Perhelatan Lomba Buah Unggul Nusantara upaya mendorong kemajuan industri buah dalam negeri.

Hadinata Harlen, pasarkan jambu madu deli hijau ke berbagai daerah di Indonesia.

Hadinata Harlen, pasarkan jambu madu deli hijau ke berbagai daerah di Indonesia.

Hadinata Harlen mengirim 31 dus jambu air madu deli hijau ke Surabaya, Provinsi Jawa Timur, pada November 2016. Bobot setiap dus 35 kg atau total 780 kg. Itu pesanan keempat. “Permintaannya makin menggila akhir-akhir ini. Awalnya hanya minta 2 kotak, sekarang sudah 31 kotak atau 780kg,” kata Harlen, pedagang buah di Stabat, Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Bagi Harlen, Surabaya pasar jambu air terbaru. Sebelumnya ia rutin mengirim ke Pekanbaru, Provinsi Riau, Palembang (Sumatera Selatan), dan Batam (Kepulauan Riau). Harlem rutin mengirim masing-masing 700 kg ke Pekanbaru dan Palembang setiap hari. Adapun kiriman ke Batam setiap dua hari dengan volume 4 kotak atau rata-rata 100 kg. Menurut ayah 1 anak itu setiap hari rata-rata ia mengirim 1,5 ton jambu air deli hijau.

Buah lokal rintis menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Buah lokal rintis menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Jalin kemitraan
Untuk memenuhi permintaan itu, Harlen bekerja sama dengan 20 pekebun yang menanam 8.000 pohon jambu air. Meski demikian, kapasitas produksi mereka belum memenuhi semua permintaan. Mitranya hanya sanggup memasok 60—65%. Oleh karena itu ia mengambil jambu madu deli dari petani di luar binaan dengan mempertimbangkan kualitas buah. Harlen berharap mereka ikut dalam kemitraannya agar kualitas tetap terjaga.

Hadinata Harlen membeli buah dari pekebun Rp25.000 per kg. Kepada rekanan, ia menjual buah sesuai biaya pengangkutan, pengemasan, dan keuntungan Rp5.000 per kg. Harga jual di Palembang dan Pekanbaru Rp40.000, Batam Rp50.000, dan Surabaya Rp60.000—Rp70.000 per kg. Meski harga cukup tinggi, konsumen tetap membeli karena buah berkualitas tinggi.

Buah jambu madu deli hijau itu salah satu pemenang pada Lomba Buah Unggul Nusantara 2016 (baca: “Kisah Para Buah Kampiun” halaman 64—67). Majalah Trubus menyelenggarakan kontes buah nasional secara rutin untuk menemukan buah-buah unggulan. Jambu madu deli hijau yang menjadi kampiun di kelas jambu air terbukti unggul dengan kian banyaknya permintaan.

Tanaman anggota famili Myrtaceae itu sejatinya relatif baru berkembang di masyarakat. Seorang pekebun di Stabat mengembangkan jambu madu deli hijau sejak belasan tahun silam. Namun, usaha perkebunan itu tertutup sehingga masyarakat di luar kawasan itu tidak mengetahui sehingga tidak berkembang. Sejak 5—6 tahun terakhir, penangkar bibit di Binjai, Sumatera Utara, Sunardi, mengekspose jambu madu deli hijau.

Gianto Wijaya, rintis perkebunan buah untuk menahan serbuan buah impor.

Gianto Wijaya, rintis perkebunan buah untuk menahan serbuan buah impor.

Sunardi pemilik buah jambu madu deli hijau yang menjadi juara Lomba Buah Unggul Nusantara 2016. Ia berkerja sama dengan pemerintah setempat menjadikan jambu madu sebagai usaha pertanian perkotaan. Jambu air super manis itu pun berkembang cepat ke seantero nasional. Sayangnya, meski umur berbuah genjah, produksi buahnya belum masuk ke jaringan swalayan secara besar-besaran.

Baca juga:  Generasi Hipokrates Makan Ubi

Buah langka
Gianto Wijaya rutin mengekspor buah mangga dan kesemek. Menurut pemilik usaha WW Fruit di Surabaya itu permintaan kesemek sangat tinggi, hingga 1.000 ton per tahun. Ia hanya mampu menyediakan 100 ton per tahun. Kendalanya produksi buah kerabat persik itu semakin sedikit. “Tidak ada penanaman bibit baru. Padahal buah kesemek cukup laku diekpor ke Singapura,” kata Gianto.

Ia mendapatkan buah itu di sekitar Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pasar Singapura meminta kesemek berbobot sekitar 150 gram atau sekilogram terdiri atas 5-6 buah dan kulit buah mulus. Setelah mengumpulkan buah Diospyros kaki dari berbagai daerah, ia memroses untuk menghilangkan tanin penyebab rasa sepat. Selain kesemek, Gianto pun berpengalaman mengekspor mangga selama 26 tahun.

Srikaya rofi, jenis baru berharga tinggi.

Srikaya rofi, jenis baru berharga tinggi.

Menurut Gianto tahun ini cuaca yang tidak stabil sehingga produksi mangga rusak. Ia hanya 10 kali mengeskpor; biasanya lebih dari 50 kali. Cuaca tak stabil juga memicu kualitas rendah. Biasanya ia memperoleh 60% kualitas A dari pekebun. Tahun ini, hanya 20% yang masuk standar itu. Dampaknya ia menjual dengan harga lebih rendah. Ayah 3 anak itu mengekspornya ke Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Hongkong.

Untuk memenuhi kebutuhan buah mangga, ia membuka kebun pribadi seluas 25 ha yang tersebar di Gresik, Pasuruan, dan Madiun—semua di Provinsi Jawa Timur. Namun, produksinya sangat tidak mencukupi sehingga ia membuka kemitraan dengan petani. Untuk itu ia menyediakan bibit, pupuk, dan pestisida. Setelah panen, ia memotong biaya produksi itu sebelum menyerahkan hasil penjualan buah.

Jambu madu deli hijau, mudah dikembangkan masyarakat.

Jambu madu deli hijau, mudah dikembangkan masyarakat.

WW Fruit membeli buah dengan harga minimal Rp20.000 per kg. Petani bisa mendapatkan harga tinggi karena menerapkan standar budidaya untuk menghasilkan buah kualitas, yakni buah matang pohon, bersih, serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Sebuah pohon menghasilkan hingga 100 kg. Bila harga Rp20.000 per kg, maka petani memperoleh Rp2-juta hanya dari sebuah pohon.

Padahal, ada mitranya yang memiliki hingga 4.000 pohon. “Rata-rata mitra kami hidupnya makmur, mempunyai mobil, dan rumah bagus,” kata Gianto. Selama ini ia mendapat buah pada Juni—Februari. Gianto memperoleh buah dari berbagai petani di Pemalang dan Tegal, Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Hasilnya, 40% untuk pasar ekspor dan 60% mengisi pasar lokal. Pada Maret—Mei ia berhenti menjual manga dan menggarap kesemek.

Kualitas beragam

Avokad permintaan besar tapi belum diusahakan skala komersial.

Avokad permintaan besar tapi belum diusahakan skala komersial.

Pada dasarnya, buah apa pun yang diusahakan masyarakat akan terjual. Syaratnya kualitas buah harus baik. Harga lazimnya mengikuti kualitas buah. Masalahnya sebagian masyarakat abai terhadap pemeliharaan tanaman buah. Kepala Sub Pengembangan Varietas, Direktorat Jenderal Hortikultura, Ir Elnizar Zainal MSi, mengatakan bahwa petani kerap kali menunda pemupukan tanaman karena dananya untuk keperluan lain.

Baca juga:  Musuh Anyar Asam Urat

“Atau buah belum matang, petani sudah memetik karena tergiur harga tinggi. Petani mengemukakan alasan lain saat pascapanen. Begini saja laku kok,” kata Elnizar menirukan ucapan petani buah. Beragamnya kualitas buah produksi petani tampak di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Sejumlah kios buah menjajakan avokad, buah naga, jambu biji, mangga, melon, dan pisang dengan keragaman kualitas.

Buah naga, mulai digemari tetapi mulai menemui kendala penyakit dan.

Buah naga, mulai digemari tetapi mulai menemui kendala penyakit dan.

Pedagang buah di Pasar Induk Kramatjati, Achmad Kadil, memperoleh melon dari berbagai daerah seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Menurut Kadil sepanjang tahun buah anggota Cucurbitaceae selalu tersedia. Ia mengatakan, cuaca sangat mempengaruhi kualitas buah. Ia menjajakan melon dengan tiga kategori, yakni action Rp9.500—Rp10.000, daging jingga Rp10.000—Rp11.000, dan golden melon Rp13.500—Rp15.000 per kg.

Anggaran kecil

Perniagaan di pasar swalayan pun tak kalah menggiurkan. Pemilik pasar swalayan Sabar Subur, Handry Chuhairi, mengatakan konsumen menggemari buah apa pun yang ditawarkan. Menurut Handry secara umum konsumennya membeli buah dengan pertimbangan kualitas, harga, dan rasa. Ia mencontohkan saat buah jeruk impor dari Tiongkok tidak masuk, harga jeruk medan justru naik, semula Rp14.900 menjadi Rp19.900 per kg.

Pisang buah paling memasyarakat.

Pisang buah paling memasyarakat.

Handry mengatakan, masyarakat mulai menggemari buah naga karena harga terjangkau, Rp13.900 per kg. Waktu harga buah naga Rp34.900 per kg, penjualan buah naga di 4 gerai pasar swalayannya tidak jalan. Apalagi kini buah naga tak lagi mendapat saingan dari Tiongkok. Handry menuturkan, buah lokal sangat laku bila diselengarakan pesta buah.

Kini Gianto sedang mengembangkan kawasan buah unggulan sesuai amanat presiden. Ia membangun kawasan unggulan di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mengajak 76 petani untuk mengembangkan lengkeng new kristal di lahan 26 ha berpopulasi 6.000 pohon. Para petani mendapat pelatihan budidaya, bibit, pupuk, dan pestisida.

Untuk mengatasi masalah air, ia membangun embung, dan tandon-tandon kecil untuk memudahkan pengairan ke lahan. Dari tandon-tandon itu, air mengalir lewat pipa-pipa kecil menuju tanaman. Selain membantu teknik budidaya, Gianto akan membantu memasarkan hasil panen. Harap mafhum nilai impor buah sangat besar. Impor lengkeng pada 2015 saja mencapai Rp1 triliun.

Pascapanen tidak boleh diabaikan bila ingin mendapatkan harga pantas.

Pascapanen tidak boleh diabaikan bila ingin mendapatkan harga pantas.

Ada 5 buah dengan volume impor paling besar, yaitu jeruk, apel, durian, lengkeng, dan anggur. Apel dan anggur memang sulit diproduksi di tanahair karena masalah agroklimat. Saat ini pun sektor hortikultura menjadi anak tiri. Pemerintah memprioritaskan tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai. Sudah anggaran sektor hortikultura kecil, itu pun dialokasikan untuk pengembangan bawang dan cabai. (Syah Angkasa/Peliput: Selma Fajriati, Risty Mirsawati, dan Rachmania Putri)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d