Lain padang lain belalang. Lain kandang lain sarang. Pepatah itu ternyata berlaku juga dalam beternak semut rangrang. Ada beberapa bahan kandang yang dipakai peternak untuk pelihara serangga penghasil kroto itu.

539_ 25-131. Potongan bambu
Peternak semut memanfaatkan bambu karena mudah didapat dan murah. Sayang, di sarang bambu peternak sulit memanen telur dan sulit mengetahui secara tepat kondisi di dalam kandang karena gelap.

539_ 25-112. Stoples 1 kg
Stoples ukuran 1 kg tembus pandang, semua aktivitas dalam stoples dapat dipantau. Peternak dapat memantau kondisi telur, populasi semut, dan menyeleksi semut yang produktif. Bila telur di dalam stoples banyak, maka semut di dalam dikategorikan produktif. Bila hasilnya mengecewakan, maka semut itu diapkir, dan tidak dijual.

539_ 25-103. Potongan pipa polivinil klorida 1,5 inci
Pipa PVC efisien tempat lantaran bisa ditata sangat rapat sehingga volume tinggi. Semut-pun menyukainya sehingga dalam 1 hari siap merangkai sarang. Dalam 2—4 pekan, bisa panen 30—50 g telur. Cara panen pun mudah. Hanya dengan membuka kedua penutupnya, kroto pun akan berjatuhan dan ditampung dalam wadah. Pipa kemudian dibersihkan dengan mencuci dan membuang sisa sarang lalu dilap. Siap diletakkan kembali di sarang.

539_ 25-94. Stoples 10 kg
Peternak di Yogyakarta banyak memakai wadah itu. Namun, wadah itu juga menjadi pengganti rak karena mampu menampung 4—5 stoples kecil. Bisa juga wadah itu yang dipakai sebagai tempat beternak dengan menyusunnya bertingkat-tingkat. Dalam 1 stoples besar yang dimasukkan beberapa ratu, minimal 1 ratu. Dalam 4 bulan, sudah penuh dan siap dipanen. Setiap stoples bisa dijual Rp250—Rp1-juta, tergantung volume.***

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d