Kantong tanam produksi Wanghort berkualitas ekspor dan mengisi pasar di berbagai negara.

Kantong tanam produksi Wanghort berkualitas ekspor dan mengisi pasar di berbagai negara.

Muji Lestari, S.E., M.M.

Kantong tanam buatan Muji Lestari pertama di tanah air, berjaya di pasar dunia.

Sultan Dubai memesan kantong tanam berbahan kain plastik. Namun, ukurannya tidak lazim, diameter 3 meter dan tinggi 1,5 meter. Sudah begitu produk itu harus sudah jadi hanya dalam sehari semalam. “Seperti sedang menjalani peran sebagai Bandung Bondowoso yang harus membuat candi dalam semalam,” kata Muji Lestari S.E., M.M, produsen kantong tanam di Tangerang, Provinsi Banten.

Muji mengatakan, Sultan Dubai memesan kantong tanam superjumbo itu untuk membuktikan perasaan sayang kepada permaisurinya. Itu mirip kisah dibangunnya Taj Mahal di India. Sultan akan membawa pohon zaitun dari Spanyol ke istana secara utuh untuk permaisuri. Muji mengerahkan puluhan pekerja untuk membuat produk yang belum pernah dibuat oleh perusahaan miliknya.

Muji Lestari pionir produsen kantong tanam di tanah air.

Muji Lestari pionir produsen kantong tanam di tanah air.

Semula karyawan
Muji turun tangan mengawasi proses pengerjaan kantong tanam itu. “Pokoknya pesanan istimewa itu tidak boleh mengecewakan, apalagi itu untuk orang sekelas Sultan Dubai,” ujar Muji. Bukan pekerjaan yang mudah bagi Muji. Namun, jika produk itu berhasil memuaskan klien, jalan yang mulus untuk menembus pasar negara di tengah gurun pasir itu terbuka lebar. Ia membentuk kelompok kerja khusus beranggotakan 20 pekerja untuk menyelesaikannya.

Perempuan kelahiran Tangerang, Banten, 40 tahun lalu itu pun mampu menyelesaikan kantong tanam itu. Ia segera membawanya ke bandara Soekarno Hatta karena sebuah pesawat khusus siap membawanya ke Dubai. Kerja keras Muji berbuah manis, Sultan sangat puas dengan kualitas kantong tanam itu dan pemasaran di Dubai semakin lancar. Kisah tak terlupakan itu salah satu peristiwa penting selama Muji menjalankan perusahaan kantong tanam.

Baca juga:  Debut Perdana Eragon

Nama perusahaan bikinan Muji, PT Wanghort Pratama Lestari. Perusahaan itu pionir produsen kantong tanam di tanah air. “Selama sepuluh tahun ini, belum ada perusahaan dengan produk serupa di Indonesia,” ujar Muji. Menurut Muji itu dapat dipahami karena para petani lokal baru mengenal dan menggunakan kantong tanam sejak 2014. Wanghort memang memfokuskan produks untuk pasar ekspor.

Tabulampot jambu madu deli hijau memanfaatkan kantong tanam.

Tabulampot jambu madu deli hijau memanfaatkan kantong tanam.

Pasar lokal baru tergarap sejak 2015 saat permintaan sudah mulai banyak. Kini ia memiliki 2 pabrik di Pasarkemis, Tangerang, Banten, dan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Perusahaan itu beromzet Rp2,5 miliar per bulan. Semula Muji karyawan bagian produksi di sebuah pabrik terpal plastik di Curug, Tangerang, pada 2007. Ia bekerja 8 tahun di perusahaan itu saat sang pemilik berencana memindahkan pabrik ke Kabupaten Bogor.

Muji terpaksa berhenti karena tidak dapat mengikuti kepindahan lokasi kerja. Alasannya Muji tinggal di Cikupa, Tangerang, dan baru memiliki bayi. Ketika berhenti bekerja itulah seorang koleganya memesan kantong tanam. Namun, Muji menyarankan agar koleganya di Australia itu menghubungi perusahaan. Sayang, saran itu tak diterima. Pada akhirnya kolega itu mengajak Muji untuk bekerja sama memproduksi kantong tanam.

Perusahaan modal asing
Melihat peluang bisnis yang cerah itu, Muji segera menyanggupinya. Pada September 2007, Muji bersiap memproduksi pesanan dari Australia itu. Ia membeli perlengkapan produksi berupa beragam mesin bermodal Rp1,5 miliar. Semua mesin bekas karena menyesuaikan dengan modal. “Paling besar untuk menyewa bangunan pabrik seluas 7.000 m² di kawasan industri Cikupa, Tangerang,” kata Muji.

Muji Lestari bersama Mr. Graeme Logan dari Logan’s Nurseries Brisbane Australia yang setia memakai kantong tanam Wanghort.

Muji Lestari bersama Mr. Graeme Logan dari Logan’s Nurseries Brisbane Australia yang setia memakai kantong tanam Wanghort.

Sambil mengurus izin ekspor, Muji memproduksi pesanan kantong tanam. Lantaran izin ekspor belum kunjung terbit, ia mengekspor ke Australia secara under name alias meminjam nama perusahaan lain. Izin ekspor secara resmi pun akhirnya turun pada April 2008 dengan nama perusahaan Wanghort Pratama Lestari. Bisnis kantong tanam makin berkembang karena sambutan konsumen di luar negeri sangat bagus.

Baca juga:  Sarjana Hukum Berkebun Sayuran

Itulah sebabnya makin banyak permintaan dari rekan kerja di Australia. Muji mendapat target produksi 2 kontainer per bulan setara 60.000 buah kantong tanam ukuran standar 100 liter. Angin segar kembali berembus pada pertengahan 2009. Mitra Muji mengatakan bahwa pasar Australia dan Selandia Baru juga memerlukan pasokan kayu untuk keperluan ajir tanaman perkebunan.

Wanghort memproduksi kantong tanam dengan berbagai ukuran sesuai kebutuhan para pehobi.

Wanghort memproduksi kantong tanam dengan berbagai ukuran sesuai kebutuhan para pehobi.

“Saya langsung teringat potensi hasil kayu di Gunung Kidul, Yogyakarta, dan langsung menyanggupi memasok saat mereka menawarkannya,” ujar Muji. Beruntung, Muji memiliki saudara yang bergerak di bidang furnitur di Kabupaten Gunung Kidul. Dari situlah ia meminta bantuan untuk membuat contoh ajir berbahan kayu mahoni. Sebulan kemudian Muji berangkat ke Australia menemui calon pembeli ajir itu.

Lagi-lagi konsumen di benua Kanguru itu menyukai kayu ajir buatan Muji. Ia langsung mendapat pesanan 1 kontainer ajir senilai US$23.000 Untuk memenuhi permintaan itu, Muji menyewa bangunan dan alat pemotong kayu di Wonosari, Gunung Kidul. Pada Juli 2010 Muji mengekspor perdana ajir. Menurut Muji ekspor perdana itu mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah Kabupaten Gunung Kidul.

Kebun-kebun di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat sudah sejak 30 tahun lalu menggunakan kantong tanam.

Kebun-kebun di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat sudah sejak 30 tahun lalu menggunakan kantong tanam.

Bupati Gunungkidul pada waktu itu, almarhum Sumpeno Putro, melepas perdana rombongan kontainer dari area pabrik. Ia berharap agar potensi daerahnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan dan kehidupan warga. Keberadaan perusahaan itu juga mengurangi pengangguran. Sebab perusahaan menyerap 50 warga di sekitar pabrik. Perkembangan pesat Wanghort terjadi pada 2014.

Baca juga:  Pembuat Cantik Alami

Berpisah
Jika pepatah mengatakan bercerai akan runtuh, hal itu justru berlaku sebaliknya. “Kerja sama antara Wanghort dengan rekan bisnis di Australia harus berakhir karena sang pemilik menderita penyakit kanker dan tidak ada yang meneruskan jalinan bisnis kami,” ujar Muji. Namun, dari situlah produk kantong tanam dan ajir Wanghort mendunia. Ia dapat dengan bebas menjual ke konsumen tanpa harus tergantung peran perantara antara produsen dan konsumen.

Penyebaran Kantong Tanam

Penyebaran Kantong Tanam

Semula Australia dan Selandia Baru menjadi pasar utama. Lalu pemasaran merambah ke negara-negara di belahan Bumi utara seperti Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Jepang, negara-negara di Timur Tengah, dan sebagian negara di benua Afrika. Saat ini Timur Tengah menjadi pasar utama produk Wanghort. Permintaan pasar pun meningkat pesat. Dari yang semula hanya 2 kontainer setiap bulan, kini Wanghort mengirimkan 10 kontainer kantong tanam per bulan.

Pelaku agribisnis luar negeri menyukai ajir dari kayu karena ramah lingkungan.

Pelaku agribisnis luar negeri menyukai ajir dari kayu karena ramah lingkungan.

Menurut Muji pelaku agribisnis tanah air baru menggunakan kantong tanam pada 2015. “Padahal, saya sudah mulai mengenalkan produk itu sejak 2013. Namun, jangankan dijual dengan harga murah, konsumen malah menolak dengan alasan masih lebih suka menggunakan pot atau drum,” kata Muji. Permintaan di pasar domestik meningkat setelah pelaku agribisnis mengunggah foto tanaman di kantong berbuah lebat.

Kini, pemasaran kantong tanam Wanghort 90% untuk ekspor dan 10% untuk konsumsi lokal. Menjadi pebisnis menuntut pengorbanan. Muji harus menjalankan 2 peran sekaligus dalam keluarga. “Memang cukup dilematis. Perempuan harus memilih antara total menjadi pengusaha atau menjadi ibu rumah tangga. Saya memilih menjadi pengusaha, karena dengan menjalankan bisnis masih bisa mengurus keluarga,” ujarnya.

Muji Lestari mengunjungi langsung pembeli ajir kayu produksinya di luar negeri untuk memperkuat kerja sama bisnis secara personal.

Muji Lestari mengunjungi langsung pembeli ajir kayu produksinya di luar negeri untuk memperkuat kerja sama bisnis secara personal.

Ada konsekuensi yang harus dijalani menjadi seorang pengusaha, antara lain berkurangnya waktu bersama keluarga. Ia mengatakan, dalam sebulan dapat sepekan sekali melakukan perjalanan ke luar kota. Setiap kali perjalanan memerlukan waktu sekitar 3 hari. Muji menyiasati untuk selalu berhubungan dengan keluarga melalui berbagai perangkat telekomunikasi.

Dari situlah ia dapat memantau perkembangan prestasi putranya dan berinteraksi dengan sang suami. Jika tidak sedang ke luar kota, maka akhir pekan adalah waktu khusus untuk keluarga untuk rekreasi atau sekadar berkumpul bersama. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d