Penananaman jambu madu deli hijau kian meluas. Para petani kewalahan melayani permintaan pasar swalayan.

Buah jambu madu deli hijau masih ditunggu pasar.

Buah jambu madu deli hijau masih ditunggu pasar.

Bayu Ari Sidi terpaksa menolak permintaan sebuah pasar swalayan di Yogyakarta untuk rutin memasok rutin buah jambu madu deli hijau. Pekebun di Jampidan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu menolak permintaan karena buah selalu habis di kebun. Padahal, pasar swalayan itu meminta kiriman rutin 50—100 kg per pekan. Untuk memenuhinya pekebun harus memiliki minimal 1.000 tanaman produktif.

Di lahan Bayu seluas 6.000 m² hanya tumbuh 500 pohon yang kini berumur 3 tahun. Dari total tanaman hasil perbanyakan setek itu Bayu hanya memetik rata-rata 3—5 kg per hari. Jangankan memenuhi permintaan pasar swalayan itu, memenuhi permintaan pengunjung yang datang ke kebun saja belum dapat terpenuhi. Bayu menerima kunjungan rata-rata 5—10 orang pada hari kerja, sedangkan pada akhir pekan, kunjungan mencapai belasan orang.

Kewalahan

Jambu madu deli hijau masih prospek untuk dikebunkan.

Jambu madu deli hijau masih prospek untuk dikebunkan.

Mereka datang karena penasaran untuk mencicipi rasa dari jambu yang berbuah lebat itu. Bayu pun menyiapkan buah untuk icip-icip pengunjung. Mereka dilarang untuk memetik sendiri agar tidak salah petik. Jambu matang berukuran rata-rata 80—120 gram per buah. Bila buah tersedia cukup banyak, para pengunjung boleh membeli untuk dibawa pulang jambu madu deli hijau sebagai buah tangan.

Biasanya mereka juga langsung membeli bibit untuk ditanam di halaman. Namun, karena keterbatasan produksi, banyak pengunjung yang tak kebagian. Bayu mengatakan pengunjung hanya boleh membeli 1—2 kg per orang. Pekebun jambu madu deli hijau sejak 2013 itu menjajakan buah Rp25.000—30.000 per kg. Sejak tanaman berbuah perdana pada awal 2015, Bayu Ari Sidi sudah kebanjiran kunjungan dari berbagai daerah dan instansi.

Mereka tertarik karena jambu madu deli hijau sarat buah, tanpa perangsangan tanaman mampu berproduksi optimal. Pada umur 14 bulan, sebuah tanaman menghasilkan 2 kg. Sosok tanaman seperti itu menarik perhatian pengunjung. Sudah begitu citarasa buah jambu madu deli hijau juga manis, hingga 12,5° briks.

Bayu Ari Sidi, kebunkan jambu madu deli hijau untuk produksi buah

Bayu Ari Sidi, kebunkan jambu madu deli hijau untuk produksi buah

Dari icip-icip buah itulah pengunjung tertarik membeli bibit. Bayu bisa meraup omzet hingga lebih Rp300-juta per 4 bulan hasil penjualan 12.000 pohon. Begitu banyaknya permintaan buah jambu madu deli hijau mendorong Bayu Ari Sidi menambah populasi 1.000 tanaman yang kini berumur 7 bulan. Jika tanpa aral, tanaman itu akan panen perdana pada Desember 2016.

Pekebun lain, Jaya Saputra, menghadapi “persoalan” yang sama. Sebuah pasar swalayan meminta pasokan rutin 50 kg per pekan kepada Jaya Saputra yang mengebunkan 103 yang kemudian ditambah lagi sehingga menjadi 250 tanaman di atas lahan 3.500 m². Pekebun di Wirokerten, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu hanya mampu memetik 5 kg per hari.

Baca juga:  Beras Hitam Pulihkan Stroke

“Produksi buah kami habis di kebun, apalagi harga penawaran mereka hanya Rp20.000 per kg,” ungkap Jaya. Di kebun ayah 3 anak itu menjual buah jambu Rp25.000—Rp30.000 per kg. Itu pun ia tidak perlu repot-repot mengantar ke pembeli. Namun, untuk memenuhi permintaan buah Syzigium samarangense, Jaya menyiapkan 1.000 pohon berbagai umur untuk ditanam di lahan 1 ha.

Tidak terpenuhi

Pembungkusan buah tetap pekerjaan utama untuk menjaga produksi buah.

Pembungkusan buah tetap pekerjaan utama untuk menjaga produksi buah.

Saat ini permintaan bibit datang dari luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. “Permintaan memang bergeser ke luar Pulau Jawa, karena di Jawa pun banyak pemasok bibit,” ujar Syahril M. Sidik, pembibit di Bogor. Bayu Arisidi melepas sekitar 50.000 bibit. Di Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Eko Tri Sulistyo, melepas bibit dengan jumlah sama. Adapun di sentra utama Provinsi Sumatera Utara, Sunardi dan petani binaannya memasarkan 150.000—200.000 bibit ke berbagai wilayah pada 2013—2016.

Pada periode yang sama, Shadikin, penangkar di Stabat, Sumatera Utara, menjual lebih 15.000 bibit. Bahkan bila digabungkan dengan pedagang bibit lain di kotanya, diperkirakan jumlah bibit yang terjual atau ditanam lebih 100.000 pohon. Diperkirakan produksi bibit jambu madu deli hijau di Sumatera dan Jawa mencapai 350.000—500.000 tanaman. Pekebun menanam jambu madu deli hijau berjarak 4 m x 4 m, atau 625 tanaman per hektar.

Artinya produksi bibit para penangkar yang mencapai 500.000 tanaman itu setara dengan luas 800 ha. Bila dirawat dengan baik, tanaman yang kini rata-rata berumur 2 tahun menghasilkan 3 kg per tanaman setiap musim. Total produksi buah diperkirakan mencapai 1.500.000 kg per musim yang membanjiri pasar. Namun, perkiraan itu jauh meleset dari kenyataan. Buah masih jarang dijumpai di jual di toko buah atau pasar swalayan.

Pohon yang dipaksa berbuah kondisi kesehatan menurun.

Pohon yang dipaksa berbuah kondisi kesehatan menurun.

Shadikin yang juga menjalani profesi pengepul mengumpulkan buah dari para pekebun di sentra Sumatera Utara. Ia memperkirakan populasi pohon jambu di Medan dan sekitarnya mencapai puluhan ribu. Namun, tetap saja produksi tidak pernah cukup memenuhi permintaan.

Ia mengumpulkan buah dari beberapa pekebun di Stabat dan sekitarnya. Namun, buah yang bisa dikumpulkan hanya, 150—200 kg per 2 hari. Dalam sepekan ia menjual 500 kg buah ke seorang pedagang buah di Langsa, Aceh. Selain Shadikin, ada 4 pedagang lain yang mengumpulkan buah dari pekebun. Semuanya harus bergerilya dari kebun ke kebun di Langkat untuk mendapatkan buah.

Baca juga:  Seri Walet 222: Liur Emas Tepi Mahakam

Pekebun lain yang menjalin kemitraan adalah Muhammad Rafi di Pekanbaru, Provinsi Riau. Rafi menampung produksi para petani di Pekanbaru 50—100 kg buah per hari. Sementara produksi buah kebunnya terdiri atas 200 tanaman hanya 200—300 kg per bulan atau sekitar 6—10kg per hari. Menurut pakar manajemen, Dr Arief Daryanto, pasar masih mampu menyerap produksi jambu madu deli hijau.

Bahkan bisa bertahan lama. Syaratnya kualitas buah dipertahankan, yakni bercitarasa manis hingga 12,4° briks, renyah, penampilan mulus bebas gerekan serangga atau organisme pengganggu tanaman. Selain itu kuantitas dan kontinuitas juga terjaga. Demikian pula bila ada unsur unik serta diferensiasi produknya. Oleh karena itu standar produksi harus dibuat sehingga parameter kualitas tidak menurun. Saat ini banyak pekebun yang justru kewalahan melayani tingginya permintaan.

Gagal produksi

Shadikin, membuat lubang di wadah agar akar bisa menembus ke tanah.

Shadikin, membuat lubang di wadah agar akar bisa menembus ke tanah.

Beberapa pekebun batal memproduksi buah karena pohon yang siap berbuah dibeli konsumen. Pekebun jambu di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Isto Suwarno semula berencana menanam 625 bibit di lahan 1 ha. Ia menanam bibit di pot berdiameter 60 cm. Namun, para pengunjung kebun itu justru tertarik untuk membeli pohon-pohon itu dengan harga Rp750.000 per pot. Pada kurun 2014—2016 ia Isto telah menjual ratusan pot jambu madu deli hijau.

Timothius Jongky Gunawan di Turi, Yogyakarta, mengalami hal serupa. Ia membesarkan 300 tanaman dalam pot dan mulai berbuah. Namun, banyak pehobi yang justru membeli tanaman itu sehingga Timothius pun batal memproduksi buah. Shadikin menduga, pekebun-pekebun madu deli hijau yang lain kemungkinan gagal memproduksi buah. “Banyak pekebun yang hanya hangat-hangat tahi ayam,” ujarnya.

Maksudnya banyak yang hanya semangat pada awal membuka kebun. Setelah beberapa lama dan menemui kendala, semangat berkebun mereka kendur. Apalagi bila terkait dengan pembiayaan. Mengebunkan jambu madu deli hijau sepintas mudah. Sejatinya banyak hambatan menghadang seperti kedisplinan memupuk agar tanaman berproduksi optimal. Shadikin mengemukakan, setelah tanaman berumur 2 tahun, akar dalam pohon padat dan memenuhi wadah.

Rasa manis dan tekstur renyah disukai konsumen.

Rasa manis dan tekstur renyah disukai konsumen.

Seharusnya pekebun mengganti pot dengan ukuran lebih besar. Namun, banyaknya tanaman yang harus diganti pot membuat pekebun “menyerah” dan tidak mengganti wadah. Media pun menjadi padat sehingga pertumbuhan tanaman tidak optimal.

Menurut manajer divisi pangan segar, buah, dan sayuran pasar Swalayan Berastagi di Medan, Sigit Triatman, jambu madu kerap tersedia di tempat mereka, tetapi tidak kontinu. Kalau pun ada, paling 1–2 hari kemudian hilang lagi selama 2–3 pekan. Padahal, permintaan buah itu cukup tinggi, mencapai 500 kg, tetapi habis dalam 2 – 3 hari karena citarasa buah yang manis legit sesuai selera konsumen. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d