Pinang Unggul Pertama

Pinang betara lebih produktif dari pada jenis mancanegara

Pinang betara lebih produktif dari pada jenis mancanegara

Pinang betara menghasilkan 44 kg buah matang per tahun. Pinang lain hanya 16 kg.

Matahari belum terlalu terik ketika Mardi menjumpai tamu berperawakan tinggi dan berhidung mancung. Pekebun pinang di Desa Bungatanjung, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, itu tengah menjual hasil kebun kepada pembeli dari India. India dan Pakistan memang tujuan utama ekspor pinang Indonesia. Masyarakat daratan Hindustan menggunakan pinang antara lain untuk kudapan, pewarna tekstil, dan obat tradisional.

Dengan pemanfaatan luas itu, wajar kebutuhan mereka terhadap buah Areca catechu itu tinggi. Untuk meredakan dahaga mereka, masyarakat India mengandalkan penghasil utama pinang di dunia, antara lain Indonesia, Malaysia, dan Myanmar. Salah satu sentra penghasil pinang Indonesia adalah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Unggulan absen
Menurut data Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian perkebunan pinang di sana menyebar di 9 dari 10 kecamatan dengan luas areal 8.300 ha. Dari lahan itu produksinya 12.266 ton kernel kering. Itu berarti produktivitas tahunan pohon berumur 10 tahun hanya 1,48 kg per pohon. Jika dikonversi, kernel alias biji kering sejumlah itu dihasilkan dari 8,3 kg buah matang.

Menurut Mardi, harga pinang berfluktuasi. Harga pada Juli mencapai Rp18.000, tetapi pada September turun menjadi Rp8.000—Rp9.000 per kg. Penyebabnya produksi kebun menurun pada Juli—September. Hasil buah pinang kembali meningkat pada bulan November.
Untuk memasarkan pinang, selama ini Mardi tidak menghadapi kendala karena pengepul tidak mematok target minimal. Sayang, produksi pinang di lahan Mardi rendah, hanya 600 kg kernel kering per ha alias 3,37 kg buah per pohon.

Meskipun demikian, dari lahan 1,5 ha Mardi memperoleh 900 kg kernel kering per tahun. Dengan harga minimal Rp8.000, omzetnya Rp7,2-juta. Rendahnya produksi juga disebabkan absennya varietas pinang unggul. Sejak proklamasi kemerdekaan, pemerintah belum pernah merilis satu varietas pinang pun. India yang membeli pinang dari Indonesia malah sudah melepas beberapa varietas pinang unggul.

Pembuatan parit penting untuk pemenuhan kebutuhan air

Pembuatan parit penting untuk pemenuhan kebutuhan air

Tinggi produksi
Peneliti di Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain (Balitpalma), Ir Miftahorrachman lantas berinisiatif memperoleh pinang unggul dengan cara pemuliaan. Sebagai sumber plasma nutfah, ia mengamati populasi pinang di Tanjung Jabung Barat pada 2007—2009. Musababnya, “Penduduk di sana turun-temurun menanam pinang,” kata Miftah. Sentra pinang terpusat di Kecamatan Betara, yaitu di Desa Makmurjaya (498 ha), Teluksialang (252 ha), Seigebar (241,3 ha), Bungatanjung (211 ha), dan Serdangjaya (59 ha).

Dari semua desa itu, periset alumnus Universtias Sam Ratulangi itu memfokuskan perhatian pada populasi pinang di Desa Bungatanjung karena produktivitasnya paling tinggi dibanding daerah lain. Miftah mengidentifikasi dan mengevaluasi pohon pinang di lahan seluas 211 ha di Bungatanjung pada 2009—2012. Selama itu ia mengidentifikasi berbagai sifat yang menggambarkan keunggulan tanaman.

Sifat-sifat itu antara lain jumlah daun di mahkota lebih dari 7 lembar, jarak antarruas batang dekat, dan memiliki tangkai tandan pendek dan kekar sehingga kokoh menyangga buah. Setiap tahun pohon mesti menghasilkan minimal 4 tandan dengan produksi 100 buah per tandan. Bentuk buah yang baik membulat atau bulat telur, biji bulat. Pohon juga harus bebas serangan hama dan penyakit.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x