Butternut squash komoditas baru yang merebut pasar. Petani untung besar.

Butternut squash labu eksotis bercita rasa pulen dan manis.

Butternut squash labu eksotis bercita rasa pulen dan manis.

Buah-buah labu butternut itu menggantung di bawah para-para setinggi 1,80 meter. Hendri Apriyanto mempertahankan 4 buah per tanaman. Di lahan 5.000 m², petani di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, itu membudidayakan 1.250 tanaman. Dengan bobot-rata-rata 1 kg per buah, Hendri menuai 5 ton dalam satu periode tanam atau 4 bulan. Ia menjual sayuran buah eksklusif itu Rp20.000 per kg.

Dalam satu periode tanam, omzet Hendri Rp100-juta. Padahal, dalam setahun ia 3 kali menanam Cucurbita moschata dengan luasan sama. Menurut Hendri biaya produksi di lahan 5.000 m² meliputi sewa lahan, benih, pupuk, pestsisida, dan tenaga kerja mencapai Rp12,5-juta—Rp15-juta. Hendri berpeluang memperbesar laba karena permintaan sangat besar. Pasokannya baru memenuhi 20% permintaan pengepul. Artinya celah kosong yang belum terpenuhi 80%.

Untung tinggi

Hendri Apriyanto, pekebun di Cianjur, Jawa Barat, menanam butternut squash sejak 2015.

Hendri Apriyanto, pekebun di Cianjur, Jawa Barat, menanam butternut squash sejak 2015.

Pekebun di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, Moch Chabibi Ariful HS, juga memperoleh untung dari budidaya butternut. Pundi-pundi Ariful kian menggembung sejak berkebun labu eksotis itu. Ia memanfaatkan lahan 700 m² sebagai lokasi penanaman butternut squash. Di sana ia mengebunkan 350 tanaman. Satu tanaman menghasillkan dua buah dengan bobot masing-masing 500 gram.

Ia sengaja mempertahankan ukuran butternut squash pada kisaran 500 gram sebab pasar lebih mudah menerima. Ariful menuturkan konsumen cenderung lebih menyukai buah berukuran kecil sesuai dengan porsi keluarga. Untuk memasarkan hasil panen, ia bekerja sama dengan Forum Petani Butternut Squash Indonesia (FPBSI). Ia menjual butternut squash Rp30.000 per kg sehingga beromzet Rp10,5-juta per periode tanam.

Tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu juga mendatangkan untung melimpah bagi Afroni Akhmad. Pekebun di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu meraup pendapatan sangat fantastis dalam setahun, yakni Rp1,2-miliar. Ia mendapatkan pendapatan sebanyak itu dari hasil penjualan 40 ton butternut squash dengan harga terendah Rp30.000 per kilogram.

Butternut squash adaptif dibudidayakan di tanahair.

Butternut squash adaptif dibudidayakan di tanahair.

Afroni mengebunkan 10.000 tanaman butternut di lahan 2 hektare. Satu tanaman menghasilkan sekitar 4—5 kg buah. Menurut Afroni biaya produksi per kilogram buah sekitar Rp10.000—di luar biaya sewa lahan. Artinya ia memperoleh laba hingga Rp796,4-juta dari perniagaan butternut squash. Pasar yang terbuka lebar juga membuat Ahmad Mudzakir As Salimy MPdI di Banyuwangi, Jawa Timur, mantap berkebun butternut squash.

Mudzakir sukses mengantongi laba Rp40-juta pada periode tanam kedua. Padahal, panen tak sesuai harapan. Laba itu ia peroleh dari berkebun 1.000 tanaman butternut squash. Saat panen Mudzakir memetik rata-rata 2 kg buah per tanaman atau 2 ton dari seluruh populasi.

Ia mengeluarkan biaya produksi Rp7.000 per kg. Dengan harga jual Rp30.000 per kg, pendapatannya Rp60-juta atau laba sebesar Rp46-juta, belum termasuk biaya sewa lahan. Sejatinya Mudzakir bisa mendapatkan untung dua kali lipat. Namun, frekuensi dan curah hujan yang sangat tinggi membuat banyak bunga rontok. Jika cuaca bersahabat ia optimis bisa panen ingga 4—5 ton.

Baca juga:  Elok Usai Berpadu

Peluang eskpor

Ahmad Mudzakir As Salimy MpdI di Banyuwangi, Jawa Timur, mantap berkebun butternut squash sebab mendatangkan untung berlipat.

Ahmad Mudzakir As Salimy MpdI di Banyuwangi, Jawa Timur, mantap berkebun butternut squash sebab mendatangkan untung berlipat.

Setahun terakhir labu butternut memang naik daun. Masyarakat menggemari labu baru itu karena citarasa lezat dan porsi yang dapat dikonsumsi juga lebih besar dibandingkan dengan labu parang. Pekebun pun beramai-ramai membudidayakan sayuran buah itu untuk menggantikan pasokan dari mancanegara. Sebagian besar pekebun butternut squash bernaung di bawah bendera FPBSI.

Forum yang baru berusia satu tahun itu resmi dan berstatus badan hukum. Ketua FPBSI, Reza Ali Akbar, menuturkan FPBSI mengarahkan pekebun untuk menjalankan penanaman melalui pendekatan pasar. “Dengan begitu pekebun bisa mengetahui daya tampung pasar sehingga hasil panen terserap,” ujar Akbar. FPBSI juga berperan menjaga kestabilan harga dan mencegah ledakan produksi di pasaran sehingga pekebun tetap untung.

Dengan menjadi anggota FPBSI pekebun juga mendapatkan akses benih, pendampingan budidaya, dan kemudahan menjual. Setiap wilayah memiliki koordinator yang siap memberikan penyuluhan budidaya. Tingginya permintaan butternut squash membuat Reza dan tim berencana membuka kebun seluas 5 hektare. Mereka akan menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Antonius Marsudi Nugroho di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membagi pasar menjadi dua yakni gerai swalayan dan industri olahan makanan.

Antonius Marsudi Nugroho di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membagi pasar menjadi dua yakni gerai swalayan dan industri olahan makanan.

Selain menjamah pasar konsumen akhir, butternut squash juga mulai merambah industri olahan seperti makanan balita dan panganan ringan. Pekebun yang membudidayakan pun tersebar di beberapa provinsi di Sumatera, Sulawesi, dan Jawa. Menurut Alex Munandar Putra, pekebun di Pekanbaru, Riau, butternut squash merupakan labu eksklusif yang menjanjikan keuntungan.

Pada 2014 Alex malah sempat mencicip harga hingga Rp60.000 per kg. Musababnya, saat itu jumlah pekebun masih sedikit. Lambat laun harga cenderung turun sebab pekebun baru mulai bermunculan. Kini Alex membanderol butternut squash Rp25.000 per kg. Ia menjual butternut squash ke sejumlah pemasok yang tersebar di Jakarta, Medan, Pekanbaru, Tangerang, dan Batam.

Alex mengandalkan 13.500 batang butternut squash dengan kapasitas produksi 90 ton untuk memenuhi permintaan konsumen dalam setahun. Jumlah itu masih jauh dari kebutuhan pasar. Alex menuturkan kebutuhan satu pemasok rata-rata 3 ton setiap bulan. Di Jakarta, misalnya, terdapat 3 pemasok tetap dengan total permintaan 9 ton per bulan setara 108 ton per tahun.

Sebagian besar pekebun sempat mencecap pengalaman pahit sebelum sukses meraup untung dari berkebun buuternut squash.

Sebagian besar pekebun sempat mencecap pengalaman pahit sebelum sukses meraup untung dari berkebun buuternut squash.

Sementara pemasok yang membeli butternut squash hasil kebun Alex berjumlah belasan. “Masih banyak pasar yang belum tergarap,” kata Alex. Selain pasar swalayan, industri olahan juga mulai melirik butternut squash. Namun, Alex belum menyanggupi tawaran menggiurkan itu. Alasannya kapasitas produksi sangat minim. “Mereka mensyaratkan pasokan produk yang kontinyu sebanyak 6 ton setiap pekan,” ujar Alex.

Baca juga:  Tanam Butternut Tanpa Tanah

Ia juga sedang menjajaki kerja sama ekspor dengan Singapura dan Uni Emirat Arab. Sayangnya, rencana itu belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat sebab kapasitas panen masih sedikit. Antonius Marsudi Nugroho di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga turut merasakan manisnya berkebun butternut squash. Marsudi bahkan memasuki periode tanam kelima.

Marsudi melayani permintaan pasar moderen dan olahan dengan kualitas produk yang berbeda. Pasar moderen menghendaki buah yang mulus dan bebas gores, sedangkan pasar olahan bisa menampung buah berpenampilan kurang menarik. Marsudi semringah sebab sebanyak 80% hasil panen masuk ke pasar moderen.

Adaptif

Dengan mengetahui daya tampung pasar maka ledakan produksi bisa dicegah sehingga pekebun tetap untung.

Dengan mengetahui daya tampung pasar maka ledakan produksi bisa dicegah sehingga pekebun tetap untung.

Pemasok buah di Kota Medan, Sumatera Utara, Erdianto, menuturkan penjualan butternut squash mulai menggeliat sejak 2016. Permintaan paling banyak datang dari konsumen di Jakarta dan Pekanbaru. Volume buah yang diminta hingga 16 ton setiap bulan. Namun, Erdianto hanya mampu memasok 25% alias 4 ton setiap bulan. Untuk di seputaran Medan, kebutuhan buah mencapai 3 ton setiap bulan.

Menurut penyelia sebuah swalayan di Jawa Timur, Yusuf Wahyudi, konsumen yang membeli butternut squash sebagian besar golongan menengah ke atas. “Mereka menggemari citarasa buah yang unggul dibanding dengan labu lain yakni lembut, bahkan bisa dimakan mentah,” ujar Yusuf. Pasar swalayan itu menghendaki buah berkualitas premium, mulus, manis, dan jelas asal benihnya. Volume penjualan mencapai 3,2 ton setiap bulan.

Sebagian besar pekebun membidik kalangan menengah ke atas untuk memasarkan butternut squash.

Sebagian besar pekebun membidik kalangan menengah ke atas untuk memasarkan butternut squash.

Penyelia sebuah pasar swalayan lain di Harapan Indah, Kota Bekasi, Rudi Hartono, menyambut baik kehadiran butternut squash hasil budidaya pekebun lokal. “Dahulu kami masih impor sehingga harga jual sangat tinggi dan konsumen terbatas,” ujar Rudi. Dengan hadirnya produk lokal maka harga jual pun bisa ditekan. Itu sebabnya, Rudi tidak lagi impor sejak setahun belakangan.

Antusiasme konsumen pun tinggi, padahal butternut squash tergolong produk baru. Volume penjualan memang masih sedikit yakni 30 kg setiap bulan. Harga jual butternut squash naik-turun di pasaran menyesuaikan pasokan barang. Rudi menuturkan masih banyak masyarakat yang belum mengenal butternut squash. Konsumen yang baru mengenal butternut squash rata-rata menyukai citarasa daging buah yang enak.

Alex Munandar Putra di Pekanbaru, Riau, kerap belum sanggup memenuhi tawaran ekspor lantaran kapasitas produksi minim.

Alex Munandar Putra di Pekanbaru, Riau, kerap belum sanggup memenuhi tawaran ekspor lantaran kapasitas produksi minim.

Ia yakin pamor butternut squash semakin meningkat bila masyarakat banyak yang mengenal. Begitulah potret bisnis butternut squash di tanahair. Dari segi budidaya butternut squash adaptif dikebunkan di berbagai ketinggian tempat. Penanaman di dataran rendah seperti Jakarta pun memungkinkan.

Menurut dosen Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Ir Pratigya Sunu, M.P, butternut squash seperti labu parang atau labu kuning sehingga dapat dibudidayakan di dataran rendah.” Petani di Bandung, Agus Rhoma, mengatakan, budidaya labu butternut relative mudah. Selain itu sayuran itu juga tahan lama. Oleh karena itu harga jual tinggi kini bakal terkoreksi. Ketika kian banyak petani yang menanam butternut, harga akan turun perlahan. Kapan itu terjadi? Agus sulit memprediksi. (Andari Titisari/Peliput: Ian Purnama Sari dan Syah Angkasa)

Analisis usaha budidaya labu butternut

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d