Josia Lazuardi menanam 170 durian musang king. Sebanyak 25 pohon di antaranya berbuah pada umur 4 tahun.

Josia Lazuardi memilih musang king karena terbukti kualitasnya dan pasarnya menjanjikan.

Josia Lazuardi memilih musang king karena terbukti kualitasnya dan pasarnya menjanjikan.

Ratusan pohon akasia Acacia mangium semula menghuni lahan seluas 2 hektare itu. Namun, kini lahan itu bersalin wajah. Sebanyak 170 pohon durian musang king tampak berderet rapi. Umur pohon Durio zibethinus itu bervariasi. Pemilik lahan, Josia Lazuardi, menanam 25 pohon pada Desember 2010. Selebihnya petani di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menanam secara bertahap pada 2012—2015.

Josia memperoleh bibit musang king dari seorang importir bibit tanaman buah dan tanaman hias. Rekanannya itu mendapatkan bibit musang king dari negara asalnya, Malaysia. Josia memilih varietas itu karena musang king sohor secara internasional memiliki rasa yang sangat enak. Durian itu bahkan menjadi komoditas ekspor Malaysia ke Tiongkok.

Selektf varietas
Josia menuturkan, “Berkebun durian itu mahal. Oleh sebab itu saya memilih varietas yang sudah terbukti kualitasnya dan pasarnya menjanjikan.” Sebetulnya jumlah bibit musang king yang ditanam Josia sebanyak 40 bibit. “Cuma 15 bibit lainnya mati,” ujar Josia. Harap mafhum, bibit yang dibeli terlalu muda, hanya terdiri atas 5 daun. “Apalagi diangkutnya pakai kontainer,” katanya.

Josia mengebunkan 170 pohon musang king.

Josia mengebunkan 170 pohon musang king.

Josia menanam bibit musang king itu dengan jarak tanam bervariasi. “Jarak tanam disesuaikan dengan kondisi lahan,” ujarnya. Di lahan itu sebelumnya sudah tumbuh durian jenis lain yang ia tanam setahun sebelumnya. Pada penanaman berikutnya barulah Josia mengatur jarak tanam seragam, yaitu 10 m x 10 m. Artinya, untuk sehektare lahan hanya dapat menampung maksimal 100 pohon.

Alumnus Universitas Trisakti itu mengebunkan musang king secara intensif. Ia menanam musang king pada lubang tanam yang tidak terlalu besar. Pasalnya, bibit ditanam di dalam polibag berdiameter 7 cm. Sebelum menanam ia menaburkan 2 genggam dolomit dan 2 sendok makan fungisida berbahan aktif karbofuran. Itu untuk mencegah penyakit tular tanah akibat cendawan.

Baca juga:  Berbuah Perdana Umur 2 Tahun

Josia mulai memupuk setelah bibit bertunas baru, dua pekan kemudian. Pada pemupukkan awal ia menyemprotkan pupuk daun ke seluruh tajuk setiap dua pekan. Tujuannya untuk menggenjot pertumbuhan vegetatif. Pria yang juga berternak lebah klanceng itu juga memberikan pupuk NPK setiap 3 bulan sekali. Dosis tergantung umur tanaman setelah tanam.

Rangsang buah
Ketika awal tanam Josia hanya memberikan 2 sendok makan pupuk NPK berimbang (16:16:16) di sekeliling tanaman di bawah tajuk. Semakin bertambah umur pohon dosis pupuk meningkat. Pada umur 1—2 tahun Josia memberikan segenggam pupuk NPK, umur 3—4 tahun 2 genggam, dan umur 5 tahun 5 genggam.

Josia melakukan seleksi buah dengan menyisakan 1 buah pada setiap cabang.

Josia melakukan seleksi buah dengan menyisakan 1 buah pada setiap cabang.

Penyemprotan fungisida setiap bulan saat kemarau untuk mencegah serangan hama dan penyakit tanaman. Saat musim hujan frekuensi penyemprotan menjadi setiap dua pekan. “Pada saat musim hujan biasanya rawan serangan cendawan sehingga harus lebih sering disemprot fungisida,” tuturnya. Sementara insektisida disemprotkan saat terjadi gejala serangan seperti daun berlubang atau terdapat gerombolan kutu putih di beberapa daun.

Untuk penyiraman Josia mengeluarkan biaya mahal karena harus menyedot air dari danau yang berjarak 300 m menggunakan pompa. Danau itu sebelumnya bekas galian pasir. Lama-kelamaan bekas galian pasir itu menampung air hujan sehingga terbentuk danau. “Saya lebih baik mengeluarkan investasi besar di awal daripada saya harus membayar tenaga kerja saat kemarau hanya untuk menyiram tanaman,” ujar Josia.

Di ujung pipa ia memasang kran yang nantinya tersambung ke selang-selang penyiraman. Penyiraman hanya saat kemarau. Pada 2014 saat pohon berumur 4 tahun, Josia merangsang buah dengan cara stres air pada saat kemarau. “Saya memperkirakan pada umur itu musang king mulai belajar berbuah,” ujarnya. Ia menghentikan penyiraman maksimal selama 2 bulan.

Respons terhadap perlakuan itu berbeda-beda. Pada pohon yang sudah siap berbunga, sebelum masa stres air berakhir di percabangan mulai tampak “mata kepiting” alias bakal bunga. Pada saat itulah Josia menghentikan stres air dengan kembali menyiram pohon dan mulai memberikan pupuk NPK berkadar fosfor tinggi. Dosis dan cara pemberian pupuk sama dengan ketika pemberian pupuk daun.

Baca juga:  Tanam Sayuran Sepanjang Pagar

Buah manis
Dari 25 pohon berumur 4 tahun, hanya 12 pohon yang berbunga. “Kalau saat stres air tanaman tidak berbunga, berarti pohon memang belum siap berbunga. Setelah 2 bulan stres air pohon langsung disiram. Jika lebih dari 2 bulan tidak disiram maka pohon akan mati,” tutur Josia. Sayangnya pohon yang berbunga seluruhnya gagal menjadi buah karena rontok. Pada musim kemarau 2015 Josia kembali merangsang bunga dengan stres air.

Hasil perangsangan itu enam pohon berbuah. Saat buah berukuran sebesar kelereng, Josia mulai menyeleksi. “Pentil berukuran kecil pada setiap dompolan saya buang,“ ujarnya. Pada seleksi buah terakhir, Josia hanya menyisakan 1 buah pada setiap cabang yang berbuah. Ia mempertahankan rata-rata 5—6 buah per pohon yang letak tumbuhnya paling dekat dengan batang utama.

“Buah di ujung cabang saya buang karena pasokan nutrisi untuk buah terlalu jauh sehingga pertumbuhan buah tidak akan optimal,” ujarnya. Lagi pula pohon baru belajar berbuah. Josia khawatir jika buah perdana terlalu banyak khawatir tanaman akan merana setelah selesai masa berbuah. Jika tanpa seleksi, sebuah pohon menghasilkan 20—30 buah. Pada Januari 2016 buah musang king di kebun Josia matang. Bobot buah rata-rata 1,5—2 kg.

Pehobi durian asal Jakarta Selatan, Adi Gunadi, mencicip musang king dari kebun Josia. Menurut Adi tekstur buah mirip dengan musang king asal Malaysia, yaitu lembut dan terasa lengket di lidah. Warna daging buah juga atraktif seperti di negara asalnya. “Rasanya sudah ada pahitnya. Sudah enak untuk buah dari pohon yang baru belajar berbuah,” ujar pria yang pernah mencicip musang king di 6 negara bagian Malaysia itu.

Karena jumlah buah masih terbatas, ia menjual buah dengan cara lelang di media sosial. Dari lelang itu ia memperoleh harga tertinggi Rp525.000 per buah. Dengan hasil itu Josia yakin pada musim buah berikutnya kualitas buah akan meningkat seiring bertambahnya umur pohon. “Tapi tentu saja perawatannya tidak boleh kendor,” ujarnya. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments