Fluktuasi harga jeruk tanah air masih terjadi meski pemerintah menutup keran impor.

Harga keprok batu 55 Rp9.000 per kg di tingkat pekebun.

Harga keprok batu 55 Rp9.000 per kg di tingkat pekebun.

Imam memanen buah-buah terakhir keprok batu 55 di kebun seluas 2.000 m2 di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia menanam 200 bibit di lahan itu pada 2007. Imam panen raya keprok batu 55 pada April dan berakhir pada Agustus—September. Ia menjual hasil panen kepada Hermanto, pengepul di Desa Selorejo.

Saat Trubus berkunjung pada medio Agustus 2017, harga jual jeruk di tingkat pekebun Rp9.000 per kg secara borongan. Harga itu lebih rendah bila dibandingkan dengan harga saat mulai panen raya pada April 2017. Saat mulai panen raya harga mencapai Rp12.000 per kg, lalu turun menjadi Rp9.000 mulai Juni 2017. Ia memperkirakan harga pada akhir musim panen (akhir Agustus-September 2017) naik lagi menjadi Rp12.000.Imam memanen buah-buah terakhir keprok batu 55 di kebun seluas 2.000 m2 di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia menanam 200 bibit di lahan itu pada 2007. Imam panen raya keprok batu 55 pada April dan berakhir pada Agustus—September. Ia menjual hasil panen kepada Hermanto, pengepul di Desa Selorejo.

Untung

Hermanto lalu menyortir jeruk dari para pekebun menjadi dua kelas, yaitu super dan bukan super. Buah jeruk yang termasuk kelas super berukuran sekilogram isi 8—10 buah, berkulit jingga dan mulus, serta rasa manis, biasanya mencapai 60% dari total pasokan. Ia menjual jeruk kelas super itu kepada pedagang atau perusahaan pemasok pasar swalayan Rp13.000 per kg.  Adapun jeruk nonsuper berbobot rata-rata sekilogram lebih dari 10 buah. Harga jeruk nonsuper Rp7.000 per kg.

Jika harga jual jeruk di tingkat petani Rp12.000—Rp13.000, pedagang menyortir buah dan memperoleh harga Rp20.000 per kg. Menurut pemilik perusahaan pemasok sayuran dan buah segar di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Ilut Maulud, dengan harga jual Rp9.000 per kg para pekebun masih meraup untung. Para pekebun kembali modal atau mencapai titik impas bila harga jual Rp6.000 per kg.

Baca juga:  Laba New Kristal

Ilut yang merintis usaha dari berjualan eceran itu menuturkan, kalau pekebun menanam jeruk secara intensif seperti memangkas dan menjarangkan buah produksi lebih tinggi. Itulah sebabnya titik impas lebih rendah, yakni R p4.000 per kg. Produksi tinggi mencapai 100—200 kg setiap tanaman per musim. Bagi Imam menanam jeruk menguntungkan. Itulah sebabnya Imam dan warga Desa Selorejo menggantungkan hidup berkebun jeruk. “Petani semangat tanam karena mengerti untung,” kata Ilut.

Berlimpah

Ilut Maulud, harga jeruk batu 55 Rp9.000 per kg di tingkat pekebun masih menguntungkan.

Ilut Maulud, harga jeruk batu 55 Rp9.000 per kg di tingkat pekebun masih menguntungkan.

Kondisi itu berbeda dengan pengalaman pekebun jeruk di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, pada musim panen, yakni pada Juni—Agustus 2017. Ketika musim panen tiba, pekebun kesulitan menjual jeruk. Padahal, para petani menawarkan dengan harga amat murah, yakni Rp4.000 per kg. Sayangnya, dengan harga rendah pun pengepul menolak membeli. Biasanya jeruk asal Karo memasok pasar Jakarta dan Bandung.

Soekam Parwadi dari Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas), sebuah jaringan pasar induk di beberapa kota, menduga anjloknya harga jeruk di Karo akibat masuknya jeruk asal Kintamani, Provinsi Bali. “Biasanya kalau jeruk siem kintamani masuk pasar, harga jeruk di sentra lain jatuh,” kata Soekam. Dugaan lain, di pasar mulai bermunculan buah musiman seperti mangga dan durian.

“Biasanya ketika buah musiman datang, buah yang hampir ada sepanjang tahun seperti jeruk harganya anjlok,” tutur Soekam. Sementara Ilut menduga faktor jenis yang dipasarkan juga berpengaruh. “Siem banyuwangi dan jember juga anjlok, hanya Rp3.000—Rp4.000 per kg,” kata Soekam. Keputusan pemerintah menutup keran impor jeruk ternyata tidak mampu menekan fluktuasi harga jeruk lokal.

Menurut data Pusat Data dan Informasi, Kementerian Pertanian (Pusdatin) volume impor jeruk pada 2015 mencapai 106.140 ton yang menyedot devisa US$140,601 juta. Sementara total produksi jeruk nasional hanya 1,86 juta ton. Idealnya kebijakan itu mendongkrak permintaan jeruk lokal untuk menggantikan pasokan jeruk impor. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2015, jumlah konsumsi jeruk per kapita hanya 3,25 kg per tahun.

Baca juga:  Ranti Musuh Tifus

Jika jumlah penduduk Indonesia mencapai 260 juta, maka kebutuhan jeruk nasional hanya 845.000 ton. Produksi jeruk lokal yang berlebih justru mestinya menjadi peluang ekspor. Namun, kenyataan di lapangan ternyata tak sesuai harapan. Menurut Vendi Tri Suseno dari PT Laris Manis Utama, perusahaan pemasok dan importir buah di Jakarta Utara, selera konsumen di tanahair amat beragam.

Kualitas buah

Vendi Tri Susesno menuturkan, “Konsumen saat ini lebih mementingkan kualitas, bukan hanya harga. Oleh sebab itu, teknologi pascapanen jeruk harus diperbaiki.” Pemasok buah segar di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, juga menyampaikan pendapat serupa. Konsumen saat ini menginginkan jeruk berpenampilan menarik seperti berkulit jingga.

Jeruk di pasar swalayan kini didominasi oleh jeruk lokal.

Jeruk di pasar swalayan kini didominasi oleh jeruk lokal.

Untuk memperoleh jeruk berkulit jingga, pekebun harus memanen buah yang matang pohon. Akibatnya daya tahan buah menjadi singkat sehingga mudah rusak ketika dalam perjalanan atau setelah dipajang di toko buah. Tatang menuturkan, kualitas rasa juga menjadi kendala. “Saat ini banyak jeruk lokal yang rasanya hambar,” ujarnya.

Menurut Soekam fluktuasi harga jeruk terutama terjadi di pasar massal seperti pasar induk. Namun, di pasar kelas atas seperti pasar modern—terlebih jika kualitas buahnya bagus—atau pasar khusus seperti konsumen langsung, fluktuasi harga tidak terlalu terjadi. Contohnya seperti dialami Andy Utama yang mengebunkan 3.000 pohon jeruk frimong di lahan 6 hektare di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Andy membudidayakan frimong secara organik. Dari populasi sebanyak itu, ia memanen 600 kg jeruk frimong setiap pekan. Andy tidak menjual hasil panen ke pasar swalayan  atau toko buah. Ia memasarkan langsung ke konsumen akhir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Harganya fantastis, yakni Rp45.000—Rp50.000 per kg. Meski berharga premium, jeruk frimong produksi Andy tetap laris manis. Dengan nilai tambah berupa produk organik, harga jual pun ajek meski pasokan jeruk nasional berlimpah. (Imam Wiguna/Peliput: Evy Syariefa Firstantinovi, Riefza Vebriansyah, dan Suci Puji Suryani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d