Bobontengan.

Bobontengan.

Di hutan, berbagai tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, baik dimakan segar sebagai lalap atau diolah dahulu. Menurut peneliti di Pusat Penelitian Botani LIPI, Cibinong, Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, bahan yang paling mudah dijumpai yaitu sayur paku Pteris edulis. Tumbuhan itu banyak di gunung dan di daerah bergambut. Agar siap konsumsi, pakis harus diolah. Bila tidak sempat mengolah, ada bahan segar yang dapat dimakan segar, yaitu pucuk muda palem Licuala spinosum atau nibung.

Karena pertumbuhannya lambat, Tukirin mengingatkan untuk hanya menebang palem dalam kondisi darurat. Peneliti utama bidang ekologi tanaman itu menyebutkan, tumbuhan di alam yang bisa dimakan biasanya mempunyai daun muda yang warnanya tidak mencolok. Permukaan daun tidak berbulu, seratnya lunak, dan lembut. “Pada dasarnya, daun muda tumbuhan tidak beracun sehingga bisa dikonsumsi ketika kehabisan bahan makanan. Yang beracun biasanya daun tua karena mengandung sianida,” ungkap doktor lulusan Universitas Kagoshima, Jepang itu.

Contoh sederhananya singkong. Kalau daun tuanya dimakan bisa mengakibatkan pusing. Namun, bila daun muda dikukus, tidak masalah. Buah-buahan justru berkebalikan. Buah muda justru memiliki kandungan racun tinggi. Kalau sudah tua, bahan racun itu berubah menjadi gula sehingga aman dimakan. Indikator lain ialah kondisi daun. Bila pada daun ada tanda-tanda bekas dimakan binatang, misal daun sobek, atau di buah ada bekas gigitan hewan, maka daun atau buah itu aman untuk dimakan.

Di Pulau Sumatera, tumbuhan yang daunnya banyak dimakan hewan adalah poh-pohan. Mulai dari serangga hingga kijang memakan daunnya. Manusia pun nyaman memakannya. Pada buah-buahan pun sama, bila ada bekas gigitan binatang berarti aman. “Binatang itu lebih sensitif dan identifikasinya tepat daripada manusia karena hidup di hutan,” ungkap Tukirin. Sementara itu, daun yang akan dilalap harus lunak dan tidak berlendir. Bila berlendir, harus dikukus untuk menghilangkan lendirnya.

Baca juga:  Bebaskan Saraf Terjepit

Selain itu, bahan yang rasanya terlalu terlalu asam dapat mengganggu pencernaan karena meningkatkan keasaman lambung. “Kalau pahit malah lebih aman, asal tidak terlalu pahit. Bila terlalu pahit, bisa jadi karena kandungan sianidanya tinggi. Secara umum daun yang rasanya tawar lebih aman,” ungkap mantan peneliti utama di Bidang Botani di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong itu. (Syah Angkasa)

Tags: bobontengan, makanan hutan, trubus

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d