Eka Budianta*

Eka Budianta*

Setiap tanggal 5 November, warga Indonesia dimohon sadar. Negeri Anda sangat kaya. Bahkan disebut megabiodiversitas.  Mari merayakan Hari Keanekaragaman Hayati.  Beribu-ribu macam burung, ikan, bunga, pohon, serangga, reptil, berkembang di hutan dan lautan kita. Jadi, mustahil bangsa ini hidup dalam kemiskinan. “Kalau sampai susah hidup, itu tanda tidak membuka hati dan pikirannya,” kata sahabat kental saya.

Pukul 05.00 kami jalan-jalan.  Dia baru pulang dari Taichung, Taiwan. “Semua plasma nutfah kita disimpan dan dikagumi di luar negeri. Aneh sekali kalau kita tidak mampu membuat wisata flora dan fauna seperti mereka.” Sahabat saya sedih. Ia merasa jadi bagian bangsa yang tidak mengenali, apa lagi menghargai kekayaan alamnya sendiri. Jadi bagaimana supaya kita kenal dan bahagia?

Mudah sekali.  Misalnya ambil saja kopi. Ada kopi aceh, kopi bali, kopi flores, kopi toraja, kopi papua – sebanyak 17.000 nama pulau kita. Betul. Semut pun ada beragam jenis. Mulai dari semut merah yang sengatannya mematikan, sampai semut penghasil kroto, dan semut yang bisa dimakan. Kalau semua dipelajari, kalau semua diperhatikan dan dicintai, mana mungkin bangsa Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.

Belimbing darah Baccaurea reticulata salah satu kekayaan plasma nuftah.

Belimbing darah Baccaurea reticulata salah satu kekayaan plasma nuftah.

Perlindungan
Di laut ada bermacam keong, kerang, ikan, dan udang yang membuat pencintanya kaya-raya, sehat walafiat, dan bahagia. Pagi-pagi begini, saya ingat sahabat kental saya mengajak berjalan di Cibodas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.  Dikumpulkannya bunga-bunga liar yang belum dikenal.  Dari tepi jalan, di pinggir selokan, di bawah pohon, dan di sela-sela batuan ternyata banyak harta karun yang tidak terperikan.

Itulah berkah dari megadiversitas kita.  Kalau satu varian tumbuhan dikembangkan, dibudidayakan, seluruh dunia akan merasakan dampaknya. Maka, dari satu tangkai menjadi satu rumpun.  Dari satu rumpun menjadi satu kebun yang indah permai, untuk menghias taman-taman kota. Masyarakat pun menjadi sehat karena kualitas udara meningkat. Pemandangan membaik, cadangan air cukup dan ketenteraman terbentuk.

Baca juga:  Benedictus Bobby Chrisenta: Kefir Dahulu Domba Kemudian

Kekayaan menjadi berlipat ganda bila setiap warga memilih, melindungi, dan membudidayakan tanaman kesayangannya. Satu contoh yang perlu perhatian mendesak adalah Pulau Sempu. Letaknya 70 km di selatan Kota Malang, Jawa Timur.  Meski luasnya hanya 877 hektare, pulau itu memiliki danau biru yang unik dan vegetasi langka.  Setiap tahun lebih dari 30.000 wisatawan datang ke sana.

Akibatnya beberapa spesies terancam karena lingkungan terganggu dan kerusakan tidak terhindarkan.  Padahal, sudah lama pulau kecil itu dinyatakan sebagai bank plasma nutfah, perlindungan bagi keaneka-ragaman hayati. Sebenarnya siapa yang dapat melindungi flora dan fauna Indonesia? Tentu peranan pemerintah sangat penting.  Namun, lebih efektif bila mendapat dukungan pribadi atau swasta.

Hutan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati.

Hutan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati.

Di Taiwan, ada Dr. Cecilia Koo Botanic Conservation. Luasnya sekitar 20 hektare, dilengkapi belasan rumah kaca. Cita-citanya akan menjadi pusat koleksi plasma nutfah terbesar pada 2027 yang menampung 40,000 spesies tumbuhan tropis. Di Indonesia, ada Kebun Raya Bogor dan Komisi Nasional Plasma Nutfah. Yang masih ditunggu adalah gerakan bangsa ini dalam ikut melindungi, memanfaatkan dan menikmati kekayaan megabiodiversitas itu.

Sepuluh tahun yang silam Karen Tambayong mengumpulkan 1.000 spesies tanaman hias.  Ia juga mencetak brosur untuk mengenalkan nama-nama tanaman itu dengan fotonya. Sayang bila kegiatan pribadi semacam itu terhenti, bahkan rusak akibat bencana banjir menerjang kebunnya. Tahun lalu, Deniek G. Sukarya memotret dan menerbitkan buku 3.500 tananam tropis.

Namun, menulis dalam dalam bahasa Inggris. Sebab, pasar luar negeri ketimbang anak-anak bangsa sendiri. Rupanya, diperlukan terobosan untuk mengobarkan cinta bangsa ini kepada kekayaan alamnya.  Bukan saja pada tumbuhan, tapi juga pada fauna, bebatuan, dan aneka ragam budaya yang lahir dari keaneka-ragaman itu.

Baca juga:  Merdeka!

Komunitas praktis  
Satu fenomena yang menggembirakan adalah lahirnya komunitas penyayang satwa atau flora tertentu. Industri anjing, misalnya, telah memunculkan banyak sekolah, penitipan, bahkan kolam-renang khusus untuk anjing. Kita bisa menemukan kurus-kursus latihan anjing dengan uang bulanan berkisar antara Rp1,5 juta –Rp2,5 juta. Dalam setiap komunitas itu, kita melihat varietas mendapat perhatian khusus.

Buah kelili Lepisanthes alata.

Buah kelili Lepisanthes alata.

Setiap warga mulai sadar pentingnya varietas.  Ada diskon khusus untuk anjing shih tzu yang berenang di hari tertentu, misalnya. Di banyak tempat juga bermunculan arena lomba burung berkicau, berikut penangkarannya. Ada penangkaran murai batu, burung merpati hias, dan seterusnya. Demikian juga pehobi ular yang sejak awal mengedepankan aneka-ragam jenisnya.

Komunitas praktis yang mencintai keragaman hayati sesuai dengan minatnya sudah jelas melihat manfaat dan merasakan keuntungannya.  Peminat musang pun, memilih dan memperhatikan ras masing-masing peliharaannya. Di Telaga Cihuni, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, satu kelompok pencinta capung–keluarga Odonata—juga mendapatkan temuan menarik.  Mereka berhasil mengamati dan memotret 46 spesies capung.  Serangga itu indikator lingkungan yang sehat.

Di Bali ada lomba mengamati dan mengenali bermacam kutu air.  Para pencinta lingkungan menunjukkan pentingnya keaneka-ragaman hayati itu.  Kita jadi tahu, berapa macam ikan yang masih hidup di sungai bila airnya sangat tercemar. Yang belum tahu, perlu kita ketuk hatinya melalui berbagai program.  Di antaranya ada contoh dari Presiden Joko Widodo yang suka bertanya, sebutkan lima jenis ikan, sepuluh jenis buah, dan seterusnya.

Sepintas semuanya sederhana.  Namun, bila dilakukan secara konsisten dan diperdalam, bangsa yang besar ini akan menjadi lebih sehat, lebih kaya, dan lebih bijaksana. Itulah pentingnya melek atau sadar pada kekayaan plasma nutfah di bumi Indonesia. ***


*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktifis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d