Potret Pasar Mete

Potret Pasar Mete 1

Harga mete melambung hingga Rp135.000 per kg. Permintaan kacang mete juga melonjak.

Konsumsi olahan memicu bisnis kacang mete.

Konsumsi olahan memicu bisnis kacang mete.

Fitria Handayani hanya mampu mengumpulkan 700 kg gelondong mete dari petani. Padahal, biasanya ia membawa pulang 2—3 ton. Pasokan yang tinggal sepertiga normal itu membuat Fitria kelimpungan. Maklum, setiap bulan ia harus mengirim hingga 10—20 ton mete kepada pelanggan di berbagai kota besar. Ia berupaya menambal kekurangan dengan mendatangkan pasokan dari Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Upaya itu pun tidak menyelesaikan masalah. Pengepul asal Sumbawa dan Kendari mematok harga fantastis, mencapai Rp28.000—Rp30.000 per kg gelondong. Harga beli itu jauh di atas harga normal, yang hanya Rp14.000—Rp17.000. Lazimnya ia menjual mete kupas kering Rp90.000 per kg. Namun, dengan harga di atas Rp25.000 per kg gelondong, Fitria terpaksa menjual mete kupas kering Rp135.000 per kg.

Harga melambung
Sekilogram mete kupas berasal dari 3,5—3,8 kg gelondongan. “Pasar mete kupas menghendaki harga kurang dari Rp100.000 per kg,” kata pemilik UD Sido Dadi itu. Tingginya harga mete pada 2016 merupakan anomali. Pengalaman Fitria, harga melambung tinggi biasanya pada masa libur panjang seperti Idul Fitri, Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Cap Go Meh.

Pembentukan buah bisa gagal kalau curah hujan terlalu tinggi.

Pembentukan buah bisa gagal kalau curah hujan terlalu tinggi.

Namun, setelah Idul Fitri 2016, harga mete tidak turun. Menurut pengepul mete di Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Marino, harga pada Oktober 2016 berkisar Rp110.000—Rp120.000 per kg mete kering siap olah.
Kondisi itu tidak serta-merta membawa berkah bagi pedagang seperti Fitria. Fitria harus membeli mete gelondong dengan harga 2 kali lipat. “Padahal, harga jualnya tidak menjadi 2 kali lipat. Kalau dihitung-hitung jadinya malah rugi,” ujar anak ke-3 dari 4 bersaudara itu.

Baca juga:  Sarjana Hukum Berkebun Sayuran

Harga yang melambung itu membuat banyak calon pembeli mundur. Efeknya penjualan UD Sido Dadi pun berkurang dari 20 ton menjadi tinggal 3—4 ton sebulan. Eksportir mete dan berbagai rempah di Sidoarjo, Jawa Timur, PT Supa Surya Niaga (SSN) mengalami kondisi serupa. Menurut sekretaris SSN, Bella, dalam kondisi normal, perusahaannya mengekspor hingga 50 ton mete dengan kualitas beragam setiap bulan.

Tahun ini angka itu merosot hampir sepertiganya. “Penjualan hanya 35 ton per bulan, itu pun sulit mendapat pasokan. Bukan hanya Fitria dan Bella yang pening lantaran pemasukannya anjlok.

Fitria Handayani, pebisnis kacang mete.

Fitria Handayani, pebisnis kacang mete.

Bagi Mohamad Haikal, petani di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, musim 2016 adalah musim paceklik buah. Maklum, dari 53 pohon jambu mete yang tumbuh di sela pohon kakao dan kopi di lahan 3 ha miliknya, Haikal hanya memperoleh kurang dari 4 kuintal gelondong. Artinya, produksi rata-rata pohon berumur 10—20 tahun itu hanya 7,5 kg. “Padahal biasanya tembus 10 kg per tanaman,” ujar ayah 3 anak itu.

Kemarau basah
Menurut ahli Agroklimatologi Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari, Dr Nini Mila Rahmi SP MP, produksi di berbagai sentra anjlok akibat kemarau 2016 yang dibarengi hujan—lazim disebut kemarau basah. “Pembentukan bakal buah memerlukan cuaca cerah. Hujan merontokkan bunga sebelum sempat menjadi buah,” ungkap doktor alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.

Akibatnya produksi pohon anggota famili Anacardiaceae di seluruh sentra tanahair pun anjlok. Krisis pasokan yang memicu gejolak harga itu menguak satu fakta penting. “Potensi pasar mete luar biasa besar,” kata Nini Mila Rahmi. Menurut Fitria perlambatan pasar akibat harga tinggi hanya terjadi di partai besar dengan jumlah pembelian 1—5 ton. Adapun pasar kelas eceran, dengan jumlah pembelian kurang dari 100 kg terus bergerak.

Sentra jambu mete di Larantuka, Nusa Tenggara Timur pun terganggu kemarau basah.

Sentra jambu mete di Larantuka, Nusa Tenggara Timur pun terganggu kemarau basah.

Musababnya, “Harga jual di tingkat eceran dari dulu sudah tinggi, mencapai Rp75.000 per 500 gram atau Rp50.000 per 250 gram, setara Rp150.000—Rp200.000 per kg,” kata Fitria. Meskipun kapasitasnya tidak masif seperti pedagang besar yang mencapai kisaran ton, pasar kelas eceran cukup membantu pedagang seperti Fitria untuk mempertahankan bisnisnya.

Baca juga:  Ekspo Nasional Ewindo

Dengan demikian ia dapat memberikan penghasilan bagi tenaga kupas harian. Harap maklum, industri mete padat karya. Pedagang besar seperti Fitria mengupah tenaga harian untuk memisahkan buah semu dan mengupas cangkang biji.

Sembari menonton televisi, dalam semalam seorang tenaga lepas mampu mengupas dan membersihkan hingga 80 kg gelondongan menjadi mete basah. Untuk itu tenaga kupas memperoleh upah Rp35.000—Rp40.000 per 20 kg mete basah yang mereka hasilkan. Setelah penjemuran sehari penuh, mete basah itu menjadi mete kering siap jual.

Dr Nini Mila Rahni SP MP ahli agroklimatologi dari Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Dr Nini Mila Rahni SP MP ahli agroklimatologi dari Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Total waktu untuk mengolah buah mete menjadi mete kering hanya 3—4 hari. Sebagian pembeli menghendaki mete goreng siap konsumsi sehingga Fitria juga mempekerjakan tenaga harian untuk menggoreng dan mengemas.

Namun, peluang itu dibayangi berbagai tantangan. Salah satunya adalah pembenahan perlakuan pascapanen. Dalam Statistik Perkebunan Indonesia 2013—2015 Jambu Mete, Direktorat Jenderal Perkebunan menyebutkan nilai ekspor mete Indonesia pada 2013 mencapai US$90,7-juta, setara Rp1,17-triliun dengan kurs US$1=Rp13.000. Dari jumlah itu, lebih dari separuh—US$47-juta—berasal dari ekspor mete gelondong.

Padahal, “Cangkang mete bisa diolah menjadi beragam produk,” kata Nini. Pengolahan sederhana dengan pirolisis (pemanggangan) menghasilkan briket arang dan asap cair. Melalui proses yang lebih rumit, cangkang mete yang selama ini tersia-sia bisa dibuat minyak sebagai bahan minyak rem dan perekat kayu. Dengan demikian, pekebun tidak hanya memperoleh pendapatan dari penjualan mete gelondong, tetapi juga nilai tambah dari limbah. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Marieta Ramadhani dan Muhammad Awaluddin)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x