Potret Pasar Buah

Potret Pasar Buah 1
Indonesia memiliki potensi hortikultura yang besar.

Indonesia memiliki potensi hortikultura yang besar.

Potensi hortikultura melimpah belum tergali secara maksimal.

Nilai impor buah dan sayuran (termasuk olahan) Indonesia mencapai Rp17 triliun. Sementara jumlah konsumsi buah dan sayuran (termasuk olahan) Rp187 triliun. Itu artinya peluang bagi pekebun hortikultura di tanah air untuk mengisi ceruk itu masih besar. Belum lagi kebutuhan hortikultura untuk mengisi pasar ekpor. Wawan Darwan, S.P., M.M., di Bogor, Jawa Barat misalnya mampu mengirim pepaya kalifornia 3 ton per pekan ke Malaysia.

Permintaan lebih tinggi, yakni 5 ton per pekan. Selain pepaya kalifornia, Wawan yang juga ketua Forum Komunikasi Sub Terminal Agribisnis (STA) Indonesia itu juga mengirim manggis ke Tiongkok. Wawan menjelaskan, potensi pertanian terutama tanaman pangan dan hortikultura sangat melimpah. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa merupakan pasar potensial. Selain itu pasar ekspor makin terbuka dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean.

Direktur Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas) Indonesia, Soekam Parwadi.

Direktur Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas) Indonesia, Soekam Parwadi.

Modal usaha
Menurut petani buah di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Muhammad Gunung Soetopo, potensi hortikultura Indonesia sangat banyak seperti jambu, buah naga, avokad, sirsak, dan kurma. Untuk meningkatkan nilai jual, pekebun juga dapat mengolah buah bernilai ekonomis tinggi. Contoh Elyas Sembiring di Medan, Sumatera Utara, yang mengolah durian menjadi berbagai olahan seperti pancake durian, es krim, dan durian beku.

Anas Anis di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, membentuk dracaena menjadi tanaman yang dipilin. Keunikan itu mencuri perhatian pasar ekspor. Ia kini mengekspor dracaena ke berbagai belahan dunia, mulai dari Saudi Arabia, Jepang, Timur Tengah, dan Eropa. Menurut Gun Soetopo tanah miskin hara bukan masalah dalam produksi buah. Buktinya, ia mampu menanam buah-buahan di tanah karst dan bebatuan.

“Apa pun jenis tanahnya, baik berupa tanah hitam, tanah kuning, atau berbatu kita ada teknologi untuk memanfaatkan tanah itu,” ujar alumnus Ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor, itu. Bahkan Gun mengembangkan kebun buah naga hingga 17 lokasi, di antaranya di Meulaboh (Aceh), Bintan (Kepulauan Riau), Lampung Selatan, Banten, Bogor, Wonosari (Yogyakarta), hingga Nusakambangan (Jawa Tengah).

Baca juga:  Satu Gutta Seribu Guna

Menurut Gun permasalahan produksi buah di Indonesia di antaranya pendanaan, benih, sumber daya manusia, kualitas buah, dan pengiriman, serta modal atau pendanaan. Kini banyak badan usaha yang membantu pendanaan. Permasalahan lain, sumber benih. Hortikultura memiliki daur hidup 7—10 tahun. “Di luar negeri tren hortikultura berganti setiap 7—10 tahun, di Indonesia tren hortikultura tidak berganti-ganti,” kata Gun.

Peserta pertemuan Kontak Bisnis Hortikultura di Pondok Pesantren Darul Fallah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Peserta pertemuan Kontak Bisnis Hortikultura di Pondok Pesantren Darul Fallah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Oleh sebab itu, benih menjadi masalah krusial dan perlu solusi tepat. Sumber daya manusia di bidang hortikulutura juga terbatas. “Lihat saja ahli hortikultura orangnya itu-itu saja,” ujarnya. Petani di tanah air kebanyakan hanya lulus Sekolah Dasar. Selain berpendidikan minim, kepemilikan lahan juga terbatas. Rata-rata luasan kebun petani hanya 0,3 hektare. “Luasan lahan itu sebetulnya kurang layak. Di luar negeri, kepemilikan lahan petani minimal 2 hektare,” ujarnya.

Standar operasional
Pekebun di tanah air juga belum sepenuhnya menerapkan prosedur operasional standar. Akibatnya kualitas buah rendah. Pekebun sebaiknya memperhatikan kemasan ketika pengangkutan. Direktur Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas) Indonesia, Soekam Parwadi, menceritakan jeruk dari Medan dikirim menggunakan truk tronton besar. Pengemasannya hanya menggunakan keranjang bambu.

Sampai di tujuan 25% buah busuk. Jeruk-jeruk itu lalu dibongkar dan dikemas menggunakan kardus bekas impor. Bagi pekebun penggunaan kardus memang meningkatkan biaya operasional. Namun, di sisi lain kerusakan buah saat pengiriman sangat jauh berkurang sehingga meminimalkan kerugian. Dari sisi pemasaran ada Sub Terminal Agribisnis yang siap membantu.

Menurut Wawan Darwan, jumlah Sub Terminal Agribisnis (STA) Indonesia mencapai 99 unit. Jumlah itu tersebar di beberapa wilayah seperti Sumatera 31 unit, Jawa (26), Kalimantan (12), Sulawesi (10), Bali (13), Nusa Tenggara (5), dan Papua (2). Dari 99 jumlah itu 55% telah bermitra dengan pasar swalayan.

Sabila Farm, kebun buah naga milik Gunung Soetopo di Sleman, Yogyakarta.

Sabila Farm, kebun buah naga milik Gunung Soetopo di Sleman, Yogyakarta.

Menurut Wawan meski potensi Indonesia melimpah, belum termanfaatkan maksimal. Aset sudah ada, tetapi tidak ada yang memanfaatkan sehingga perlu sumber daya manusia. Pengetahuan para gabungan kelompok tani masih minim, sehingga untuk akses pasar, penggunaan teknologi masih rendah. Diskusi para pakar dan pelaku hortikultura berlangsung di pertemuan Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia pada 27—29 Oktober 2017 dengan mengusung tema Menuju Kebangkitan Hortikultura Indonesia.

Baca juga:  Kian Padat, Laba Berlipat

Menurut Ketua Kontak Bisnis Hortikultura, Ilut Maulud, visi yang diusung organisasinya adalah membangun jaringan bisnis untuk mewujudkan hortikultura Indonesia yang berkualitas. “Program jangka pendek yang akan dilakukan salah satunya membangun kebun seluas 150 hektare di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,” ujar Ilut. Selain itu juga mengikuti berbagai pameran dan penjualan bersama di Paskomnas Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, dan Banten.

Selain berdiskusi, peserta juga berkesempatan mengunjungi kebun yang dikelola Darul Fallah. Panitia sengaja memilih lokasi di pesantren pertanian Darul Fallah, di Bogor, Jawa Barat, itu salah satu pesantren mandiri di Indonesia. Darul Fallah memiliki memiliki unit usaha pembibitan kultur jaringan sejak 1998. Bahkan kini berbentuk Perseroan Terbatas dengan nama PT DaFa Teknoagro Mandiri.

Kapasitas produksi mencapai 500.000 bibit per bulan. Bibit yang diproduksi di antaranya kentang, pisang, krisan, anggrek, jati kencana, dan vanili. Itu salah satu bukti betap abesarnya potensi hortikultura. Dalam diskusi itu Gun Soetopo mengatakan, lantaran banyaknya potensi bangsa, “Petani Indonesia wajib makmur,” ujar Soetopo. (Desi Sayyidati Rahimah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x