Perwira polisi memelihara 240 jenis tin. Hobi yang mendatangkan laba besar.

Yusuh Mattais, perwira menengah berkebun tin.

Yusuh Mattais, perwira menengah berkebun tin.

Kebun tin di samping rumah bergaya mediteranian di Kota Warisan, Sepang, Malaysia, itu terlihat asri. Halamannya jembar seluas 1.800 m² tampak hijau oleh ratusan jenis tin yang tumbuh di antara hamparan rumput manila Zoysia matrella. Pemilik kebun itu, Yusuh Mattais, mengoleksi 240 varietas tin dari berbagai belahan dunia. Ia menanam buah purba itu secara teratur dan “berpasang-pasangan”.

Ada 10 barisan tanaman masing-masing sepanjang 20 m mengisi halaman itu. Lajur hijau rumput manila memisahkan setiap baris tanaman. Buah-buah tin sebesar ibujari hingga bola pingpong menyembul di batang dan cabang menambah menariknya kebun koleksi itu.

Bibit dan buah
Yusuh membudidayakan tin tanpa greenhouse untuk melindungi koleksinya sebagaimana kebun produksi lain di Malaysia. “Saya ingin menunjukkan bahwa tin pun bisa diusahakan di tempat terbuka,” kata polisi berpangkat dua melati emas itu. Menurut Yusuh biaya pembuatan greenhouse 75—80 ringgit per m² setara Rp300.000 per m². Dengan luas 1.800 m², Yusuh memerlukan biaya pembuatan rumah tanam Rp540-juta.

Tin alias ara yang tumbuh tanpa naungan mengalami serangan penyakit pada musim hujan. Pada musim kemarau, pertumbuhannya justru lebih baik daripada tanaman di dalam greenhouse. Oleh karena itu pada musim hujan Yusuh mengutamakan produksi bibit cangkok, sedangkan pada musim kemarau memproduksi 3—5 kg buah per hari. Menurut Yusuh produksi buah terjual di tempat. Pengunjung memetik sendiri buah tin.

Buah harus dibungkus untuk menghindari serangan lalat buah dan burung.

Buah harus dibungkus untuk menghindari serangan lalat buah dan burung.

Pria kelahiran Perak, Malaysia, 55 tahun silam itu menjual aneka varietas buah tin 100 ringgit setara Rp400.000 per kg. Omzet Yusuh 300—500 ringgit setara Rp300.000—Rp500.000 per hari. Namun, pada musim hujan Yusuh berhenti menjual buah. Selain jumlahnya sedikit, kualitas buah juga rendah, yakni terbelah, berbintik-bintik, dan rasa kurang manis. Saat musim hujan ayah 10 anak itu menjual hingga 300 cangkokan.

Baca juga:  Perisai Cegah Bulai

Harga cangkokan bervariasi tergantung tingkat kelangkaan varietas, berkisar 50—600 ringgit. Konsumen bibit titin dari Malaysia dan Indonesia. Tidak heran bila pendapatan Yusuh dari usaha tin lebih tinggi daripada gaji sebagai polisi kerajaan. Menurut pehobi tin di Bandung, Jawa Barat, Azqia Sakti, konsep berkebun perwira itu urban garden. “Lokasi kebun di pekarangan, memudahkan kontrol. Perawatannya juga tidak seribet kebun. Itulah ciri urban garden,”kata Sakti.

Sepanjang waktu

Untuk memperoleh omzet besar, Yusuh Mattais bekerja ekstrakeras tanpa pernah mengabaikan tugasnya sebagai polisi. Oleh karena itu ia mengurus tin hingga larut malam. Pada hari libur pun ia memanfaatkan waktu untuk berkebun. Hanya satu hari ia sisakan waktu untuk keluarga. Yusuh acap kali mencangkok hingga tengah malam.

Bahkan beberapa kali hingga pukul 03.00. Itu kerap terjadi bila pada hari sebelumnya, ia berhenti mencangkok. Ia memang membuat target harian, membuat 10 cangkokan setiap hari. “Bila satu hari tidak mencangkok, maka esok hari saya harus membuat 20 cangkokan,” ungkap polisi perwira menengah itu.

Berkebun di samping rumah hobi Yusuh Mattais tersalurkan.

Berkebun di samping rumah hobi Yusuh Mattais tersalurkan.

Pada musim kemarau, sejak pukul 06.00 ia mengaktifkan pompa air untuk menyiram tanaman. Air pun mengalir melalui drip irigasi yang pipanya terpasang di sela-sela tanaman. Selama 15 menit, air membasahi media tanam. Ia memeriksa kesehatan ke-240 pohon tin. Bila menemukan buah matang, ia memetik dan memakannya. Setiap hari ia mengonsumsi sepuluh buah tin sebagai pengganti sarapan nasi.

Pada pukul 07.00 ia pun bergegas ke kantor. Bila tidak sempat menyantap tin di kebun, ia membawanya dan mengonsumsi buah purba itu di kendaraan. Perwira ahli forensik itu juga rajin mengunggah foto buah tin di media sosial untuk memasarkan. Peminat buah atau bibit datang menjemput pesanannya pada malam hari di rumah Yusuh Mattais di Sepang, Selangor, Malaysia. Pada jam makan siang, ia ke kantor pos untuk mengirim pesanan konsumen.

Baca juga:  Tabulampot Lebatkan Jeruk ala Italia

Sepulang kantor pun, Yusuh langsung ke kebun untuk membungkus buah-buah demi mencegah serangan lalat buah dan burung. Setelah rampung, ia beristirahat sejenak di rumah dan kembali ke kebun pada pukul 20.00. Dengan lampu, ia mencangkok cabang yang selesai berbuah. Untuk menjaga tanaman tetap sehat, setiap pekan ia memupuk tanaman.

Rutin memupuk
Pemupukan setiap akhir pekan. Ia mengombinasikan pupuk vegetatif dan generatif. Sementara pemberian kapur pertanian dan kalsium sekali sebulan. Dengan kombinasi kedua pupuk, buah muncul susul-menyusul. Yusuh Mattais baru mengenal tin pada 2015 setelah mencicip kelezatan buah segar, kering, dan menyeruput seduhan daun tin. Ia lantas mencoba menanam di halaman rumah. Yusuh lantas membeli pohon besar untuk belajar mencangkok dan membuat bibit dari setek.

Pot udara memacu pertumbuhan tin.

Pot udara memacu pertumbuhan tin.

Sukses membibitkan menyebabkan ia getol membeli varietas lain dan mengoleksinya. Kini ia mengoleksi minimal 240 varietas. Semula ia menanam itu dalam pot plastik. Namun, karena tempatnya terbuka, pohon-pohon kerap roboh. Pada musim hujan, air sering menggenang di pot sehingga ia harus keluar berhujan-hujan untuk membuangnya. Ia menggunakan media campuran tanah bakar, kompos, dan sekam padi dengan perbandingan seimbang.

Oleh karena itulah ia mengganti wadah tanamnya dengan air pot, yaitu pot plastik bongkar-pasang. Wadah itu memiliki lubang yang sangat banyak sehingga kelebihan air langsung terbuang. Selain itu, di dasarnya banyak lubang sehingga akar mudah menembusnya keluar dan masuk ke tanah. Saat angin bertiup kencang, tanaman tetap tegak. Penggantian wadah 100 pot itu dilakukan seorang diri yang menghabiskan waktu lebih 2 pekan.

Setelah itu semua koleksi baru menggunakan wadah itu. Tidak semua kegiatan berkebun Yusuh berjalan lancar. Sebanyak 27 pohon mati setelah berbuah. Ia belum mengetahui penyebabnya. Namun, kini ia menikmati keuntungan dari bercocok tanam tin. Hobi bertanam tersalurkan dan Yusuh pun meraup omzet besar. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d