan pasar. “Saya diminta mengisi 11 outlet pasar swalayan,” ujar Kabul. Dari jumlah permintaan itu, Kabul baru sanggup memenuhi pasokan untuk 5 outlet, yaitu 2 outlet di Semarang, 2 outlet di Surakarta dan 1 outlet di Yogyakarta. “Untuk Surakarta dan Yogyakarta pasokan berasal dari komunitas pekebun hidroponik di sana yang saya bina dan mau diajak bekerja sama,” tuturnya.

Permintaan yang diterima Edi saat ini masih fluktuatif. “Pada Agustus—November biasanya permintaan naik,” ujarnya. Namun, meski permintaan naik, jumlah itu baru memenuhi sekitar 20—30% permintaan. Hal serupa juga dialami Venta Agustri, pekebun sayuran hidroponik di Surabaya, Jawa Timur. Pada akhir November sampai Desember permintaan biasanya naik karena pasokan sayuran dari petani kurang.

“Pada kedua bulan itu 2—3 konsumen baru menelepon saya untuk meminta pasokan,” katanya. Namun, ia tak langsung memenuhi permintaan itu karena lebih mengutamakan pelanggannya. “Produk saya juga masih terbatas,” ujarnya. Saat ini Venta memasok 80 kg sayuran hidroponik per hari.

Ir Tatag Hadi Widodo MM, pasar sayuran hidroponik adalah pasar oligopoli.

Ir Tatag Hadi Widodo MM, pasar sayuran hidroponik adalah pasar oligopoli.

Tambah pasokan
Menurut Ir Kunto Herwibowo, pekebun sayuran dan konsultan hidroponik di Pondokcabe, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pengalaman Kabul, Edi, dan Ventra menunjukkan jika permintaan sayuran hidroponik saat ini makin meningkat. Itulah sebabnya berbagai cara ditempuh pekebun untuk memenuhi permintaan. Contohnya seperti dilakukan Kabul.

Baca juga:  Fakta Panasea Si Buruk Rupa

Untuk memenuhi pasokan di luar Kota Semarang, Kabul bekerjasama dengan komunitas di daerah yang dekat lokasi outlet. “Tujuannya agar biaya pengiriman lebih efisien karena jaraknya lebih dekat. Kalau dikirim langsung dari Semarang biaya kirimnya mahal,” ujarnya. Dengan pola kerja sama seperti itu, Kabul berharap para pekebun sayuran hidroponik skala rumahan pun bisa menjadi pemasok.

“Yang penting para mitra mampu memenuhi syarat kualitas yang ditetapkan pasar swalayan, yaitu kondisi sayuran mulus dan berukuran seragam,” ujar Kabul. Bahkan, ada pekebun plasma yang hanya punya 50 lubang tanam. “Dengan skala itu penghasilannya memang tidak seberapa, tapi minimal bisa buat membeli pupuk dan benih untuk musim tanam selanjutnya,” tutur alumnus Politeknik Manufaktur Negeri Bandung itu.

Aktivitas pengemasan di Parung Farm

Aktivitas pengemasan di Parung Farm

Menurut Kunto pola kemitraan yang diterapkan Kabul pertama kali diterapkan di tanahair. “Dengan begitu para pehobi pun bisa memperoleh penghasilan asalkan bergabung dengan komunitas,” ujar Kunto. Sementara Edi berencana menambah jumlah pasokan dengan menambah luas areal tanam hingga dua kali lipat dari luas lahan saat ini. Venta juga berencana membuka 2 kebun masing-masing di belakang Terminal Bungurasih seluas 1.400 m2 dan di Surabaya Timur 1.800 m2. “Keduanya panen perdana tahun ini,” tutur Venta.

Perlu perjuangan
Meski demikian kesuksesan Kabul dan Edi mengembangkan pasar tidak dicapai dengan cara instan. “Perlu perjuangan panjang untuk membuka pasar,” ujar Kabul. Ia perlu 2—3 bulan dari mulai memperkenalkan hingga akhirnya menandatangani kontrak dengan pasar swalayan. “Sebelumnya beberapa pasar swalayan bahkan menolak produk saya,” kata Kabul.

Di pasar swalayan itu Kabul juga mesti menempatkan alat peraga berupa perangkat hidroponik berkapasitas 260 tanaman di area pajang pasar swalayan. Tujuannya agar konsumen mengenal sayuran hidroponik sekaligus menarik perhatian pengunjung. “Biaya untuk membuat perangkat hidroponik untuk pajangan itu Rp3-juta,” katanya. Upaya itu pun belum menjamin penjualan sayuran hidroponik meningkat.

Permintaan sayuran hidroponik di Parung Farm meningkat seiring bertambahnya jumlah outlet yang dilayani.

Permintaan sayuran hidroponik di Parung Farm meningkat seiring bertambahnya jumlah outlet yang dilayani.

Kabul sampai memasang lampu ultraviolet di atas permukaan sayuran hidroponik agar stok tanaman yang tidak laku terjual bisa bertahan hidup. Baru setelah 4 bulan penjualan mulai meningkat. Peningkatan paling tinggi terjadi pada bulan ke-8. “Sejak itu dalam sehari stok selalu habis,” tutur Kabul. Sulitnya membuka pasar juga dialami Suhendra Sunario, pekebun sayuran hidroponik di Denpasar, Bali.

Ia mesti mendatangi satu per satu perusahaan jasa boga dan restoran di seputar Denpasar, Provinsi Bali, untuk memperkenalkan aneka jenis dan keunggulan sayuran dan stroberi hidroponik yang ia produksi dari lahan 2.000 m2. Beragam respons ia terima dari para calon pelanggan. Ada yang langsung membeli, tapi ada juga yang membandingkannya dengan sayuran organik.

Baca juga:  Rival Anyar HIV

Semula Hendra—panggilannya—menduga akan mudah memperkenalkan sayuran hidroponik di Bali. “Konsumen di Bali sebagian besar melayani para turis asing yang sangat peduli dengan makanan sehat,” ujar pria yang mulai memproduksi sayuran hidroponik pada 2013 itu. Menurut Hendra beberapa calon pelanggan masih menganggap sayuran hidroponik adalah sayuran yang sarat bahan kimia.

Harap mafhum, selama ini nutrisi untuk hidroponik memang berupa ramuan dari beberapa senyawa kimia. “Padahal, oksigen yang kita hirup saja sebetulnya juga senyawa kimia, yaitu O2,” ujarnya. Namun, ia tak kenal lelah meyakinkan para konsumen dengan memberi penjelasan yang lengkap tentang keunggulan sayuran hidroponik yang bebas pestisida kimia.

Kebun sayuran hidroponik skala rumahan dapat menjadi pemasok dengan bergabung dalam komunitas.

Kebun sayuran hidroponik skala rumahan dapat menjadi pemasok dengan bergabung dalam komunitas.

Kini upaya itu membuahkan hasil. Omzet dari hasil penjualan sayuran hidroponik terus meningkat. “Saat ini saya sudah mendapatkan banyak pelanggan tetap,” tuturnya. Sayang, Hendra enggan menyebutkan volume penjualan dan jumlah omzet setiap hari.

Permintaan stabil
Menurut Ir Tatag Hadi Widodo MM, produsen sayuran dan konsultan hidroponik di Cibinong, Kabupaten Bogor, dalam teori ekonomi, kondisi pasar sayuran hidroponik saat ini adalah pasar oligopoli. Pada kondisi pasar itu terdapat beberapa penjual untuk satu jenis barang tertentu, dalam hal ini sayuran hidroponik. Akibatnya, para penjual harus bersaing untuk mendapatkan pasar.

Jika kurang kreatif, maka perkembangan pasar pun akan melambat. Hal itu dialami beberapa produsen sayuran hidroponik seperti Parung Farm— produsen sayuran hidroponik di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut Eko Haryanto, manajer pemasaran Parung Farm, perkembangan pasar sayuran hidroponik relatif stabil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Sebetulnya ada peningkatan, tapi jumlahnya tidak terlalu signifikan,” tutur Eko. Muhammad Rizki Maulana, direktur pemasaran Parung Farm, mengatakan penambahan permintaan saat ini karena jumlah outlet yang dilayani bertambah seiring bertambahnya pusat perbelanjaan. Eko menuturkan saat ini Parung Farm melayani sekitar 150 outlet dengan jumlah pasokan 4.000 kemasan per hari. Setiap kemasan berbobot 250 g atau total 1 ton per hari.

Pendapat sama juga disampaikan Jimmy Halim, pemilik Jiri Farm, produsen sayuran hidroponik di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Hingga kini permintaan sayuran hidroponik relatif stabil. Dalam sehari Jimmy menjual 150—200 kg per hari. Itulah sebabnya ia belum menambah luasan areal tanam. Saat ini pria yang juga pengusaha bingkai foto itu memproduksi sayuran hidroponik dari lahan 4.000 m2.

Venta Agustri berencana menambah jumlah kebun di dua lokasi di Surabaya.

Venta Agustri berencana menambah jumlah kebun di dua lokasi di Surabaya.

Lantas, bagiamana peluang bisnis sayuran hidroponik pada masa mendatang? Menurut Tatag Hadi untuk terjun ke bisnis sayuran hidroponik, calon investor atau produsen harus mengubah pola pikir tentang pasar. “Selama ini jika ingin memulai usaha, pasti selalu muncul pertanyaan, pasarnya ke mana?” ujar pria yang juga eksportir tanaman hias itu. Tatag menuturkan, berdasarkan pengalamannya beragribisnis selama 33 tahun, belum pernah terjadi seorang pengusaha agribisnis sukses mendapatkan pasar sebelum memulai produksi.

“Bagaimana bisa menawarkan pasokan sementara produksi saja belum?” katanya. Oleh sebab itu Tatag menyarankan agar jangan ragu memulai produksi. “Namun, saat mulai produksi sejumlah strategi pemasaran harus sudah disiapkan,” kata Tatag. Gunakan hasil panen perdana untuk berpromosi ke konsumen. Pada kondisi pasar oligopoli promosi atau iklan menjadi kunci sukses membuka pasar. Dengan begitu laba dari pertanian nirtanah bukan sekadar impian indah. (Imam Wiguna/Peliput: Bondan Setyawan dan Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *